(Hutan Kadipaten Tarang.)
'Salahkah aku karena berlari meninggalkan mereka?' Ni’mal mengayuh kakinya di antara semak belukar hutan. Cahaya sang surya masih enggan bersinar di penghujung fajar. Suara jangkrik dan binatang hutan, menemani langkah putus asanya. 'Lalu kemana aku harus pergi? Di mana orang yang Kakek sebut bernama Jaka Bagus?' Dengan jaket hitam-merah yang mulai lembap oleh keringat, tiga kilometer telah Ni’mal lalui hanya dengan berlari.
Srek!
Sebuah akar besar yang memanjang, berada di permukaan tanah, membuatnya tersandung jatuh, terguling di rerumputan basah. "Ughh! Gusti!" Ni’mal, terdiam tertelungkup di tanah. Kedua tangannya, menjambak rumput di bawah telapak tangan. “Apa yang harus aku lakukan!” Ni’mal, menjerit kesal. Ia, mengadukan deret gigi atas dan bawah erat.
“Yang satu... Pesimis dan gampang mengeluh di awal. Yang satunya... Batu dan sulit dinasihati. Yang satu... Cengeng dan lesu... Dan yang satu... Terlalu lugu, juga dilema dalam mengambil langkah. Dasar anak-anak muda...”
Mendengar suara seseorang yang familier, Ni’mal membuka mata. Dilihatnya sepasang kaki sedikit tertutup gamis putih. Jaraknya, hanya tiga kaki dari kepalanya. Ni’mal cepat mendongak ke atas. Ia menjumpai sesosok pria berbusana serba putih. Dengan sorban putih yang seolah bersinar memantulkan cahaya dari sekitar. Wajahnya, tak begitu tampak oleh seri sinar yang memancar. Berguling ke samping, Ni’mal bangkit segera mengambil kuda-kuda. “Siapa kau!”
“Aku... Adalah kerabat dari seseorang yang sedang mencarimu.” Mendengar jawaban, Ni’mal menajamkan pandangan. “Apa maksudmu!”
“Nak, tak ada banyak waktu. Banyak hal besar yang harus kau selesaikan. Kami, sudah menantikanmu.”
Hendak kembali bertanya, Ni’mal merasakan getaran dari jari tangan kanan. Diltemuinya cincin pemberian Ki Ageng Jagat, bersinar tosca terang. 'Ke-kenapa ini? Sejak kapan ini ada padaku?'
“Dari sini, teruslah berlari ke arah barat. Setelahnya, kau harus mengambil tujuan hidup. Tekadkan, tekankan, dan yakinkan hatimu pada tujuanmu. Aku akan menunggumu menemuiku, setelah tugasmu di negeri ini, selesai.”
Lhuub
Cahaya putih yang begitu terang, bersinar dari sosok misterius tersebut. Terlalu silau, Ni’mal mengutus lengan kanan untuk menutup wajah. “Apa mak-” Menatap ke depan, sosok tersebut hilang. Lenyap dari pandangan. "-sudnya ..."
***
(Wilayah Arsir, Hutan Tarang)
Puspa, Rahaf, dan Agni, tertidur dengan posisi duduk menekuk lutut sebagai penopang kepala. Mereka, memutari api unggun yang mulai redup.
“Puspa... Aku, sebatang kara. Aku tak tahu lagi... Langkah apa yang harusku ambil...”
Mendengar suara Ni’mal, gadis berambut panjang dengan kain batik hijau tosca, tersadar dalam mimpi.
“Maukah kau...”
Belum sampai mendengar lanjutan kalimat, Puspa mengedipkan mata berbulu lentik. “Ni’mal?” bisiknya lirih. Mendongak ke langit, ia beranjak dan bermaksud ke sungai terdekat. Untuk melakukan sholat subuh.
“Teh Puspa...” Rahaf turut bangun. Agni, justru ambruk ke tanah. Ilernya mengalir keluar dari mulut yang menganga. “Iya? Kamu mau ikut?” Rahaf mengangguk. Memaksakan diri meski lemas.
“Agni masih kelelahan. Mungkin... Biarkan saja dulu,” ucap Puspa lirih. Sedikit tersenyum melihat wajah Agni yang terlelap.
“Teh... Aku... Bertemu dengan... Kak Ni’mal.” Membuka lebar kedua mata, Puspa mengaitkan kedua alis.
