“Senja kali ini indah, Jingga. Aku jadi suka. Kamu.” –Biru *** Lana sudah tiba di bibir pantai dan langsung duduk di atas batang pohon yang tertanam di pasir pantai, menyelonjorkan kakinya, lalu mengeluarkan buku usang dan pena andalannya. Dia menarik napasnya dalam, lalu mengembuskannya pelan. Bau asin pantai selalu bisa berdamai dengan rongga pernapasannya. Lana menyukai hal ini. Bagas yang sampai setelah dua menit Lana sampai juga ikut melakukan hal yang sama, kecuali pada mengeluarkan buku dan pena, dia tidak punya. Dia duduk di sisi Lana, sekitar setengah meter jaraknya. Dan dengan jarak segitu saja sudah berhasil membuat jantungnya deg-degan. Lana mulai menggenggam penanya dan melihat sekilas pada matahari yang akan menuju peraduannya. Setelah itu, ia mulai asyik menorehkan gurat

