¤-Tiap-tiap yang bernyawa memiliki peran berbeda. Sebagai manusia, tak seharusnya kita menghardik dan mencela mereka sebelum mengerti betul tentang apa-apa yang mereka alami. Bukankah berbaik sangka pada sesama adalah warisan leluhur yang seharusnya di bawa? Lantas mengapa kini rasa ingin di pandang terbaik dan paling benar, yang jadi tujuan kita? Tak heran jika DIA menegur kita lewat apa-apa yang telah terkubur lama.
-Ni’mal
***
Ni’mal, pemuda berjaket hitam itu kini termenung di bawah sinar purnama. Pohon besar di belakangnya, membuatnya ingat pada pohon beringin besar di belakang Padepokan Gajah Putih.
Ia, baru saja menghancurkan rantai besi yang membelenggu diri. Ironis, bukannya langsung pergi, cucu Mbah Purwadi itu justru terdiam di hutan tepi jurang dekat perkampungan, di mana jadi saksi pertarungannya dengan seorang pria tua.
“Assalamualaikum, wahai anak muda...”
Seorang menyapa, membuat pemuda berjaket hitam, menoleh ke belakang.
Lelaki tua yang melerainya lewat kumandang adzan, berjalan santai mendekat. Busana putihnya, seolah memantulkan sinar rembulan. “Apa yang menahanmu untuk tidak langsung pergi dari sini?” tanyanya tersenyum, perlahan duduk di samping kanan Ni’mal.
Usai menjawab salam dalam hati, Ni’mal menunduk ke tanah di mana rumput berada. “Apa Anda tahu apa yang mesti saya lakukan, Kek?”
Menaikkan alis kanan sedikit tersenyum, Sang Datuk bertanya balik, “apa yang membuatmu terbuka padaku, anak muda?”
Ni’mal, buka mulut, “kumandang adzan Anda, seketika meredam amarah yang bergejolak. Yakin saya, Anda adalah seseorang yang mengerti ilmu jiwa... Sebab, hanya orang berhati lembut yang bisa menghentikan amarah saya...” gambaran wajah Gus Armi terpintas dalam benaknya.
“Hahaha...” Sang Datuk tertawa lirih, mengelus cangkang seekor siput yang ada di dekat kakinya. Siput itu, justru melongok keluar dari cangkang ketika di belai. “Saya ini manusia banyak dosa... Mungkin, yang kau butuhkan tadi hanyalah siraman hati.”
Mendengar jawaban, Ni’mal terdiam-menunduk. Enggan lagi bertanya.
“Nak... Jangan kau malah takut pada dirimu sendiri,” ungkapnya mengelus pundak kanan Ni’mal yang terbalut jaket hitam bercorak merah mengiring resleting tengah.
Seketika, Ni’mal membendung air mata. Sentuhan itu, mengingatkannya pada kakek kandung yang ia celakai. “Aku... Sebenarnya aku ini apa? Bagaimana mungkin... Aku menjadi monster seperti ini?”
Menarik napas dalam, Sang Datuk sedikit merapal sholawat. Ia melirik ke wajah lesu Ni’mal, kemudian terdiam sejenak.
“Anak muda... Sejujurnya saya telah memimpikanmu datang kemari,” ucapnya melepas tangan dari lengan Ni’mal.
Seketika, pemuda bermata cokelat itu menoleh. Cepat. “Anda?”
Menatap ke arah purnama, Sang Datuk menghela napas panjang. “Ada empat sosok Sura yang mengelilingi Negeri Manunggal. Kau pasti sudah pernah dengar kisahnya, bukan?”
“I-iya... Lalu, apa kaitanku dengan Sura-Sura itu?” sahutnya.
Buang napas, Sang Datuk menghadapkan wajahnya yang penuh keriput pada wajah Ni’mal. “Dunia terkadang terasa tak adil, bagi mereka yang tak mau bersyukur. Karena dunia pun terkadang tak adil pada mereka yang mau bersyukur... Tetapi, tugas manusia hanya menjalankan semua dengan lapang d**a. Sebab, dengan begitu... Kita-manusia, akan paham bila kenikmatan hidup adalah menjalankan peran yang DIA berikan. Tentu peran sebagai sosok yang baik.”
Perlahan mengepalkan tangan kanan, Ni’mal membalas tatapan sosok tua itu. “Meskipun takdir menggiringku jadi pemeran hidup berwatak jahat?”
Sang Datuk terkekeh sebelum menepuk kepala Ni’mal lirih. “Sepengetahuan saya, Takdir itu netral, Nak. Apa yang kau lakukan akan menentukan alur takdirmu.”
“Ta-tapi...”
“Mungkin... Kau hanya lupa... Atau dibuat lupa. Bahwa... Dulunya kau adalah manusia yang mengutamakan ego... Hingga pada titik tertentu, kau tersadar bila yang kau lakukan keliru. Barulah sekarang kau menuai apa yang kau tanam dahulu...”
Ni’mal, seketika mimisan. Cairan merah itu, mengalir-menetes dari kedua lubang hidung. Sontak, ia menutup hidung.
“Subhanallah...” Sang Datuk, memalingkan pandangan dari wajah Ni’mal. Ia, kembali memandang langit malam.
Masih dengan menutup hidung, Ni’mal bertanya, “A-apa Anda tahu... Sebab mimisan ini?”
Sang Datuk, menggeleng lirih. “Saya tak tahu pasti,” ucapnya tersenyum. “Tapi dia... Mungkin tahu banyak,” imbuhnya menatap ke depan, menyorot hutan sebrang jurang. “Dia juga... Yang mungkin akan memberikan sedikit petunjuk mengenai langkah yang baiknya kau lakukan.”
Turut menoleh, Ni’mal mencoba mencari sosok yang di maksud. Namun, hanya ada mereka berdua di sana. Ni’mal memejamkan mata, mencoba merasakan keberadaan manusia di hadapannya, namun sama-nihil.
Set!
Mengusap kening di antara alis Ni’mal, Sang Datuk bekata kembali, “sosok yang saya maksudkan tinggal di sana.”
Seketika, sebuah pohon raksasa dengan tinggi melebihi gedung pencakar langit, tampak remang pada jarak puluhan kilometer. Sebuah pohon yang memang telah banyak dikisahkan dalam dongeng masyarakat Manunggalan. Pohon Pasak.
Bangkit berdiri, lelaki tua bertubuh kurus-tinggi itu tersenyum. “Malam ini mari tidur di masjid. siang besok atau lusa, insyaalloh saya beritahukan jalan menuju ke sana.”
***
Raden Irawan. Pemuda gagah dengan kumis yang kini melebat, tengah duduk tenang di kursi kereta. Di samping kanannya, Anis si pria kurus tengah sibuk membaca artikel lewat ponsel. Keduanya, mengenakan kemeja hitam.
Seketika, pandangan Raden Irawan tertuju pada jendela, saat kereta yang mereka tumpangi melintasi jalur Kadipaten Tarang. Pohon Pasak, jadi hal yang menarik perhatiannya. “Nis... Apa kau tahu, bila... Pohon Pasak di Tarang itu... Berbeda dari pohon Pasak lain?”
Menyempitkan mata, Anis menaruh ponsel. “Tidak. Apa itu?”
“Pohon Pasak itu... Akan hilang dari pandangan pada jarak tertentu. Seolah ia, tak ingin di ketahui keberadaanya.”
Anis tercengang. “Ha?” ia menoleh ke jendela. “Pohon sebesar itu?”
“Benar... Sekalipun dari kalangan kerajaan di bawah instruksi Kadipaten Senlin untuk observasi. Jika manusia, sedikit saja mereka memalingkan pandangan, maka ketika di lihat lagi, pohon tersebut hilang. Namun jika menggunakan mata Drone, terjadi infocus pada kamera dan pohon itu nampak seolah lenyap dalam radius lima puluh kilometer. Pesawat jet yang mendekat sekalipun, mengalami error transmission dan seolah justru di buat untuk terbang memutar.”
Anis tersenyum simpul. “Sudah tahu bila hal gaib lebih mumpuni ketimbang teknologi, tapi si tua bangka keras kepala itu justru ngeyel pada pihak kerajaan untuk mengganti hal-hal demikian dengan teknologi.”
Raden Irawan turut tersenyum. “Begitulah...” Raden Irawan menyandarkan punggung ke kursi empuk. “Namun bagaimanapun, selama Ayah menjabat, hal itu tak akan terjadi,” imbuhnya lirih.
“Ngomong-ngomong tentang pohon pasak yang mampu menghilang... Apakah... Puspa dan yang lain belum menemukan keberadaan Ni’mal?”
'Perhentian selanjutnya, Kota Raya, Stasiun Senlin. Mohon bagi para penumpang untuk memperhatikan barang bawaannya. Next stop, Raya City, Senlin Station, please be aware of the stuffs. Thankyou.'
Semua orang, termasuk kedua pendekar itu, bangkit berdiri saat kereta berhenti.
Raden Irawan, merogoh kacamata hitam di saku kemeja, guna memakainya.
“Bocah itu... Entah di mana dia sekarang. Tapi kuharap, dia baik-baik saja.”
Turun dari kereta. Keduanya tiba di stasiun Senlin. Sebuah tempat di mana kekacauan pernah terjadi, di sebabkan oleh Puspa yang di kejar PM setempat.
“Ahh... Raden Irawan dan Anis!” William, sesosok pria bule pirang dengan jas dan celana hitam, melepas kacamata seraya tersenyum menatap dua tamu istimewa.
“Maaf membuatmu lama menunggu,” ujar sang putra mahkota.
“No, Nevermind. Ngomong-ngomong... Di mana cucu Ki Ageng Jagat yang cantik itu?” tanyanya membalik badan, menuntun mereka menuju kafe Stasiun Senlin.
“Gus Armi mengizinkan Puspa dan kedua anak itu untuk menyelesaikan suatu hal...” jelas Anis.
William, melambankan langkah, kembali menghadap kedua pemuda di belakang. “Rahaf dan... Agni?”
Anis mengangguk, mengiyakan.
***
(Alam mimpi)
Ni’mal membuka kedua mata cokelat temaramnya. Ia segera duduk siap, saat di jumpai sesosok pria bersorban putih, tengah mengajari seorang pria berjubah putih, yang mana duduk tepat di sebelah kanannya.
“Ni’mal... Apa kau tahu tentang pohon yang ada di langit?” tanya sosok pria berhidung mancung. Wajahnya blur.
Ni’mal, menggeleng.
“Dengarlah, hai kedua anakku... Pohon Hayat, adalah pohon yang berdaun banyak. Daunnya, lebih kecil dari daun kelor. Di sana, di tulis semua nama manusia yang ada di bumi. Ketika ia gugur, dan jatuh ke sungai takdir-Lauhful mahfudz, niscaya empat puluh hari kemudian malaikat maut akan datang menjemput mereka. Yahh, meski begitu... Selalu ada pengecualian di setiap ketetapan.”
Ni’mal, batinnya menjerit. Ia segera mengutarakan, 'hai manusia berhati murni, lalu bisakah saya menghidupkan kembali Kakek? Atau bisakah saya mengulang takdir? Sa-saya...' kedua mata Ni’mal berkaca. 'Saya... Ingin jadi anak penurut dan baik...'
“Nak... Manakala sesuatu yang tak kau senangi terjadi... Maka senangilah yang terjadi... Kurang lebih itu yang guru saya sampaikan dulu.”
“Ta-tapi...”
“Tenanglah, Nak. Sebentar lagi, tiba masanya. Meski masih harus terus berjuang, namun sepimu akan berganti dengan cinta. Jalan saja... Lagi pula, tak seru jika kisahmu segera usai...” ucapnya tersenyum, kemudian menoleh ke arah sang pria berjubah putih. “Bukan begitu, Sang Titisan Cahaya?”
Pria berjubah putih, kini menoleh ke arah Ni’mal. Dari wajahnya yang tertutup oleh tudung kepala, kedua titik sinar mata bak lampu neon, menyala.
Deg!
Ni’mal, seketika tersentak. Hanya dengan menatap, ia merasakan derita yang sosok itu alami. Rasa nyeri menjalar di d**a tengah sang pemuda berjaket hitam.
***
(Kadipaten Tarang)
Ni’mal, terjaga dari tidurnya. Bulir air mata, menetes menemani kesadarannya yang perlahan merasuk. Ia, kini duduk di tengah masjid kayu.
Melihat Ni'mal yang menangis, sosok tua tersebut lirih menghampiri Ni’mal.
Ia jongkok dan meraih pundak Ni’mal, ia seolah tahu mimpi apa yang baru saja Ni’mal alami. “Yang ikhlas, Nak. Tegarlah. Justru manusia-manusia terpilih yang mampu tersenyum ketika di terpa nestapa.”
Ni’mal, kini bak bocah. Ia memeluk kakek tersebut, lalu menangis sejadi-jadinya. Ia, tak memedulikan para jamaah sholat subuh yang perlahan memasuki masjid.
“Haaaaargh!” pemuda dengan mata cokelat itu, memeluk kuat si kakek. Hidungnya menghirup pekat wangi bunga kasturi dari busana Sang Datuk.
***
(Kadipaten Sunyoto)
Gus Armi, dengan ikat blangkon dan busana hitam ala jawa, mendarat usai melompat dari air terjun Dirga. Matanya yang jeli, memandang sesosok pria bertopeng Arjuna-pria yang sudah duduk bersila menunggu.
Menghampiri rumah kayunya, Gus Armi tersenyum. “Wehh... rawuh kapan, Kang?”
“Nembe kemawon.” Pria berambut lebat itu, bangkit. Ia menjabat tangan Gus Armi.
“Lawas... Awet sanget topengipun boten gentos-gentos.” Gus Armi tersenyum, lalu mengajak sang tamu singgah masuk.
“Boten Kang, kula namung nuweni sareyanipun almarhum.” Tolaknya halus.
“Loh... Boten pinarak rumiyin?”
“Boten, sampun!”
“Sampun rampungan ta? Anggenipun Ziarah wonten ing sareanipun?”
Sosok itu mengangguk. Ia, bersiap hendak melompat terjun ke bawah jurang.
“Putranipun jenengan ... sampun ageng lho, Kang,” cetus Gus Armi.
Menoleh ke belakang, Sang pria bertopeng Arjuna putih mengangguk. Sejenak terdiam, ia kembali berucap, “Abrit kaliyan pethak boten saged nyawiji. Menawi kepanggih, salah setunggal kedah sirna. Nalikanipun si Abrit dereng dados pethak, mokal saged nyawiji.”
“Eladalah ... Lha ingkang dados Ramanipun menika sinten? sejatosipun.”
“Kula ... Nyuwun tulung nggih, Kang Armi. Assalamualaikum ...” sosok bertopeng putih, melompat kayang ke belakang.
Wusss!
Ia, turun terjun ke jurang, di mana aliran sungai Dirga menanti.
***
(Kadipaten Tarang)
Krik... Krik... Kriik...
Semua warga, terlelap dalam tidur. Pencahayaan di desa Kemojo, telah redup. Tinggalah sang Purnama yang benderang di langit malam bersama gemintang.
Sunyi malam, membelai keadaan. Hingga kemudian...
Blaamm!
Suara ledakan, membangunkan Ni’mal yang baru saja terlelap. Ia bergegas bangkit, menyetarakan tinggi dengan Sang Datuk yang sudah siaga berdiri sembari merapal sholawat.
“Ka-Kakek... Bunyi itu...”
Dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor!
Berondongan senapan menyusul bunyi ledakan tadi.
Serempak, Sang Datuk dan Ni’mal melesat keluar dari surau.
Kini, di lihatnya gerombolan PM yang berbaris-berjajar tengah mengacungkan senapan ke arah rumah para warga.
“Apa yang kalian lakukan!” seru Sang Datuk usai melihat kebun yang tak jauh dari rumah warga, terbakar.
'PM! Jangan bilang kalau... Mereka mencariku!' Ni’mal, melirik ke kanan dan kiri.
Puluhan orang bersenjata, kini serempak mengacungkan senapan ke arah pria tua bersorban putih. Beberapa warga yang keluar untuk mengecek keadaan, segera bersiap dengan kuda-kuda beladiri.
PM di sana, hendak membalas dengan tembakan, namun...
“Tahan tembakan kalian!”
Sesosok pria, berkulit hitam dengan busana PM yang berbeda, mengacungkan tangan kanan. Pada d**a kanannya, tertulis nama Sebastian.
Ni’mal, menyempitkan kedua mata. Dia... Ia ingat betul, bila pria itu adalah PM yang menjaga tempat pernikahan di Senlin, juga sosok yang mengawal Yo.
“Kami mendapat mandat dari Tumenggung Kadipaten Senlin, yang telah di setujui Kraton Utama, untuk memeriksa seorang buronan yang terlihat singgah di sini.” Ia melangkah, mendekat ke surau Masjid.
Beruntung, wajah Ni’mal tertutup gelapnya bayangan atap masjid. 'Mereka keterlaluan!'
“Memeriksa? Kau baru saja menghancurkan ladang palawija desa!” Sang Datuk, melangkah perlahan. Meninggalkan Ni’mal yang terdiam membatu-tak tahu hendak melakukan sesuatu.
“Kalian yang memaksa kami. Jika saja kalian tak memasang pagar gaib, kami tidak akan... ” setelah menoleh ke arah kobaran api, Sebastian kembali memandang ke arah Sang Datuk.
Namun, sosok tua berjenggot putih itu, sudah ada di depan mata dalam sekejap.
Serentak, para PM mengacungkan senapan mereka pada Sang pria tua.
Tep!
Cepat, tangan lelaki tua itu menggapai leher Sebastian kurang dari satu detik. “Pergi! Atau nyawa atasan kalian ini, kuhabisi!”
Greepp!
Mencengkeram balik tangan Sang Datuk untuk melepas, Sebastian menahan sakit. Sulit bernapas. “Ji-ka... Kau... Me-lawan... Peledak yang sudah terpasang... di beberapa... rumah warga... Akan kami... Aktifkan!”
Wuung!
Melempar tubuh Sebastian ke arah rombongan PM, tiga orang prajurit bersenjata tertindih keras. “Kurang ajar sekali kalian!”
Sontak, para prajurit yang ada di sana, lekas-lekas mengacungkan senapan, menembakkan hujan timah pada Sang Datuk.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Ni’mal yang keburu panik, tak memperhatikan bila Sang Datuk dengan mudah menepis semua peluru tersebut. Alhasil, ia berteriak, “tidak! Berhenti!”
Sebastian, memberikan komando untuk menghentikan para prajuritnya menembak.
Ketika para PM berhenti menembak, riuh jerit takut warga desa, di selingi tangisan bayi, terdengar di malam hari.
“Rupanya... Kau benar di sini ya, Arjuna Merah!” seru Sebastian.
Sang Datuk, menoleh pelan ke arah Ni’mal. Pemuda berjaket hitam-merah itu, melangkah ragu mendekati Sang Datuk.
“Serahkan dirimu! Jika tidak, maka aku akan ledakkan desa ini!” kecamnya. “Jika pun kau mengamuk dan membunuh kami, maka Tumenggung Senlin sudah pasti akan memenjarakan penduduk desa ini, sebab bekerja sama menyembunyikan buronan sepertimu!”
“Kau sebut dirimu Prajurit? Ini antara aku dan kalian! Bukan penduduk desa ini!”
“Hai Arjuna Merah! Aku enggan berdebat! Majulah kemari dan biarkan kami memborgolmu!” Sebastian, merogoh sebuah benda mirip borgol-yang sebenarnya adalah rantai babi.
Menarik napas, Ni’mal ragu untuk melangkah. Dilema.
“Nak, pergilah ke Pohon Pasak. Di sana, kau akan temukan apa yang semestinya kau dapatkan,” ujar Sang Datuk, sedikit berbisik.
Melirik, Ni’mal makin bimbang. A-apa? “Ta-tapi, Kakek, warga di sini!”
“Takdirmu, bukan untuk menyerah di sini, Nak. Pergilah!”
Mendengar samar pembicaraan mereka berdua, Sebastian merogoh sebuah logam kotak dengan satu tombol besar di sana. “Jadikan ini peringatan!”
Bummm!
Salah satu rumah warga, meledak oleh bom yang terpasang.
Dengan cepat, Sang Datuk melesat. Ia, mengayunkan tangan kanannya keras ke arah benda yang Sebastian pegang, sampai-sampai tulang tangan Sebastian, turut remuk dari dalam.
Blak!
“Pergilah sekarang, anak muda!” teriak Sang Datuk.