Kelima

2038 Kata
"Terima kasih karena sudah meminta saya menjadi teman kamu, Biru." -Jingga *** Bagas berjalan tergesa untuk menuju ke kelasnya. Rasanya, ada perasaannya yang tidak enak sebelum langkah kakinya sampai ke kelas. Entah perasaan apa itu, tetapi harus segera dia selesaikan sebelum hatinya bertambah bingung. Ia juga bingung, bingungnya untuk apa? Bagas langsung ke mejanya saat sudah sampai ke kelas, “Jingga, aku minta maaf,” ujarnya penuh penyesalan. Lana yang sedang duduk sendirian dengan melakukan hal yang sama seperti hari-hari kemarin mengernyit bingung. Mendengar ucapan Bagas, gadis yang tengah sibuk bersama buku usangnya itu menghentikan kegiatannya. Dengan ragu ia menatap Bagas sebentar, ada raut penyesalan di wajah lelaki itu. Kemudian, menarik seutas senyumnya dan sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi datar lagi. “Punya salah apa?” tanya Lana bingung. Ia memiringkan kepalanya untuk memperhatikan Bagas dengan lebih seksama. Hasilnya adalah laki-laki itu tampaknya menjadi salah tingkah. “Membuat kamu risih.” Bagas menggigit bibirnya demi mengucapkan tiga kata tersebut. Harap-harap cemas dengan balasan Lana selanjutnya. Lana mengangguk lugas, “Bagus kalau sadar,” jawabnya tak acuh, malah cenderung ketus. Dia tidak mengerti kenapa dirinya justru membalas ketus atas permintaan maaf Bagas. Bagas hanya terdiam tak mengeluarkan kata-kata lagi mendapati respon Lana yang tak enak hati. Ia mengembuskan napasnya demi memancarkan kelelahan yang menderanya. Entah lelah untuk apa. Lama dia berharap ada balasan lanjutan dari gadis di sampingnya itu, tetapi yang ia terima hanyalah harapan tanpa tujuan. Tidak berarti untuk siapa-siapa. “Saya juga mau meminta maaf,” balas Lana. Mendengar Lana berbicara lebih dulu sebagai reaksi atas aksinya diamnya, sinar bulan terbit di wajah Bagas. Seperti ada semangat untuk menjadi teman yang muncul lagi di benaknya. Ia menoleh dengan binar mata yang menatap lurus pada gadis itu. Menunggu dengan penuh harap untuk mendengarkan kalimat selanjutnya, tetapi tetap tidak ada. Karena tidak sabar, maka Bagas lantas bertanya, “Minta maaf untuk apa?” Pertanyaan yang ia keluarkan dengan sedikit dibumbui nada semangat. “Tidak bisa menjadi teman kamu.” Kalimat itu seketika meruntuhkan semangatnya yang baru membangun, menumbangkan semangatnya yang baru berdiri, melayukan lagi hatinya yang hendak memekar. Bagas mengembuskan napas lelahnya sekali lagi. Dia menyesal karena tidak membeli buku cara mengerti perempuan saat pergi ke toko buku kemarin. Setidaknya dengan buku itu ada banyak hal yang dapat ia pahami tentang perempuan. Huh. “Tapi Jingga ....” “Kemarin,” potong Lana. Bagas bengong. “Kemarin saya tidak mau menjadi teman kamu.” Lana menarik napas sejenak. “Pada hari ini keputusan saya berubah,” lanjutnya. Bagas menahan napas. Lana terdiam kemudian. Bagas menahan napas hingga wajahnya memucat. Lama ia menunggu lanjutan kalimat dari Lana, tetapi tunggunya tak jua menemui ujung. Akhirnya ia meyerah, lalu memulai bernapas kembali. Dengan ngos-ngosan karena oksigen cadangannya sudah habis tak tersisa. Bagas menggaruk tengkuknya walau tak gatal sebab dia bingung, “Jingga, maksudnya bagaimana?” tanyanya penasaran. “Tidak jelas?” tanya Lana. Dia berpikir sejenak, kemudian wajah cerah kembali menyinari wajah Bagas. “Kamu mau menjadi temanku?” pastinya. “Pikir saja sendiri,” balas Lana lalu kembali tenggelam dalam khayalan bersama buku usangnya. Bagas melonjak kegirangan. “WUAAHHH!!!! SEKARANG AKU RESMI MENJADI TEMAN JINGGA!” teriaknya memenuhi seantero kelas, untungnya kelas masih sepi, hanya mereka berdua yang baru tiba. “AKHIRNYAAAA, AKU JADI TEM- ....” “Jangan terlalu heboh, saya terusik,” ujar Lana dingin. “Eh iya, maaf-maaf, teman. Hehe,” balas Bagas kikuk, kemudian mendaratkan dirinya di bangkunya. “Teman, sedang menulis apa?” tanyanya. “Sekarang saya menyesal menerima kamu menjadi teman,” sesal Lana. “Loh, kenapa?” jawab Bagas bingung. Lana mencebik, “Kamu itu mengganggu sekali,” jujurnya. “Eh iya, maaf. Aku diam deh,” ujar Bagas lalu mengatup mulutnya rapat. Sementara Lana hanya tersenyum mendapati responnya yang mungkin terlihat aneh. Lana kembali mendaki di gunung khayalannya, Bagas kembali menjadi laki-laki yang memperhatikan tiap torehan pena yang digerakkan oleh jemarinya pada buku usangnya. Sesekali pertanyaan laki-laki itu melaju menuju pendengaran Lana, tetapi segera ditepis olehnya. Setelah cukup lama mendaki dan kelas juga sudah ramai dan bising sehingga mengganggu konsentrasinya, akhirnya Lana memutuskan kontak dengan dunia khayalnya untuk sementara. Melihat itu, mata Bagas berbinar dan mulutnya siap melontarkan banyak kalimat untuk bisa berbicara dengan Lana.  “Aku memanggil kamu Jingga atau teman?” tanyanya ketika buku Lana sudah mengendap dengan halus di dasar tas kainnya. Lana mengembuskan napasnya kasar, “Lana,” balasnya singkat. “Lana tidak ada di pilihan, jadi Jingga, teman atau Nai?” tanya Bagas lagi. “Lana.” “Ayolah, jangan Lana, biarkan aku memanggilmu dengan panggilan lain,” pinta Bagas. “Tetap Lana.” “Sekarang aku sudah menjadi orang terdekat kamu.” Bagas tetap gigih. “Lana.” Bagas cemberut, “Ayolah, duh!” ujarnya kesal sendiri. “Lana saja.” “Aku sudah menjadi teman kamu.” “Semuanya juga teman.” “Tetapi ‘kan aku yang meminta dan kamu mengiyakan.” “Kapan saya bilang iya?” tanya Lana. “Tadi barusan kamu bilang iya,” ucap Bagas kalut. Lana menggeleng, “Tidak, saya bilang begini,” ujarnya lalu berpikir sejenak. “Pada hari ini keputusan saya berubah,” ulangnya pada kalimatnya tadi. “Ayolah,” pinta Bagas tak menyerah. “Ya sudah,” putus Lana, terlihat mata Bagas kembali berbinar. “Tetap Lana,” ujarnya memberi keputusan. Bagas menyerah lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangkunya. Bersamaan dengan kekalutan Bagas, bel tanda masuk berbunyi. Selang dua menit guru mereka datang, pada pagi ini mereka belajar kimia. Pelajaran yang sangat Bagas sukai dan Lana tidak sukai. “Selamat pagi, anak-anak,” sapa sang guru. “Selamat pagi, Bu,” jawab para siswa serentak. “Silakan buka bukunya pada halaman dua puluh tiga di materi Sifat Koligatif Larutan Elektrolit, tandai yang penting dengan stabilo. Jika ada yang ingin ditanyakan silakan mengacungkan tangannya.” Ibu Guru memberikan penjelasan, kemudian duduk ke bangkunya dan mulai membaca. Para siswa tidak tahu apa yang sedang dibacanya. “Menurut van’t Hoff, besarnya sifat koligatif larutan elektrolit akan lebih besar daripada nilai sifat koligatif larutan non-elektrolit. Pada larutan elektrolit, zat terlarut mengalami ionisasi dengan reaksi ionisasi sebagai berikut,” jelas sang guru kemudian, sembari mengambil spidol dan berdiri menuju papan tulis untuk menuliskan reaksi kimia. “Nah, setiap nilai mol A menghasilkan jumlah mol keseluruhannya atau mol A ditambah dengan mol B, seperti,” ujarnya lagi lalu kembali menulis, “Jika disederhanakan bentuknya akan menjadi seperti ini,” sambung sang guru lalu kembali menulis. Sang guru terus menjelaskan dengan penuh dedikasi, Bagas memperhatikannya dengan penuh apresiasi, sementara Lana melihatnya dengan depresi. Dirinya sungguh sulit untuk mengerti, baginya yang dijelaskan sang guru tak ubahnya sebagai bunyi hujan yang diiringi geludug, membuat takut sekaligus mengantuk. Dengan senang Lana menelungkupkan wajahnya di antara dua tangannya yang terlipat, menjadikan suara sang guru sebagai alunan piano yang membunyi lembut merasuki alam kantuknya sehingga ia bisa tertidur pulas. Sesekali terdengar dengkuran halus yang membuat Bagas tersenyum tulus. Detik-detik merambat pelan, suara-suara menyambi ringan. Akhirnya sampailah mereka pada penghujung cerita hari Kamis bersama mata pelajaran kimia yang terpatri di jam pertama. Bel pergantian jam akhirnya menderu indah, mata Lana terbuka terang dari tidur nyenyaknya. “Selamat pagi, Jingga,” sapa Bagas. “Menghina saya atau bagaimana?” ketus Lana. Bagas mengedikkan bahunya, “Menyapa,” balasnya. “Oh.” “Setelah ini kita pelajaran apa lagi, Jingga?” tanya Bagas basa-basi. “Itu jadwal pelajaran sudah terpampang di depan kelas, kamu tidak buta ataupun rabun, ‘kan?” balas Lana, Bagas tersenyum malu. Guru selanjutnya pun tiba dengan membawa lembar-lembar kertas yang menakutkan, kertas soal. Guru matematikanya ini terkenal guru yang hobi memberikan ulangan tiba-tiba pada siswanya, pembukanya adalah memberikan ulangan pada saat pertama masuk sekolah. Setelah belajar kimia yang memabukkan, lalu ulangan matematika secara mendadak merupakan runtutan p********n yang sukar dilewati oleh Lana. Dia sulit untuk memahami pelajaran yang diisikan oleh angka-angka seperti kimia, matematika dan fisika. Mukanya langsung mengkerut seribu. “Kita ulangan materi kelas sepuluh kemarin, saya ingin melihat kemampuan kalian memahami pelajaran kalian semester lalu. Simpan semua buku dan catatan kalian, soal berjumlah sepuluh dan memiliki anak dua jadi semuanya berjumlah dua puluh. Kerjakan selama jam pelajaran, jangan mencontek. Ulangan ini saya berikan untuk menentukan indeks pemahaman kalian di pelajaran semester lalu dan sebagai tolak ukur materi yang akan saya berikan pada kalian semester ini. Selamat mengerjakan,” ujar sang guru tanpa mengacuhkan rautan muka melas yang diekspresikan oleh murid-muridnya. Kertas ulangan dibagikan dan salah satu kertas sudah sampai di meja Lana, matanya langsung memicing, kepalanya pusing, dia ingin menangis. Ditutupkannya mukanya dengan kedua tangannya, menetralkan rasa pusing di kepalanya. Walau sebenarnya ia bertambah pusing. “Kamu bisa, Jingga?” Itu suara Bagas, Lana hanya menggeleng. “Kerjakan dulu sebisamu, nanti sepulang sekolah aku ajarkan,” saran Bagas, Lana tetap menggeleng. “Oh ayolah, atau kamu mau menyontek padaku saja?” tawar Bagas, Lana masih konsisten menggeleng. “Lah? Jadi, maunya apa?” tany Bagas lagi, dia tetap berusaha sabar. Sekarang Lana malah mengedikkan bahunya. Bagas menarik napas lelah, “Huh, wanita dan kebingungannya,” ketusnya. Tanpa menunggu respon Lana, Bagas segera tenggelam dalam rumus matematika yang ia cintai setengah lara. Lana pun mulai ikut mengerjakan soal jatahnya dengan bersusah payah, mengerahkan seluruh tenaga dan otaknya, meski banyak bingungnya akhirnya ia berhasil mengerjakan beberapa dari soal yang diberikan. Setelah kepalanya pusing bukan kepalang, akhirnya Lana menjauhkan soal itu dari hadapannya. Karena semakin lama dia memandang soal yang diberikan, semakin besar pula hasratnya untuk muntah. “Menyerah?” tanya lelaki di sampingnya. “Sudah berusaha, tetapi kemampuan saya hanya sebatas itu,” balas Lana. “Ingin mencontek?” tanya Bagas lagi. Lana menggeleng cepat, “Tidak perlu, saya tidak mau berbohong,” jawabnya tegas. “Ya sudah,” jawab Bagas lalu kembali tenggelam dalam soal-soalnya, sementara Lana kembali membenamkan kepalanya di meja, tertidur. “Lanaria Jingga, bukankah kamu sudah tahu bahwa saya sangat tidak menyukai siswa yang tidur di kelas saya!?” suara sang guru menggelegar di kesenyapan kelas, Lana tersentak bangun. Sang guru mendekati meja Bagas dan Lana dengan langkah yang menakutkan dan tatapan yang mengerikan. “Soal yang saya berikan pada kamu sudah kamu kerjakan, Lanaria Jingga?” tanyanya lagi. “Sudah, Bu,” jawab Lana tenang. “Saya mau lihat,” pinta sang guru. Lana memberikan lembara jawabannya. “Tujuh dari duapuluh soal, dan yang benar hanya lima. Ini yang menurut kamu sudah?” tanya sang guru semakin membuat takut. “Saya sudah berusaha, Bu,” jawab Lana tetap tenang. “Selesai jam saya, kamu ikut saya ke ruang guru,” titah sang guru dengan tegas. “Baik, Bu,” jawab Lana menyanggupi. Demi mendengar itu sang guru segera kembali ke tempat duduknya sebagai guru, sedikit merasa kesal pada balasan yang ia dapat dari Lana. Akhirya jam berlalu, semua siswa mulai mengumpulkan kertas jawaban mereka. Berbagai ekspresi terekam, yang mendominasi adalah ekspresi pening dan frustasi. Setelah semua lembar jawaban para siswanya sudah ia terima, sang guru berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Melihat sang guru keluar, Lana pun ikut berdiri dan berjalan menyusul guru. “Jingga, aku temani, ya?” tawar Bagas. “Tidak perlu, terima kasih,” jawab Lana. “Tapi- ....” “Biru, saya tidak apa-apa,” balas Lana. Bagas tercengang. Melihat ekspresi Bagas, Lana hanya tersenyum lirih, laki-laki itu aneh baginya. Lalu, ia memutuskan untuk segera melangkahkan kakinya menyusul sang guru, meninggalkan laki-laki teman