“Sudahlah kamu menyebalkan dan keras kepalanya, herannya aku selalu suka menabung rasa.” –Biru *** Bagas termangu menatap langkah kaki Lana yang semakin menjejak dari tempatnya berdiri. Ingin rasanya ia mengejar dan menggapai Lana agar tidak pergi, tetapi rasanya kakinya sudah tertanam di tempatnya berpijak. Ingin rasanya bibirnya memanggil gadis itu dan memintanya untuk tidak berlari, tetapi lidahnya menjadi kelu. Entah mengapa, kali ini rasanya ia tidak berani mengejar Lana, tidak seperti biasanya. Entah ini konspirasi semesta yang sedang tak berpihak padanya, Lana lagi-lagi meninggalkannya. “Kenapa perempuan, merajuk dan meninggalkan selalu menjadi kolaborasi yang menyebalkan?” Bagas mengedarkan matanya ke sekelilingnya, menatap pedagang nasi goreng yang sedang mempersiapkan daganga

