bc

Kisah Negeri Manunggal II, Peninggalan Nusantara

book_age16+
209
IKUTI
2.2K
BACA
fated
heavy
male lead
sword-and-sorcery
magical world
high-tech world
harem
kingdom building
spiritual
ancient
like
intro-logo
Uraian

Akankah ramalan kehancuran Manunggal oleh Makhluk Hitam terbukti?

Ataukah manusia yang akan menghancurkan Manunggal lewat tangan mereka sendiri?

Setelah mengerti sepenuhnya bila ia adalah Sang Arjuna Merah, Ni'mal yang telah kehilangan Sang Kakek pun kini mencoba mencari sosok berjuluk Arjuna Putih. Selain mencoba memenuhi permintaan terakhir Sang Kakek, takdir Sang Kuasa turut menuntunnya menemukan mereka yang disebut sebagai Bocah Takdir.

Selain itu, Empat Makhluk Penjaga Manunggal berjuluk Sura, meminta Ni'mal untuk mengambil dua buah pusaka yang sejatinya merupakan peninggalan negeri di luar Manunggal-Nusantara, demi mencegah kebangkitan Sang Malkika Hitam.

Berhasilkah Ni'mal memimpin mereka menjadi penghancur kutukan Manunggal?

chap-preview
Pratinjau gratis
Terulangnya Mimpi Buruk!
"Kyahahaha!" Ni'mal, kini menodongkan cincin akiknya pada Nasril. Sebab hanya dia yang masih membuka mata sambil meringis kesakitan. Sedang Srikandi, singa biru, dan Nusa, tak sadarkan diri. Saat Ni'mal hendak menembakan sinar api, Mbah Purwadi, muncul dan menendang tangannya, sampai cincinnya lepas-terlempar dari tangan. Blaaak! Menoleh ke kanan, Ni'mal menajamkan mata. “Kau! Si tua bangka!” Menarik napas dalam, sang leaki tua berbusana hitam, membuka mata. “Ni’mal!” Suara teriak Mbah Pur, menggema di area stadium. Teriakan tersebut, membuat Nasril turut pingsan tak sadarkan diri. Ni'mal, memuntahkan darah untuk kesekian kali. Pemuda itu, nyengir memegangi punggung yang retak. "Baiklah, tua bangka." Ia, mulai mengepalkan erat tinju kanan. "Akan kuhancurkan kau, beserta tempat ini!" Ni'mal, mengayun pelan tangan kanan ke samping kiri, lalu membelakangkan tinju kiri ke pinggul. Suara geraman, terdengar dari tenggorokan. Saat Mbah Pur berlari cepat ke arahnya, ia berkedip, lalu muncul di sisi ujung lapangan. Melihat Mbah Pur mengubah haluan lari ke arahnya, Ni'mal kembali mengulang gerakan yang sama. Ia, terus menerus berpindah-pindah tempat saat coba didekati. Tinju kirinya, terasa begitu panas. "Hyaaahh!!" "Allohuma Laa ila ha illa anta, subhanaka inni quntumminadzolimin!" Mbah Pur merapal doa, menarik napas cepat lewat hidung, lalu lanjut berlari. "Wal Adiyati Dhobkha!" Tap tap tap tap tap tap! Ia melaju cepat, lalu mendaratkan sapuan tapak kanannya di leher Ni'mal. Blak!! Swuuung! Ni'mal terlempar, menabrak ujung dinding lapangan hingga temboknya hancur, beserta tribunnya. Namun, ia tetap tak keluar dari tribun, sebab sebuah perisai gaib tak terlihat. Usai menyerang, Mbah Pur bernapas lemah. Ia, gemetar. Pandanganya, perlahan kabur. "Aku sudah terlalu tua untuk banyak bertempur," ucapnya lemah, melangkah menghampiri sang cucu. "Sadarlah, Ni'mal!" Dari tribun yang semenjak tadi sepi, Kaliwon Yo dan lima puluh SM juga tiga PM, bersiaga datang. "Apakah pertarungan ini direkam dan disiarkan ke penjuru negeri?" tanya Kaliwon Yo pada seorang SM. SM berkulit gelap yang dulu