“Ka-kapan? Di-di mana?”
“Kak Ni’mal, ditarik oleh dirinya yang bermata merah. Tapi di dekatnya, ada dirinya yang lain... Yang juga menariknya. Kak Ni’mal... Menatap ke arah kita... Wajahnya begitu memprihatinkan... Mimpiku barusan...”
“Rahaf... Memimpikan dia juga, ya...” Menunduk, Puspa teringat samar mimpinya barusan. “Apa yang mesti kita lakukan... Teh?” Rahaf mendekati Puspa.
“Kita tetap lanjut mencarinya. Entah mengapa, aku yakin dia ada di sekitar pohon Pasak Kadipaten Tarang.”
“Kita... Perlu mendekat lagi untuk meminta Agni merasakan keberadaan Kak Ni’mal. Agni yang sekarang... Belum begitu pulih.” Rahaf, menoleh ke belakang, ke arah gadis berjubah hitam-merah.
'Ni’mal... Bertahanlah...'
***
Mentari membagikan cahaya pada muka bumi. Hangatnya, mengusir hawa dingin yang sudah semenjak tadi mengganggu Ni’mal. Pemuda dengan jaket hitam-merah itu, berjalan lirih-lurus ke depan. Langkahnya berhenti, saat derap kaki pelan seseorang terdengar menggesek rimbunnya semak belukar.
Swus!
Menoleh ke kanan, Ni’mal reflek mengelak dari sebuah tembakan yang melesat cepat.
Dor!
“Di sini Agen Melon! Target telah ditemukan di sisi utara hutan, Ganti.” Pria berbusana PM lengkap dengan helm dan senapan, berbicara lewat jam tangan hitam di pergelangan tangan kanan.
'Bagaimana keadaanmu? Lalu kondisi target? Ganti.'
"Saya sendiri. Terpisah dari rombongan tim. Target, nampaknya sudah banyak kehabisan tenaga. Jika diberi izin, akan saya lumpuhkan dia. Ganti.”
'Berhati-hatilah. Tahan dia. Jangan buat dia marah, atau kau akan jadi mayat ketika kami tiba di sana. Ganti.'
Mengangguk dengan pandangan fokus pada wajah Ni’mal yang serius, sosok misterius dengan helm itu mengacungkan senapan ke langit. “Dimengerti, Ganti!”
Dor dor dor dor dor dor dor dor!
Ni’mal, menajamkan tatapan. 'Kemana dia menembak?' Matanya turut memandang ke atas.
Slupp...
Melepaskan helm PM dari kepala, pemuda yang masih berusia dua puluh tahunan itu tersenyum pada Ni’mal. Ia melempar helm ke tanah berumput, lanjut duduk santai bersandar di bawah pohon. “Jarak mereka dari sini cukup jauh. Aku tadi sudah melumpuhkan anggota PM terdekat di sekitar sini. Jadi kita bisa saling berbincang beberapa menit.”
Pemuda berjaket hitam merah makin heran. Ia memperhatikan pria sawo matang pesek dengan mata yang tampak sedikit sipit. “Apa maksudmu? Kau... Mengkhianati PM?”
“Namaku Melon. Aku juga santri Gus Armi, dan sahabat dari dua orang SM yang kau kalahkan di Sayembara kemarin,” jelasnya santai sembari mengambil sebungkus rokok dari saku celana.
“Gus... Gus Armi, katamu?”
Mengangguk, Melon mengacungkan sebungkus rokok pada Ni’mal. “Udud, Kang Ni’mal?”
Menggeleng lirih, Ni’mal perlahan mendekat. Ia, masih mengepalkan kedua tinju. “Kau... Tadi mengincar kepalaku, dan sekarang dengan santai bersikap seolah kau tak berbahaya? Apa maumu!”
Pria berseragam PM memasang wajah cengengesan. “Ehehe, ya sapurane, Kang! Aku ragu kalau kau benar target yang sedang kami buru. Tapi melihatmu mampu mengelak cepat begitu, aku yakin kau benar Ni’mal yang dimaksud.” Melon santai mengisap sebatang lisong yang telah dinyalakan.
Sejenak termenung, Ni'mal yang curiga bertanya, “lalu apa buktinya kau benar santri Gus Armi?”
“Ni’mal, mantan PM yang menguasai Ajian Tinju Dhasamuka. Pemuda yang pernah diajak oleh Gus Armi untuk menemui Sura dari Tarang, Sang Maung Bodas. Dan satu-satunya pemuda yang mampu menghancurkan keris pusaka Gus Armi secara tak sengaja.”
Kedua telinga Ni’mal, berdenging hebat. Darah kental, mengalir lewat kedua lubang hidung. “Ergh!” ia memejamkan mata, sembari memegangi kepala.
“Hanya ada segelintir orang yang tahu mengenai cerita itu dari Gus Armi," tambah Melon.
Mengatur napasnya perlahan, Ni’mal mendorong pelan napas dari tenggorokan. 'Maung Bodas? Aku PM? Tinju Dhasamuka?'
“Kang, seka-” belum Melon menyelesaikan kalimat, jam tangannya berbunyi.
Piiip... Pip... Pip...
“Ealah jabingan!” Ia mengisap keras rokoknya, kemudian berdiri. “Kang... Larilah terus! Jangan berhenti lagi di hutan ini. Teruslah berlari sampai kau temukan pohon Pasak Tarang.” serunya melempar sebuah tasbih kayu cendana pada Ni’mal.
Tep!
Sigap menangkap, Ni’mal memperhatikan butiran tasbih. Denging dan rasa pusing, seketika hilang.
“Hanya itu titipan Gus Armi kemarin sebelum aku diutus kemari.” Melon membuang puntung rokoknya, lalu memegangi senapan dengan kedua tangan. Membidik tanah di bawah Ni’mal. “Sekarang pergi dari sini!”
“Hey! Tu-tunggu! Tapi...”
“Pergi bodoh!” Melon tanpa ragu mulai menembak. Bidikannya adalah tanah di bawah Ni’mal. Di waktu yang sama, deru kaki rombongan PM mendekat.
Paham dengan situasi, Ni’mal membalik badan. Ia berlari sekuat tenaga meninggalkan Melon. Belum tiga menit berselang, seorang gadis berambut panjang menyambar tangan Ni’mal, menariknya lanjut berlari.
Menoleh sembari melangkah, pemuda itu sadar bila gadis yang menarik tangannya, adalah gadis yang berasal dari desa Kemojo. Putri dari pria tua yang menghajarnya kemarin. 'Azizah?'
***
(Kadipaten Senlin)
Richard dan Yo, saling berhadapan di sebuah ruangan mewah penuh interior batuan mulia. Hanya ada mereka berdua yang duduk santai di meja. Richard dengan busana biru bangsawan berbahan kulit sapi, memandang serius Yo yang hanya mengenakan celana dan kaos hitam berkerah. Keduanya, ditemani cangkir penuh s**u perah Kapri.
“Apakah kau sudah berhasil membujuk si Chakravati dan Tumenggung Sunyoto?” Richard bertanya.
“Seperti saran saya yang dulu, Tuan... Mereka tak bisa dibujuk dengan cara halus. Mereka... Harus dibujuk dengan cara yang lebih tegas, tampaknya.”
“Jika kita melakukan agresi militer meskipun secara diam-diam, itu akan berpengaruh pada jabatanku yang sekarang, kan?” Richard menggebrak meja.
Brak!
“Ahh... Mohon tenang dulu, Tuan. Saya pribadi... Telah memiliki siasat untuk hal tersebut.” Yo, merogoh saku celana. Ia, menaruh sekeping chip komputer ke meja, tepat di samping gelas berisi s**u.
Mata Richard berpindah fokus memandang benda tersebut. “Kau akan meminta para Tumenggung, untuk patuh pada perintahku, jika mereka melawan, maka kau akan menyerang Kadipaten mereka dengan Makhluk Hitam yang tak bisa berkutik melawan para SM Kraton utama, begitu?” nada Richard meninggi. Menggeleng lirih, Yo tersenyum.
“Jika Makhluk Hitam yang kita utus untuk menghancurkan Kadipaten, justru mereka yang melawan para Kanin akan mendapatkan kepercayaan dari penduduk Manunggal. Namun...” Yo, menyeruput susunya. “Jika mereka yang memimpin penduduk Manunggal, justru saling menjatuhkan satu sama lain... Dan membuat penduduk Manunggal jengah, bukankah kesempatan engkau untuk menjadi pemimpin negeri ini akan terwujud secara pasti, yang mulia?”
Memandang Chip di Meja, Richard menganga perlahan. Ia, kini paham dengan maksud si pria sipit di hadapannya.