Darah Terkutuk!

1432 Kata
(Kediaman Tumenggung Kadipaten Tarang.)   Indah Chakravati usai bersolek di depan cermin kamar mewah. Wanita itu menoleh ke pintu ketika suara anak semata wayangnya, memanggil, “Bunda! Ada tamu!”  Dengan kerudung dan baju batik ala dinas, ia menaruh lipstik di meja rias. 'Apakah segenting ini ya rapatnya? Sampai-sampai dari Kraton utama menjemput?' pikirnya membuka pintu. Puteranya yang masih belia, menanti di sana. “Bunda mau rapat dulu, nanti kamu pintu kuncinya ya? Bunda sudah masak, lauknya di lemari.”   Bocah berkaos hitam dengan celana pendek, mengangguk.   Langkah Tumenggung Tarang yang tadi sempat terburu, kini melamban, dan berhenti. Ia diam ketika seorang pria tengah duduk santai di sofa berukirkan duan pepaya.   “Hallo, Nyonya Chakravati... Senang bertemu denganmu di sore yang indah ini.” Yo tersenyum sembari mengisap rokok. “Kau?” Indah menaikan alis kanan. “Maaf... Tapi ada rapat yang harus saya hadiri.” Indah, melangkah menuju pintu. “Maksudmu, rapat antara Tumenggung di Senlin?” Lelaki cepak dengan uban bertanya menghadap lurus, mata sipitnya melirik ke arah Indah.   Melirik balik, Indah hening. Ia sedikit menunduk, lanjut menggulirkan mata ke kanan dan kiri. “Kau!” “Ya! Aku yang meminta para Tumenggung untuk berkumpul di Senlin.”Si Tua Yo bangkit menghampiri Indah. Langkahnya santai. “Nyonya Chakravati... Kau adalah wanita yang teguh dalam pendirian. Loyalitasmu terhadap Raja, tak patut di pertanyakan. Jadi, jika aku memberi tawaran padamu, sudah pasti... Jawabannya tidak, kan?” Indah, menghadapkan badannya pada pria tua beruban. “Kau... Katakan apa maksudmu!” “Sudah sekian lama... Manunggal dipimpin dengan sistem kerajaan. Karenanya, hukum kasta jadi hakim negeri ini. Mereka yang bukan darah ningrat, tak pernah bisa menikmati singgasana seorang penguasa. Apakah itu adil?” “Ta-”  "Shhhs..." Yo, mendesis memotong. “Tapi mereka yang giat berusaha dan jujur dalam mengabdi, akan dijadikan b***k istana. Ah, maaf. Maksudku Pegawai Negeri Manunggal. Tetap saja, mereka harus berjerih payah dulu.” “Jangan-jangan... Benar, kau yang selama ini berniat melengserkan Prabu Paku Utomo?” “Yah, jika itu sebutannya, aku anggap sebagai iya.” “Beraninya kau!” Indah, mendekati Yo, mencengkeram kerah depan kemejanya. Menghela napas, Yo tersenyum. “Sekarang langsung saja. Di mana kitab Wayang Pancer yang leluhurmu wariskan. Setelah itu, akan aku bawa kau ke tempat rapat secara baik-baik.” Indah, sigap membanting Yo ke lantai.   Blak!   Belum puas, ia menginjak perut pria bermata sipit itu. “Raja Paku Utomo akan segera membuangmu!” Usai terbatuk kesakitan, Yo tertawa lirih. Makin lama, makin menggema.  Hal itu, membuat Indah yang sedang merogoh ponsel untuk mengabari Kraton Utama, terdiam. “Apanya yang lucu?”   Menggeleng, Yo menjentikkan jari. “Dasar wanita keras kepala!”   Tep!   Sesosok pria bertopeng cepot hitam, lengkap dengan busana ala ninja, menutup mulut Indah dari belakang. Sarung tangan mengandung obat bius, ditempelkan ke hidung Indah. Wanita itu, ambruk setelah rontanya gagal.   *** (Padepokan Gajah Putih,Kadipaten Cidewa Hideung) Ki Ageng Jagat, Raden Irawan, dan Gus Armi duduk melingkar. Mereka tengah menikmati kopi di malam hari. “Indah belum membalas pesanmu, Mbah?” Gus Armi bertanya, menatap Ki Ageng Jagat yang sibuk mengoperasikan ponsel.  “Masih belum. Entah kenapa perasaan saya, cemas.” Ki Ageng Jagat, meletakan ponsel di samping kakinya yang bersila.   “Sore tadi, Ayah bercerita bila Tumenggung Senlin dan Tumenggung Sunyoto, diserang oleh orang-orang bertopeng Cepot hitam.” Raden Irawan menunduk menatap kopi hitamnya.   Gus Armi, melirik ke kanan dan kiri. “Senlin juga?”   Ki Ageng Jagat menanggap, “sepertinya... Panggung sandiwara para manusia serakah, sudah kembali digelar.”   “Dan lagi, di antara semua kaliwon Manunggal, hanya William yang diserang oleh mereka secara terang-terangan.” Gus Armi menoleh cepat, “lalu bagaimana keadaanya?” “Pendekar muda bernama Adnan, yang mengikuti Sayembara, berada di sana. William hanya mengalami sedikit luka gores di lengan dan kaki.” “Raden... Tolong besok kau kawal William di kediaman Kaliwon Senlin, ya? Awasi keadaan sekitar William. Jika ada yang mencurigakan, segera kabari kami.”   Mengangguk, Raden Irawan tegang. “Sendiko, Gus Armi.”   "Den... Mengenai keputusan Ayahmu itu, apakah ditunda lagi?"   Raden Irawan mengernyitkan kening. "Mengenai apa, Gus?"   "Penangkapan Kaliwon Yo atas perbuatan ilegalnya menjelang Sayembara lalu."   "Itu... Saya tidak berani bertanya, Gus..."   Ki Ageng Jagat menghela napas. "Yo kembali mendapat dukungana sebagai pembongkar kedok Sang Arjuna Merah. Jadi mungkin, Prabu Paku Utomo masih akan menunda penangkapannya." *** (Beberapa jam yang lalu, Ngarai Hitam Kadipaten Tarang.)   Ni’mal bangkit dibantu Agni. Rahaf sigap menahan tubuh Ni’mal yang lunglai tak mampu berdiri sendiri. “Lain kali, datanglah lebih cepat, ya!” ucap Ni’mal mengacak rambut Rahaf. Tangan kirinya, mengusap tudung jubah di kepala Agni.   “Ish! Ini pakaian bukan kain lap!” cetus Agni. Mereka memapah Ni’mal perlahan.  Hingga Azizah, lirih bangkit dari kubangan. Tubuhnya basah oleh air. Tak seperti Rahaf yang terus berjalan memapah Ni’mal, pemuda berjaket hitam dan gadis berjubah hitam, justru menoleh ke arah Azizah. Gadis yang sedang mereka perhatikan, berdiri dengan kedua mata terpejam. “Dia... Kawanmu juga?” Agni bertanya.   Ni’mal tak menjawab. Kedua netranya menajam fokus. 'Dia... Kenapa aku seperti melihat kepulan asap hitam di sekitarnya?'   Agni cepat merogoh kerambit dari balik jubah. “Dia pengguna parewangan sepertiku, ya? Apa Kak Ni’mal tidak membunuhnya tadi?”   Melepaskan pegangan Rahaf, Ni’mal memegang pundak Agni. “Tidak. Dia gadis yang merawatku ketika aku terluka di pelosok Tarang.”   Azizah menaikkan kedua ujung bibir. Matanya terbuka, keduanya berwarna hitam kelam. Bak kerasukan, gadis tersebut terkekeh lirih.   “Lalu... Apa dia juga berkepribadian ganda sepertimu?” Agni bertanya serius.   Rahaf, tersenyum masam. 'Haih! Baru ketemu masih saja bermulut pedas.'   Cincin akik di tangan Ni’mal kembali menyala hijau tosca. Begitu pun dengan ukiran aksara jawa pada pedang Azizah yang tergeletak di tanah. 'Dia... Ah! Apa mungkin... Dampak dari darah makhluk tadi yang meresap masuk ke dalam kulitnya?'   Gadis dengan busana logam di dekat Lastri, mengambil posisi kuda-kuda. “Kalian! Jangan bergerak!  Dia... Beraura sama seperti dua makhluk tadi!”   Ni’mal melirik. 'Arya... Eka... Sama dengan mereka yang berwujud mengerikan... Apa maksudnya?'   Tap!   Dari atas batu yang terjal di belakang Lastri, sesosok gadis dengan selendang hijau tosca dan busana hitam, mendarat. Puspa, mata gadis berambut panjang itu tajam menatap Azizah. Tak seperti Agni dan Rahaf yang tersenyum, Ni’mal termangu memandang gadis bermata jeli. “Puspa?”   “Haaaark!” Azizah, berteriak. Suaranya memekik, memilukan telinga.  Membuat Ni’mal dan semua yang masih sadar, menutupi telinga. “Agni, Rahaf, bagaimana pun... Tolong jangan lukai dia... Sepertinya, dia hilang kendali karena darah Makhluk Hitam tadi...”   Mencibirkan bibir, Agni keberatan, “Kak, yang benar saja! Dia sepertimu waktu itu... Mana bisa kita sadarkan dia tan-”   Drapp!   Blug!   Azizah melesat melakukan tinju jarak jauh. Serangannya, telak mengenai Agni-membuat gadis berjubah hitam terlempar ke tebing. Cepat menoleh ke arah Azizah, Ni’mal menajamkan pandangan. Ia cukup tenang karena menyadari bila Agni hanya sedikit terluka, atau mungkin pingsan.   Saat Azizah kembali melakukan tinju jarak jauh, Rahaf sigap membuat perisai transparan.   Daang!   Melihat serangannya gagal, Azizah menoleh ke arah gadis di samping Lastri.  Pemuda berjaket hitam merah mencoba meluncur cepat. Tetapi kedua kakinya terlalu lemas untuk digerakkan. Alhasil, ia hanya berteriak, “awas!”   Blug!   Menjerit, gadis berbaju besi itu terpental ke arah tebing. Seketika, tak sadarkan diri. Saat Azizah hendak mengincar Lastri, Puspa cepat melesat. Ia, membopong-membawa gadis berbaju besi itu, lalu melompat ke samping Rahaf.   Brall!   Bebatuan di mana Lastri barusan terbaring, seketika remuk oleh tinju jarak jauh Azizah. Ni’mal, mengadu deret gigi atas dan bawah kuat-kuat. 'Apa yang harus aku lakukan!'   “Raganya dikuasai oleh hal lain. Kita harus buat dia tak sadarkan diri dalam satu kali serangan. Sebab jika gagal, aku khawatir dia akan makin marah.”   Ni’mal melirik ke arah Puspa yang lirih menurunkan tubuh Lastri ke bawah. 'Puspa... Apa yang telah kau alami? A-aku... Kenapa aku seperti melihat... Beban besar hanya dari sorot matamu?'   “Ni’mal... Kau siap?” menatap balik Ni’mal, Puspa sedikit tersenyum.   “Huk, uhuk!” Rahaf, jongkok. Ia mencoba mengatur napas, dengan tangan kanan menempel ke tanah. Menatap mantap Azizah, Ni’mal berkata pada Puspa, “jangan terlalu memaksakan diri, aku tak mau melihatmu terluka.”   Brall!   Sebuah ledakan bersumber dari tubuh Agni, membuat Puspa, Rahaf, dan Ni’mal, menoleh serempak. “Kalau Teh Puspa yang kasih saran, langsung mengiyakan. Kalau yang lain kasih saran, harus sampai bonyok dulu pun belum tentu di-iyakan.” Gadis berjubah hitam itu, menepuk-nepuk badan yang berdebu, lalu berjalan mendekati Ni’mal. “Dasar Kak Ni’mal menyebalkan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN