'Aku tak bisa berdiam seperti saat di tempat Gus Armi dulu! Aku... Harus segera bergerak!'
Ni’mal, beranjak dari ranjang tua. Kedua kakinya sempoyongan. Dengan langkahnya yang lunglai, ia menuju pintu.
Kriet...
Baru sebentar ia membuka daun pintu kayu, terdengar derap kaki seseorang melaju cepat di atas lantai papan.
Drap drap drap drap drap!
Menoleh ke kanan, Ni’mal melihat sesosok pria tua berkumis putih dengan tubuh yang cukup kekar, tampak dari lekuk badan yang menonjol di baju abu-abu. Sosok dengan rambut abu-abu bercelana hitam pendek itu, melayangkan tinju kanan.
Swuung!
Sesaat sebelum tinju itu telak mengayun-mendarat di dadanya, wajah yang Ni’mal saksikan berubah jadi wajah Mbah Pur. Hal itu membuatnya enggan bergerak, ia pun merem-pasrah jika harus terpukul.
Blag!
“Ugh!” Karena pukulan menyamping si pria tua, Ni’mal terdorong kembali masuk ke dalam kamar. Tersungkur lemas, memuntahkan darah.
“Heh! Ku kira kau ni pendekar sakti, di lihat dari luka sukmamu! Tapi nampaknye kau ni cuma pemuda yang beruntung karena selamat dari serangan fatal je!” ucapnya kesal. Pria berumur lima puluh lima tahunan itu, menghela napas kecewa.
menatap langit-langit kayu kamar, Ni’mal menarik napas berat. “Di mana...” Ni’mal bangkit perlahan, matanya tak gentar menatap seseorang yang baru menyerang. “Di mana ini sebenarnya?”
Sosok itu mendekati pemuda berjaket hitam merah, perlahan jongkok, menyetarakan tinggi kepalanya pada Ni’mal yang sudah terduduk lesu. Ia mengangguk lirih. “Lalu siapa kau ni? Kau tangguh, anak mude...”
Meski kakinya gemetar, Ni’mal bangkit dengan kedua tangan mencengkeram kerah kaos sang pria tua kekar. “Katakan... Di mana ini dan siapa Anda!”
Cet!
Sigap, sosok itu mencekik Ni’mal. “Di mana adabmu anak muda!”
Gubrak!
Ia, membanting keras tubuh Ni’mal ke lantai, lanjut menginjak perutnya.
Pemuda dengan jaket hitam itu pun, hilang kesadaran seiring matanya yang terpejam.
***
(Kadipaten Cidewa Hideung.)
Gus Armi, mengisap rokok di pagi hari. Matanya jernih, memandang hamparan pegunungan Cidewa Hideung dari bawah rindangnya pohon beringin. Di sampingnya, Ki Ageng Jagat turut menikmati kopi lempung khas pasundan.
Ki Ageng Jagat, menghela napas, mendiamkan rokoknya yang menyala. “Masanya... Hampir tiba. Awan gelap ini... Tak akan bisa di hindari...”
“Kesulitan yang sudah tertulis di Lauful Mahfudz, tiada pernah bisa dihindari... Jika karenanya terdapat hikmah besar yang berfaedah bagi umat. Kita, hanya perlu menghadapinya sekuat hati,” jawab Gus Armi tersenyum memandang langit pagi yang cerah.
“Dulu... Aku yang sering mengingatkan Mbah Pur agar tak perlu mencemaskan masa depan... Tapi sekarang, sepertinya aku sendiri yang mulai cemas...”
Gus Armi lirih terkekeh, sebelum melanjutkan, “Ki Ageng mungkin terlalu memikirkan nasib Ni’mal saja.”
Menyeruput kopi, sosok itu pelan mengangguk. “Ya. Sudah sejak kecil dia banyak menerima luka jiwa,” ucapnya menoleh ke arah Gus Armi. “Beruntung, dia tak langsung mengingat semuanya dalam seketika. Aku khawatir... Kalau-kalau dia mengingat semuanya, lalu menyerahkan segenap rasanya pada sisi Amarah diri.”
“Tugas kita sebagai manusia yang di bekali pengalaman untuk membimbing generasi di akhir kehancuran Manunggal. Dan Ni’mal... Dia yang di pilih untuk memimpin anak-anak itu, menuju takdir terbaik-terlepas dari apapun itu.”