sebangkunya yang masih setia bersama ekspresi tercengangnya. Setelah tubuh Lana menghilang dari balik pintu, barulah Bagas kembali ke dunianya. “Jingga memanggil aku Biru?” tanyanya pada diri sendiri. “Temanku lucu juga, hehe,” sambungnya. Bagas tidak beranjak dari bangkunya, ia menunggu Lana, menunggu kabar dari gadis itu. Semoga teman sebangku yang sudah resmi menjadi teman sungguhannya itu baik-baik saja. Sebenarnya tak enak bagi hati Bagas jika tak melihat langsung Lana di sana, tetapi ia harus menuruti perkataan gadis itu, agar statusnya menjadi teman tidak diubah oleh temannya itu. Lima belas menit berlalu, wajah Lana akhirnya muncul dari balik pintu, ekspresi Bagas langsung cerah. Dengan tergesa ia menyambut gadis itu, tepat di depan papan tulis kelas mereka. Namun, tangannya tak bersambut, yang ingin disambut justru melewatinya menuju bangku mereka. “Bagaimana, Jingga?” Bagas langsung memburu Lana dengan pertanyaan. Lana menoleh dan mengernyit bingung, “Apanya?” “Kamu tadi tidak dimarahi, ‘kan?” ujar Bagas memastikan. “Ooh.” Lana menggeleng tenang. “Tidak, tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.” “Kamu gadis yang tenang,” aku Bagas. “Kamu pria yang cerewet dan banyak tanya,” aku Lana polos. “Tetapi aku teman kamu,” balas Bagas tak mau kalah. Lana mengangguk. “Iya,” jawabnya. Lana dan Bagas berakhir diam dan menenggelamkan otak pada pikiran runyam pada masing-masing dari mereka. “Jingga, aku mau bertanya,” ujar Bagas memecah keheningan. Lana menoleh, “Kamu selalu bertanya, kenapa sekarang baru minta izin?” sindirnya. Bagas menunjukkan giginya yang rapi dan putih. “Hehe,” tawanya sembari menggaruk keningnya yang tak gatal. “Tapi serius, sekarang aku bertanya yang serius,” jujurnya. “Tanyakan,” jawab Lana seraya mengambil buku usangnya. “Kenapa kamu memanggil aku Biru?” tanyanya langsung. “Kenapa kamu menanyakan itu?” ujar Lana ikut bertanya. “Jingga, kalau ditanya kenapa itu jawabannya karena bukannya kenapa juga,” balas Bagas sedikit kesal. “Biru, kalau ditanya kenapa itu jawabannya karena bukan menyebut nama dan diikuti kalimat pembenaran,” balas Lana tak mau kalah. “Jingga, ayolah aku serius,” jawab Bagas serasa ingin menyerah. “Mau saya jawab?” tanya Lana memastikan, Bagas hanya mengangguk tak mampu mengeluarkan kata. “Karena bibir saya ingin menyebutkannya,” jawab Lana acuh tak acuh. “Cuma itu?” tanya Bagas memastikan, Lana mengangguk. “Kenapa?” tanyanya lagi. “Berhenti dulu menanyakan kenapa, besok lagi. Sekarang saya lapar dan mau makan, kamu tidak lapar?” ujar Lana. “Kamu perhatian juga,” balas Bagas mesam-mesem. “Tidak, saya cuma takut bekal yang saya bawa akan diminta sama kamu,” jujur Lana yang menyakitkan. “Aku juga bawa bekal,” ujar Bagas seraya mengeluarkan kotak bekalnya. “Oh.” “Selamat makan, Jingga,” ujar Bagas. “Selamat makan …,” ujar Lana terputus, Bagas berbinar. “Saya,” sambungnya, Bagas patah hati. “Jingga, kenapa selalu membawa bekal?” tanya Bagas memecahkan keheningan di antara mereka. “Makan tanpa bicara, bisa?” tekan Lana, Bagas mengangguk cepat. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN