“Apa yang salah diriku? Atau memang kau yang tak mau berteman denganku.” -Biru
***
Hari Rabu adalah hari yang paginya dijadwalkan pelajaran olahraga untuk kelas XI MIA 5, kelas Lana dan Bagas. Lana menuju sekolah sudah lengkap dengan baju olahraga, sementara seragam batiknya ia bawa menggunakan tas kain kecil yang ia tenteng. Ketika sampai di sekolah dia mendapati bahwa dirinya sendiri yang sudah tiba, Lana tidak terlambat lagi. Gadis itu menyimpan tas kecil yang dia tenteng ke dalam laci dan tas punggugnya disampirkan ke sandaran kursi. Tangannya lihai mengambil buku yang selalu ia bawa, buku usangnya. Sembari mengeluarkan pena dari tempatnya, Lana mulai menyelami dunia khayalnya.
“Wah, pagi ini aku disapa oleh pemandangan indah.” Terdengar suara yang menghancurkan khayalan Lana. Gadis itu hanya mendengus tanpa menanggapi lanjut.
“Aku jadi penasaran dengan apa yang kamu tulis,” ujar si biang keributan itu lagi.
“Tidak perlu,” balas Lana.
“Kenapa, Jingga?” tanya Bagas.
Lana menggeram kesal, “Jangan panggil saya Jingga,” tegasnya.
Bagas mengernyit, baginya gadis ini terlalu banyak aturan. “Kenapa tidak boleh?” nyinyirnya masih bertanya.
“Ternyata kamu benar-benar wartawan,” balas Lana tak acuh lalu kembali berenang di dalam lautan khayalnya.
Bagas tetap menghujaninya dengan pertanyaan yang di awali kenapa yang amat banyak, tetapi hanya dijadikan dengungan lebah oleh Lana. Sesekali lelaki itu mencoba mengintip apa yang sedang ditulis oleh gadis di sampingnya, tetapi tak sedikitpun kata yang mampu ia mengerti. Hurufnya tak jelas, entah yang Lana tuliskan adalah sebuah kode atau memang tulisannya yang seperti tulisan dokter.
Semakin jam meninggi, satu persatu teman kelas mereka tiba dan sudah menduduki bangkunya masing-masing, tetapi ada yang menunggu di luar kelas dan ada pula yang langsung lepas landas di lapangan, tak lagi sabar ingin bermain. Lana masih asyik mengarungi khayalnya dan Bagas masih betah mengoceh pada gadis yang sama sekali tak ingin mengacuhkannya.
“Gas, team gue ya nanti!” seru Bara, teman sekaligus ketua kelas Bagas dan Lana.
Bagas mengangguk antusias, “Siap! Mujukin si Jingga dulu,” ujarnya tak jelas. Harapannya Lana bisa menanggapi dia, tetapi harapan yang ia lambungkan hanya menjadi bunyi lagu yang diputar ketika hujan, tidak terdengar.
“Jingga, ayo keluar! Pelajaran olahraga sudah mau mulai,” ajak Bagas tetap gigih.
“Silakan duluan,” balas Lana.
“Mau bersama-sama.”
“Saya masih lama,” balas Lana lagi. Dia masih sabar dengan kegiatan membereskan alat tulisnya tadi.
Bagas mengangguk cepat, “Akan menunggu,” gigihnya.
“Berarti akan semakin lama.”
“Akan selalu menunggu.”
“Berarti tidak akan pergi.”
“Biarlah di sini saja, bersama kamu.”
Lana mencebik, “Ayolah! Saya tidak mau berjalan berdampingan dengan kamu. Kalau kamu mau menunggu di sini, saya yang duluan,” putusnya jengah, lalu beranjak dari kursinya dan melewati Bagas yang kebingungan dengan percakapan mereka.
“Hah?” Bagas mengernyitkan keningnya. “Gimana tadi?” monolognya. Kemudian ia menepuk dahinya sendiri. “Eh ya ampun, aku bodoh sekali,” ujarnya menyadari sebuah kebodohan yang baru saja ia lakukan.
***
Pelajaran olahraga sebenarnya tak mengenakan bagi Lana, seperti gadis pada umumnya; risih. Dirinya sukar berdamai dengan pelajaran olahraga, sedari dulu. Gadis itu selalu diminta untuk membuka kacamatanya agar tak terkena bola atau sebagainya, tetapi bagaimana bisa ia tak memakai kacamata dengan minus yang sudah banyak ini. Bisa-bisa dia pingsan berkali-kali karena tertimpuk bola nyasar.
Didatangkan kabar bahwa jam olahraga mereka kali ini cukup diisi dengan permainan tanpa materi karena sang guru sedang ada urusan, tetapi mereka tidak boleh kembali ke kelas sebelum jam olahraga habis. Kabar ini menyiksa Lana, semua perempuan ada yang bergerombol menggosip, ada yang mengambil foto diri atau bersama-sama, dan sisanya ikut bermain, entah bola, voli, atau apapun yang bisa dimainkan. Fakta yang baik adalah; Lana hanya duduk sendiri, merunduk, tak memiliki teman.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Lana sangat ingin seperti gadis-gadis lain yang memiliki banyak teman yang bisa berbagi cerita mengenai laki-laki atau merek bedak masa kini. Dia juga ingin memiliki sahabat yang bisa mendengarkan keluh-kesahnya, ceritanya, atau bisa berbagi tawa dengan dirinya. Namun dia tak punya daya, sisi pada dirinya sangat tak nyaman jika mengobrol dengan banyak orang, sesak bila mulai tertawa dan risih bila ingin berbincang. Jadilah ia menyesali kenapa dirinya tidak membawa buku usang dan sebuah pena untuk menuliskan ide-idenya, sekarang ia benar-benar sepi dan sendiri.
“Jangan murung.” Lagi-lagi Lana terusik. “Aku duduk di sini saja, menemani kamu merenung,” putus laki-laki itu, Bagas.
Lana hendak mengobrol dengan Bagas, tetapi ia tak mau berbicara. Pada akhirya mereka berdua hanya berdiam-diaman, Lana masih asyik memandangi ujung sepatunya, sementara lelaki di sampingnya memandangi dirinya. Terkadang gadis itu menggerak-gerakkan tangannya yang sedikit pegal atau mengembuskan dengan gusar untuk napasya, diamnya mulai merasa tidak nyaman pada hadirnya Bagas.
Jam olahraga akhirnya berakhir juga, Lana langsung mengembuskan napas senangnya. Bagas hanya tersenyum simpul melihat reaksi gadis itu ketika jam olahraga habis, sebegitu tidak nyamannya dia pada keramaian. Teman-teman kelas mereka langsug berbondong-bondong kembali ke kelas, ada yang melenceng langsung ke kantin, ada pula yang tetap bertahan bermain bola di lapangan.
Lana berdiri, lalu berjalan meninggalkan Bagas. Ia berjalan dengan perasaan bingung di hatinya. Dia bingung dan tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Katakanlah dia aneh, karena kenyataannya memang begitu adanya.
Bagas hanya memandangi langkah kaki Lana yang menuju kelas. Meskipun tanpa sapaan atau ucapan, setidaknya gadis sudah mulai menerima hadirnya dengan tidak pergi saat Bagas duduk di sampingnya. Kemudian, tanpa sengaja ia menyunggingkan senyum lagi, yang lebih baik dari sebelumnya.
Setelah Lana tak lagi bisa direkam oleh retinanya, Bagas langsung bergabung pada tim basket yang tadi ia abaikan.
“Betah banget lo duduk sama Lana,” ujar Andi, teman sekelasnya juga.
Bagas tergelak sebentar, “Nyaman,” balasnya ringkas.
“Gimana bisa nyaman, orang diam-diaman gitu?” celetuk Zoe.
“Gue ngikutin nyamannya Lana, kalau diam dia nyaman ya gue juga diam, biar dia tetap nyaman,” jelas Bagas.
“Lo suka?” selidik Bara.
“Enggak tahu juga gue, hahaha,” balas Bagas diiringi tawa teman-temannya.
“Bodo ah, lanjut,” ujar Bara seraya melempar bola basketnya. Permainan mereka pun mulai lagi.
***
Hari Rabu di sekolah diakhiri dengan pelajaran Sejarah Indonesia, pelajaran yang membuat anak-anak kelas XI MIA 5 mengantuk, tetapi tidak bagi Lana. Pelajaran yang memiliki kata Indonesia selalu seru dan indah baginya, mengenal dan berbahasa. Dia menikmati alunan suara dari sang guru dengan seksama, yang bagi teman sekelasnya seperti alunan biola yang lembut menyanyikan lagu tidur yang syahdu.
Teman-temannya tak bisa menenggelamkan mukanya ke meja karena guru Sejarah Indonesia mereka adalah guru yang terkenal ganas dan tegas. Mereka menguap sedikit saja mata elang sang guru segera memicing dan menusuk hingga ke dasar jiwa. Maka dari itu, sebagian besar warga kelas XI MIA 5 berusaha keras agar tetap terjaga memandangi wajah sang guru sangar dan mengenyahkan kantuk demi mendangar penjelasan beliau, meski yang masuk ke dalam rongga telinga mereka tetaplah alunan biola.
Tepat pukul setengah dua, alunan melengking bel tanda pulang sekolah bergema juga, p********n di hari Rabu bagi mereka pun ikut berakhir. Angin segar langsung berhembus di mata mereka masing-masing dan tubuh langsung bugar. Sang guru mengakhiri pelajaran dengan salam penutup lalu keluar diiringi senyum terbaik dari murid-muridnya.
“Bagas, aku nebeng, ya?” pinta Hesti, teman sekelas mereka.
Bagas mendelik, dia tidak menyukai gadis ini. “Biasanya juga lo balik sendiri,” jawabnya ketus.
“Kali ini enggak bawa kendaraan, jadi nebeng kamu, ya?” pinta Hesti diringi dengan rengekannya.
Bagas menggeleng tegas. “Enggak. Gue sama Jingga, cari tebengan lain aja,” cueknya.
Lana melirik Bagas sejenak. “Saya pulang sendiri,” putusnya. Kemudian melangkahkan kakinya melewati Bagas dan Hesti.
“Eh, tapi ....”
“Tuh, Lana enggak mau pulang sama kamu. Jadi, kamu sama aku aja,” ujar Hesti manja.
“Enggak! Gue pulang sendiri juga!” ujar Bagas sembari berlari mengejar Lana.
“Ditinggal?” gerutu Hesti sembari menghentakkan kakinya.
***
Bagas sedikit mempercepat jalannya saat mendapati Lana tidak terjangkau lagi oleh retinanya. Ia bisa menerka bahwa gadis itu sengaja berjalan lebih cepat agar tak bisa dikejarnya. Namun, sepertinya Lana lupa setangguh apa laki-laki yang sekarang ini sedang memperjuangkannya. Bagas tersenyum saat langkah kakinya sudah di dekat Lana.
“Jingga, pulang bersama, ya?” tanya Bagas saat sudah berjalan bersisian dengan Lana.
“Tidak mau.”
“Kenapa selalu menolak?” keluh Bagas.
“Kenapa selalu meminta?” ketus Lana.
“Apa susahnya bilang ‘iya’?” tanya Bagas lagi.
“Apa susahnya untuk tidak mengganggu?” balas Lana tak mau kalah.
Bagas mendengkus untuk ke sekian kalinya di hari ini. “Ternyata kamu mengesalkan juga, Jingga.”
“Harusnya kamu sadar diri, yang lebih mengesalkan itu kamu atau saya?” tanya Lana geram.
“Aku, hehe,” aku Bagas sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ya sudah, pokoknya kamu pulangnya bersama aku,” putusnya, lalu menarik tangan Lana dan tak melepasnya.
Ketika tangan Bagas menggandeng pergelangan tangannya, Lana mulai merasakan gugup dan risih secara bersamaan. Namun, ia tak berusaha untuk melepaskan. Keringat dingin mulai megucur melalui keningnya, jantungnya gugup tak karuan dan mukanya langsung pucat pasi.
Namun, Bagas tak menyadari perubahan yang ada di diri Lana, ia masih tersenyum sangat senang karena berhasil menggandeng tangan gadis itu. Sesekali dia menggoyang-goyangkan tautan tangan mereka untuk menunjukkan pada siswa lain kalau gadis ini berhasil ia genggam tangannya.
Tiba-tiba Bagas merasakan satu hentakan yang cukup kuat di tangannya sehingga genggamannya pada lengan Lana terlepas, ia tidak mampu mencegah dan Lana berlari begitu kencang. Hilang segera dari retinanya, meninggalkan dia yang masih mencerna penyebab yang membuat gadis itu berlari.
“Ditinggal lari lagi?” tanyanya heran pada diri sendiri.
“Apa yang salah pada gadis itu?” tanyanya lagi, “Kenapa Jingga membingungkan?” banyak pertanyaan yang merangkak memenuhi otaknya. Namun, Bagas berusaha untuk tak ambil pusing. Mungkin, Lana perlu waktu, pikirnya.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.