***
'Cemas, adalah sesuatu yang timbul... Manakala hal yang diharapkan tampak akan pupus dan berganti jadi hal yang tak diharapkan. Cemas, adalah sesuatu yang tak singgah pada jiwa-jiwa pilihan-Nya. Sebab, keyakinan dari diri yang sepatutnya mengekang kecemasan.'
Ni’mal, dalam gelap mendengar lirih suara Gus Armi. Ia hening, seperti keadaan di sekitar.
'Tak usah kau pikirkan hal-hal yang justru menambah cemasmu, Le... Jalan saja. Berikhtiar sebisa mungkin, dan jadikan itu sebagai alasan hatimu tak merasakan cemas.'
Membuka kedua mata cokelat pudarnya, Ni’mal tersadar masih tergeletak di lantai. Dengan tubuh gontai dan luka sekujur raga yang menyengat, ia bangkit. Nyengir pertanda perih.
Pemuda dengan rambut lebat hitam itu, kembali menuju pintu yang masih terbuka. “A-aku...”
'Carilah Bapakmu. Jaka Bagus. Bergurulah padanya. Barangkali, sebentar lagi kam ... uhuk! Kamu ... tak bisa berlatih dengan Gus Armi sementara waktu nanti.'
Kata-kata dari almarhum Mbah Pur, terngiang di kepala. Ni’mal, mempercepat langkah kakinya yang tertatih, hingga sesosok perempuan bermata biru, Berada di depan ruangan.
“Kakak! Kakak tak apa? Su-sudah bisa jalan?” gadis berbusana adat berbahan ulos itu, menatap Ni’mal takjub.
(Ulos: kain yang di pakai untuk baju adat sumatera utara)
“Si-siapa kau? Di mana aku sekarang?” Ni’mal, memegangi d**a bekas luka terpukul tadi.
“Ini... Desa Kemojo, Tarang.” Gadis itu memperhatikan luka Ni’mal. “Beristirahatlah dulu... Kakak masih terluka,” bujuknya.
Ni’mal menggeleng pelan, berjalan melalui gadis tersebut. “Ada banyak hal yang harus aku lakukan...” ucapnya tertatih.
“Tu-tunggu dulu... Tap-”
Baru tiga langkah Ni’mal berjalan, Azizah si gadis bermata cokelat bersama pria tua yang menyerangnya tadi, datang. Si pria berkumis putih, mempercepat langkah meski Azizah telah menahan pundaknya. “Kau mau ke mana, anak muda!”
Memalingkan pandangan dari kepala ke d**a, Ni’mal berkata, “minggirlah Pak Tua, jangan memaksaku melakukan dosa!”
Gadis bermata biru dan Azizah, serempak berteriak guna mencegah, namun Ayah mereka justru melayangkan tinju ke arah Ni’mal.
Blaaang!
Ni’mal yang reflek mengambil kuda-kuda sambil menangkis, berhasil menahan tinju lawan. Lantai kayu panggung yang mereka pijak, hancur jadi lubang.
Melirik ke sekitar di mana rumahnya berantakan, sosok tua itu mengutus tangan kiri tuk mencengkeram lengan Ni’mal kuat.
Grepp!
Ia, melemparkan pemuda itu ke langit-langit.
Braak!
Pemuda itu, terlontar jauh menembus atap rumah beratap rumah minang.
Swuung!
Brakk!
Ketika Ni’mal membuka mata, ia telah mendarat di depan halaman rumah. Mata cokelatnya menyapu sekitar, ia terduduk di tengah perkampungan.
Rumah-rumah di sana, semuanya panggung dari kayu. Belum lagi, warga yang tadinya khidmat beraktifitas, cepat berkumpul mengerumuni Ni’mal.
Mereka, menjaga jarak sejauh lima belas meter. Sebagian memandangnya sinis, sebagian lain memandangnya bingung, dan sebagian lain memandang iba.
'Ini... Tarang!'
“Ugh!” Ni’mal perlahan bangkit menahan sakit. 'Aku hanya perlu... Bergegas pergi dari sini!'
“Hai anak muda!” Sosok pria tua kekar berbusana adat tadi, kini berdiam di ambang pintu rumahnya. Ia, melompat tinggi-memutar badan, mendarat di hadapan Ni’mal. “Pancar auramu seperti orang Sunyoto, tapi perilakumu tak mencerminkan tempat tinggalmu!”
Ni’mal, diam sejenak. Ia menunduk, memejamkan kedua mata. 'Aku tahu kalian yang telah merawatku...' Ia mendongak. “Tapi kalian tak tahu apa yang terjadi padaku!” Pupilnya yang cokelat terang, perlahan memerah.
Blag!
Ni’mal baru saja telak menendang kepala si pria tua, membuatnya terlempar jauh-menumbangkan pohon kelapa yang ada pada jarak puluhan meter.
Warga sekitar, berhamburan lari. Takut nan takjub oleh Ni’mal. Para lelaki di sana, menyuruh anak-anak dan istri untuk menuju rumah, sedang mereka waspada dalam posisi kuda-kuda.
Otot-otot dan pembuluh darah di tangan Ni’mal, nampak makin jelas. “Jangan menghalangiku pergi! Atau kuhancurkan tempat ini!” Ni’mal berteriak lantang.
Suaranya menggema, menggetarkan d**a siapa pun yang mendengar.
Orang-orang di sana, berbicara dengan bahasa yang tak Ni’mal paham. Mereka saling menoleh sesekali, kaki mereka bergetar.
“Allahu Akbar Allahu Akbar!”
Deg!
Tubuh Ni’mal kini yang bergetar. Para penduduk sekitar, justru kembali stabil. Kumandang suara azan itu, mendinginkan aliran darah semua manusia di sana.
Pupil pada mata Ni’mal, kembali berubah cokelat terang. 'Apa... Ini...' Pemuda berjaket dan celana hitam itu, lirih berlutut ke tanah. Kedua tangannya, berpaut ke belakang kepala-menutup kedua telinga dengan lengan.
Di mulai dari pria tua kekar, mereka semua kini mendekat perlahan. 'Bocah ini... Di kuasai roh jahat!' batin si pria tua kekar berambut abu-abu.
Azizah dan gadis bermata biru, kini pasrah melihat sang Ayah mengepalkan tinju di hadapan Ni’mal.
“Hai anak muda! Berterima kasihlah padaku setelah di alam sana! Sebab...” Pria beruban itu, memejamkan kedua mata seraya mengatur napas. “Aku yang akhiri kutukanmu!”
Wuzz!
Ia, mengayun tinju ke arah kepala.
Ni’mal, terjengkang tiga belas meter. Padahal, tinju lawannya barusan, belum sampai mendarat di dahinya.
Sang pria tua, kini membatu. Tubuhnya yang kekar, tak mampu bergerak. “Ini...”
Tap tap tap...
Seorang pria tua bertubuh kurus dengan gamis serta sorban putih, mendekati kerumunan. “Ayo mari! Yang Muslim mari sholat dulu! Sudah tiba waktu dzuhur!”
Salah seorang pria, memberanikan diri bertanya pada sosok yang tadi-mengumandangkan adzan. “Ta-tapi... Datuk... Pe-pemuda itu...”
“Sudah... Biarkan saja dulu...” ucapnya lembut. “Hai Rahman! Mau sampai kapan jadi batu begitu? Sudah adzan! Segera ambil air wudhu dan tinggalkan tamumu!” serunya pada pria tua kekar yang menyerang Ni’mal. “Masa saya dah adzan pun saya pula yang iqomah dan jadi imam sholat... Tak patut kali b***k-b***k ni...”
Orang-orang di sana, sebagian bergegas pergi ke masjid. Sebagian lain, masih ragu-ragu untuk beranjak.
Tubuhnya kembali bisa digerakkan. Pria tua kekar bernama Rahman, menoleh ke belakang di mana kedua putrinya berada. “Bawa berandal muda itu masuk! Ikat pakai rantai jika perlu!”
Dari kejauhan, tepat di antara semak belukar dekat jalan setapak, dua pasang mata pria berbusana suku yang sama seperti mereka, memperhatikan keributan tersebut. Ia, bergegas lari ketika pertunjukan usai. Wajahnya, terhalang bayang-bayang pepohonan.
Lelaki tersebut, mendekatkan arloji hitam ke mulut. "Dia Desa Kemojo, Tuan."
'Di mana itu?'
"Kadipaten Tarang, tak begitu jauh dari lokasi Ngarai Hitam di wilayah Arsir."
'Bagus. Laporkan pada Sebastian serta pasukan terdekat di sana. Bergeraklah perlahan, dan terpenting... Jangan biarkan dia kabur!'