bertemu dengan Ni'mal dan Puspa pada saat pesta pernikahan. Name tag di dadanya, Sebastian. "Masih Tuan," sahutnya menatap ke atas langit, di mana salah satu drone masih merekam pertarungan dari atas langit. Lelaki sipit, mengangguk. "Bagus." Ni'mal, menyingkirkan tumpukan beton yang menimpa kepala. Wajahnya, babak belur. Ia, perlahan memegangi lehernya yang tergeser sedikit, dengan kedua tangan. Klak! Ia membenarkan posisi tulang. "Usahamu, sia-sia saja, tua bangka! Akulah yang akan menumbangkanmu di sini!" Ni'mal berkedip, lalu berada di belakang. Mbah Pur. "Tinju... Dhasamuka!" Kedua mata dan mulut Mbah Pur terbuka lebar sembari membalik badan. 'Mustahil! Dia berhasil mengumpulkan energi alam besar dengan amarah yang mengendalikan!' Mbah Pur, ketika waktu seolah melambat, wajahnya yang panik, perlahan tersenyum lega. Dlammm!!! Ni'mal, berhasil mendaratkan tinju kanannya di perut Mbah Pur. Tanah berumput sekitar seketika retak, lalu amblas. Berubah menjadi cekungan luas. Beton-beton arena, bersama perisai gaib, hancur. Mbah Pur menyemburkan darah dari mulut, mata sayunya menatap Ni'mal yang masih menempelkan tinjunya di perut. Terbatuk darah, Sang Kakek tersenyum, mengelus lembut tangan kanan Ni'mal. Ngiiiiiiing! Selesai memukul, telinga Ni'mal berdenging hebat. Ia berkedip, mata berpupil merahnya, kembali jadi cokelat terang. Pandangan yang sempat samar, kini kembali jelas. Jantung Ni'mal, berdekup begitu cepat. Ia menyapu arena yang telah hancur jadi reruntuhan. Karena berada di cekungan, ia tak melihat PM dan beberapa SM yang sedang menolong Tuan Yo keluar dari reruntuhan. 'Apa yang terjadi?' Ia bernapas cepat, saat melihat kakeknya bersimbah darah. Ia, terjengkang duduk. Tangan kanannya gemetar hebat. "Ka-kakek?" "Uhuk! Uhuk! Ke-kemarilah, Thole," ucapnya serak. "Ka-kakek!" Ni'mal, membendung air mata. Ia mencium pipi sang Kakek, menangis di dadanya. "Ka-kakek! Apa yang terjadi kenapa ini! Bagaim-" "Sssst ... tenanglah, Thole," ucapnya lembut. "Ka-kakek!" Ni'mal menjerit, menempelkan wajahnya pada d**a sang kakek. "Uhuk ... uhuk ... kau ... sudah jadi pendekar sakti ya, Le." "Ka-kakek! Apa yang terjadi?" Ni'mal, menangis menatap wajah keriput Mbah Pur. "Wis. Ora opo-opo. Wis titiwancine Mbahmu iki balek marang sing nggawe urip, (Sudah waktunya Kakekmu ini kembali pada Sang Pencipta,) " ucapnya lemas. "Kakek, sanjang nopo tho! Kek!" Ni'mal menggoyang-goyangkan tubuh sang kakek pelan. "Ni'mal. Mbah mu iki arep ngomong, tolong dengarkan, yo? (Ni'mal. Kakekmu mau bicara, tolong dengar, ya?)" Terisak, Ni'mal mengangguk lirih. "Carilah Bapakmu. Jaka Bagus. Bergurulah padanya. Barangkali, sebentar lagi kam- uhuk! Kamu ... tak bisa berlatih dengan Gus Armi sementara waktu nanti." "Ka-kakek! Apa maksudnya, Kek?" Menepuk pelan kepala Ni'mal, sang Kakek tersenyum. "Amarahmu akan padam sesaat setelah terlampiaskan. Maka dari itu, kau tak bisa mengandalkannya jadi pegangan di setiap pertarungan." Ni'mal mendengar seraya menangis. Akalnya sadar, bila ialah yang membuat sang Kakek begitu. "Thole. Jadilah seseorang yang berguna bagi agama, dan bangsa. Lakukan anjuran yang Gus Armi sampaikan. Kamu sudah dewasa," ucapnya mengusap lemah air mata di pipi Ni'mal. "Yang kuat, Thole. Gusti Alloh akan selalu menyertai hamba-Nya," ucapnya dengan mata yang perlahan sayu. "Asyhadu alaa ila ha illalloh ... Wa asyhadu anna Muhammadarrosululloh," sebutnya sebelum menghembuskan napas terakhir. "Kek ... Kakek ... Kakek!" Ni'mal menggoyang-goyangkam tubuh Mbah Pur. Hingga dua belas pesawat drone dari langit, datang dan mengepung dari atas. Dua di antara dua belas drone, merekam Tuan Yo bersama para SM yang melangkah mendekat. Kaliwon Yo, sosok cepak bermata sipit tersebut, berbicara mendekatkan jam tangan hitamnya ke mulut. "Lihatlah! Wahai para penduduk Negeri Manunggal! Dialah Ni'mal! Cucu Sang Legenda yang menjadi penghianat! Dialah pendekar yang bekerja sama dengan bawahan Vajra yang lain!" Mendengar itu, Ni'mal berjalan naik dari cekungan besar. Langkahnya tergopoh membopong mayat sang kakek. Ia, bingung. Dilema mendengar dan menatap ucapan Tuan Yo. "Dialah Sang Arjuna Merah! Pendekar yang memimpin penyusupan dan pembunuhan Sang Putra Mahkota pertama dari Prabu Paku Utomo ke empat!" Ni'mal terdiam gemetar. Air mata mengalir membasahi pipi. "Dan di hari ini, aku! Selaku Kaliwon Utama Kadipaten Senlin, akan menangkap seorang Jawara yang ternyata adalah pembunuh Putra Mahkota!" 'Ni'mal, larilah ....' Suara Gus Armi, menggema di kepala. Masih dengan wajah penuh air mata dan darah, ia menoleh. Namun tak ada siapa pun di sana, selain mereka. Alhasil, Ni'mal berlari tergopoh membopong jenazah sang kakek. Ia berlari menjauhi Kaliwon Yo dan para SM juga PM. Belum jauh, tiba-tiba Gus Armi muncul di depannya. Hanya berjarak tiga meter. Sosok berbusana serba hitam itu, menghela napas. Membuat Ni'mal kembali dilema. Gus Armi berjalan pelan, menepuk pundak kanan Ni'mal. "Pengetahuan seiring diasah, akan jadi pengalaman. Seiring pengalaman, akan paham apa-apa saja yang perlu diperbaiki," ucapnya lembut. Ni'mal yang sempat berhasil membendung air mata, kini kembali menangis. "Sebesar bumi sekalipun dosa-dosamu, Alloh masih lebih besar dengan Maha Welas Asih-Nya... Maka sebab itu, jangan kau berkecil hati! Jangan kau bersedih hati! Manusia yang pesimis, niscaya jauh dari rahmat-Nya! Manusia yang jauh dari rahmat-Nya, niscaya jauh dari Ridho-Nya! Maka dari itu, yakinkan dirimu untuk menebus dosa-dosamu! Lakukanlah!" Termenung sejenak, Ni'mal kembali melanjutkan langkah saat para PM memberondongi dengan peluru. Sedangkan para SM, melaju cepat menyusul. Usai mengangguk sekali, Gus Armi mengambil mayat Mbah Pur. "Pergilah... Sekarang!" Ni'mal, dengan air mata bercucuran melanjutkan laju lari. "Haaaaaaaa!" Tap! Tap! Baron Saga Geni, dan I Made Zaen, mencegat Ni'mal dari depan. SM kelas atas itu, menoleh pada Zaen. "Sekarang!" Baron Saga Geni, melemparkan berondong bola api ke tanah di depan Ni'mal. Sedangkan I Made Zaen, memukul tanah, membuat Ni'mal terjatuh ke sebuah lubang yang tercipta tiba-tiba. *** "Gaaahh!" Ni'mal sontak mengambil posisi duduk. Ia yang terbangun dari mimpi buruk, mengeratkan kedua tinjunya yang lemah.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook