Keenam

1595 Kata
“Jingga, terima kasih karena sudah mengizinkan aku menjadi temanmu dan mulai masuk dalam duniamu.” –Biru *** Detik menjadi menit, menit menjelma jam, jam berubah hari, hari berganti minggu, sudah seminggu Bagas dan Lana menjadi teman. Sudah seminggu Lana tidak ke pasar karena Bagas selalu mengikutinya, rasanya dia tak ingin laki-laki itu mengetahui mengenai hal yang ia amat sukai di pasar: es cendol merah muda Wak Asti. Namun, rindu akan rasa es itu menjelma memenuhi rongga inginnya. Akhirnya ketika pulang sekolah pada hari ini dia memutuskan untuk ke pasar, terserah mau diikuti atau tidak. “Jingga, mau ke mana?” tanya Bagas saat mendapati Lana tergesa menjauhinya. Lana menoleh sebentar, “Pasar,” jawabnya ringkas. Mata Bagas langsung berbinar, karena sejak pindah ke Bengkulu dia tidak pernah pergi ke pasar. “Ikut, ya?” pintanya. Mendatangi tempat-tempat baru memang hal yang digemari olehnya. “Terserah,” jawab Lana lagi-lagi ringkas. Bagas tertegun merasa ada janggal. “Tumben tidak bilang tidak?” tanyanya memastikan. “Memangnya saat saya bilang tidak kamu akan menuruti?” tanya Lana. Bagas menggeleng dengan cengiran khasnya, “Tidak,” jawabnya. “Hmmm …,” gumam Lana. Ia masih berjalan dengan santai untuk keluar sekolah, tidak peduli dengan laki-laki yang sudah mengganggunya semenjak seminggu ini. “Jadi, aku boleh ikut?” tanya Bagas lagi. Lana tidak menjawab. Ia tetap berjalan meninggalkan Bagas yang masih banyak tanya. Sekarang sudah terpatri di pikirannya kalau menjawab pertanyaan laki-laki itu, maka Bagas akan menimbulkan pertanyaan yang baru. Lebih aneh, lebih random dan lebih mengesalkan. Untuk menghindari itu, jadi dia lebih memilih untuk tidak mengacuhkan. Bagas merentangkan tangannya dengan wajah yang penuh tanya. “Jingga, tunggu! Biru ikut!” ucapnya sembari berjalan cepat untuk mengejar Lana. Lana berhenti dan hampir ditabrak oleh Bagas. “Jangan memanggil diri kamu dengan sebutan Biru,” ucapnya. “Eeehh,” ucap Bagas berusaha menghentikan tubuhnya tanpa menabrak Lana. “Kenapa? ‘kan Biru juga namaku,” tanyanya kemudian. “Saya risih mendengarnya,” aku Lana. Bagas mencebik. “Tetapi kamu sering memanggilku Biru,” bantahnya seraya menaik-naikkan alisnya. Lana tercengang sebentar. Sekarang sudah terpatri lagi satu fakta tentang Bagas di pikirannya. Fakta itu adalah ternyata laki-laki ini sangat ekspresif. Semua respon yang Bagas berikan selalu mempunyai ekspresi dan gerak tubuh yang berbeda. Sungguh, Lana tidak bisa membayangkan bagaimana nasib hidupnya ke depan. Setelah puas tercengang, Lana tersadar dan menanyakan, “Sering?” Bagas mengangguk riang, “Iya, sudah tiga kali sepertinya,” terangnya. “Satu kali, minggu lalu,” balas Lana. “Lah?” Bagas mengernyit berusaha mengingat satu momen, kemudian ia menjentikkan jarinya. “Waktu yang di belakang sekolah, banyak kamu menyebut aku Biru,” jelasnya. “Sepertinya saya lupa,” jawab Lana dingin. “Jingga, kamu belum menjawab pertanyaanku,” ujar Bagas lagi. “Pertanyaan kamu terlalu banyak, saya pusing,” balas Lana. “Hmm …, yang itu.” “Hah?” “Kenapa kamu memanggilku Biru?” Lana mengembuskan napasnya, “Sudah saya jawab.” “Tapi aku belum puas sama jawaban kamu.” “Bukan urusan saya,” jawab Lana dingin, Bagas menyerah dan berhenti bertanya. Akhirnya perjalanan mereka ke pasar diisi oleh keheningan Lana, tetapi tidak dengan Bagas. Laki-laki cerewet itu tetap mengoceh dan banyak tanya, gadis di sampingnya masih sama seperti lalu-lalu; tidak menanggapi. Bagas melakukan gerakan-gerakan aneh yang sebenarnya lucu, tetapi tidak untuk Lana. Gadis itu hanya mengernyitkan dahinya ketika melihat pertunjukkan yang diaksikan oleh lelaki aneh yang berada di sampingnya ini. “Kenapa kamu aneh sekali?” tanya Lana saat level kejengahannya sudah sampai ke paling atas. “Huh, aku berharap kamu tertawa, bukan mengernyit aneh dan bertanya seperti itu,” keluh Bagas. “Tidak baik berharap pada manusia,” jelas Lana. Bagas menghentak-hentakkan kakinya sembari tetap berjalan, “Iya, tahu! Tapi ‘kan aku ingin sesekali melihat kamu tertawa dan akulah penyebabnya,” rengeknya. “Sudah di pasar,” ujar Lana memberitahu. “Hah?” Bagas berhenti berlaku seperti anak kecil ternyata banyak orang di pasar yang saat ini sedang memperhatikan mereka. “Kita mau kemana, Jingga?” tanyanya. “Ternyata kamu hanya bisa berdiam dalam waktu lima menit dan ketika belajar, selain itu kamu sungguh cerewet sekali,” keluh Lana. Ia tidak peduli dengan pertanyaan Bagas dan tetap berjalan memasuki pasar. Bagas yang merasa tertinggal, langsung berjalan dengan lebih cepat. “Apa susahnya kamu menjawab semua pertanyaanku?” tanyanya. Lana menapa lurus ke depan, lalu menunduk untuk melihat ujung sepatunya. Risih juga menjadi pusat perhatian di pasar hanya karena rengekan Bagas. “Apa susahnya kamu berhenti bertanya?” desisnya “Susah, hehe.” “Tidak semua pertanyaan harus menerima jawaban, Biru,” terang Lana. “Rasanya aku senang sekali kalau kamu memanggil namaku Biru, Jingga,” aku Bagas. “Rasanya saya jijik sekali mendengar pengakuanmu.” Lana menjawab karena sudah jengah seribu persen, sementara Bagas hanya menunduk sedih. Mereka akhirnya sampai di depan kedai Wak Asti. Melihat pelanggan tetapnya datang, Wak Asti langsung sumringah, terlebih mendapati sang pelanggan datang membawa teman. Perempuan paruh-baya itu memeluk Lana secara tiba-tiba dan Lana pun kaget menerima perlakuan seperti itu, tetapi ia membalasnya tulus. “Rasanya Wak rindu sama Nak Lana,” aku Wak Asti masih memeluk Lana. Lalu, Wak Asti dan Lana sama-sama melepas pelukan mereka. Lana tersenyum manis. “Saya juga rindu, terlebih dengan es cendol merah muda khasnya Wak Asti,” balasnya cerah. “Kenapa seminggu ini tidak ke sini, Nak Lana?” tanya Wak Asti. “Ada … penguntit,” jawab Lana, Bagas hanya tersenyum kikuk. “Wah, hati-hati, Nak Lana. Sekarang banyak penculikan dan organ tubuh korbannya dijual ke luar negeri, loh,” nasihat Wak Asti. Bagas semakin tersenyum kikuk, karena tahu yang dimaksud Lana adalah dirinya. “Iya, Wak,” jawab Lana seraya berjalan masuk ke kedai Wak Asti yang diikuti oleh Bagas di belakangnya. “Siapa laki-laki ini, Nak Lana?” tanya Wak Asti saat melihat Lana sudah duduk di tempatnya biasa. “Penguntit.” “Teman.” Bagas dan Lana menjawab bersamaan, Wak Asti mengernyit mendengar jawaban dua remaja yang berada di kedainya. Kemudian ia tersenyum jahil ke arah Lana. Menggoda gadis yang wajahnya tetap saja datar itu. “Oalah, begitu. Nak Bujang, siapa namanya?” tanya Wak Asti menuju Bagas. “Albiru Bagaskara, biasa dipanggil Bagas, tetapi Jingga berbeda, dia memanggil Biru,” jawab Bagas. “Oh, istimewa,” jawab Wak Asti sembari senyum-senyum. Bagas pun ikut senyum-senyum, sementara Lana memilih untuk tidak peduli. “Nak Lana seperti biasa?” tanya Wak Asti, Lana mengangguk. “Kalau Nak Bujang?” tanyanya pada Bagas. “Seperti biasa juga, Wak,” jawabnya, Wak Asti mengernyit. “Seperti biasa untuk Lana, agar jadi biasa untuk saya, biar saya bisa selalu menemani kebiasaan-kebiasaan Lana, Wak,” jelas Bagas, Wak Asti tercengang, Lana masih tak peduli. “Ya sudah, Wak buatkan es cendol merah muda dua,” putus Wak Asti. Bagas duduk berhadapan dengan Lana, memandang gadis itu, sementara Lana sibuk memandangi meja yang kosong, lebih menarik ia padang dibandingkan membalas pandangan Bagas. Tidak lama es cendol merah muda nan menggiurkan akhirnya nangkring indah di hadapan dua manusia itu, Bagas berbinar, Lana lebih berbinar. Pelan-pelan mereka meminum cairan berwarna merah muda yang manisnya tak berlebihan, menenggak dengan dramatis, merasakan tiap cairannya menyapa relung-relung tenggorokan hingga sampai pada lambung dan menyenyapkan panas di sana. Dengan indah pula masing-masing dari mereka mulai menyiduk isi yang ada di dalam mangkuk tersebut yang terdiri dari cendol kenyal yang berwarna merah muda, potongan cincau hitam yang menggugah selera dan suwiran kecil nangka matang yang amat terasa sedapnya. Ketika suapan demi suapan sudah mendarat dengan baik di mulut mereka, terasa beragam rasa yang menyambangi indra pengecap keduanya. Kenyal, enak, gurih, manis, dan masih banyak rasa, campur aduk. “Jing- ....” “Kunyah dulu,” sela Lana sebelum Bagas menyelesaikan omongannya, Bagas hanya mengangguk pasrah. Setelah menikmati hirupan demi hirupan, suapan disusul suapan berikutnya, akhirnya tandas sudah mangkuk es mereka masing-masing. Bagas masih merasakan enaknya es cendol merah muda Wak Asti, pantas saja Lana suka. “Jingga, aku sudah boleh berbicara?” tanyanya pada Lana. Gadis yang ditanyainya hanya bisa mengangguk pasrah. “Kenapa kamu suka sekali dengan es ini?” tanyanya. “Kenapa kamu itu selalu bertanya pertanyaan yang di awali kenapa pada saya?” balas Jingga balik bertanya. “Aku mau mendengarkan alasan, hehe,” pukasnya lincah. “Saya tidak mau jawab,” tegas Lana. “Harus jawab!” paksa Bagas. “Tidak mau!” ujar Lana tak kalah tegas. “Berarti aku akan menanyakan hal ini selalu. Selalu. Se. La. Lu.” Ujar Bagas penuh penekanan. Lana menyerah. “Karena manis,” jawabnya. “Jawabannya hanya itu?” tanya Bagas heran, Lana mengangguk riang. “Dan kamu menjawabnya harus dengan paksaan?” tanyanya lagi tak kalah heran. “Tidak juga,” balas Lana. “Kenapa?” “Coba kamu hitung dulu sudah berapa kali kamu menanyakan perihal kenapa pada saya hari ini, Biru,” saran Lana tak acuh. Bagas sejenak berpikir, “Tunggu, aku juga manis, kamu suka sama aku atau tidak?” tanyanya pada Lana. Lana mengernyit sebentar. “Tidak,” jawabnya. “Kenapa?” tanya Bagas. “Haha, ini kenapa ke sekian yang kamu tanyakan pada saya,” jawab Lana diiringi tawa singkat tanpa sengaja. “Kamu manis kalau tertawa, Jingga. Tertawa terus, ya?” pinta Bagas. “Kalau tidak lucu dan saya tertawa nanti saya disangka gila,” jawab Lana, masih diiringi tawa yang singkat. “Berarti tadi yang saya ucapkan itu lucu?” tanya Bagas sumringah. “Tidak,” jawab Lana. “Kenapa?” “Hahahaha! Kenapa lagi, hahahah!” Lana tertawa lepas dan Bagas terpukau, ingin memuji, tetapi pujian itu tak keluar dari mulutnya, kelu. “Sekarang jawab kenapaku yang ini,” ujar Bagas sedikit memaksa, Lana mengangguk. “Kenap- ....” “Hahahahahaha, kenapa lagi,” sela Lana, tertawanya sudah tak terkontrol. “Ah, Jingga!” rajuk Bagas. “Iya-iya maaf, saya sudah lama tidak bisa tertawa,” balas Lana. Tersirat kepedihan di sana. Bagas terenyuh. “Kenapa kamu suka es cendol ini?” tanya Bagas serius. “Karena manis.” “Alasan lain.” “Karena ingin.” “Lain lagi.” “Karena mau.” “Ayooo, yang lain lagi.” “Kamu tidak sekalian mencatat jawaban saya?” tanya Lana tiba-tiba. “Maksudnya?” jawab Bagas bingung, keningnya berlipat. “Kamu ‘kan wartawan,” jawab Lana polos, Bagas mengela napas. “Karena esnya manis dan saya suka, Biru,” jelasnya. “Suka aku?” “Tidak.” “Kenapa?” “Karena warna kamu tidak merah muda.” “Tetapi mataku berwarna biru,” bela Bagas. “Tetapi bukan merah muda,” bantah Lana. Bagas terdiam, sudah tak ada hasrat untuk membalas perkataan Lana. Ternyata gadis ini mengesalkan juga, meski jawabannya terlihat polos. “Biru.” “Jingga.” Mereka memanggil bersamaan, Lana sedikit tersipu dan Bagas banyak tersanjung. Gadis itu memalingkan wajahnya sejenak, rasa tidak nyaman mulai menghantui hatinya, tetapi ia tak ingin berlari lagi. sementara laki-laki di depannya tetap menatapnya dengan eskpresi penasaran kenapa dirinya dipanggil dengan sangat lembut oleh gadis di hadapnya ini. “Kenapa, Jingga?” tanya Bagas. “Saya sudah lupa mau berkata apa,” jujur Lana. “Heuh.” Bagas mengela napas sekencang mungkin, sengaja agar Lana merasa bersalah, tetapi gadis itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi merasa bersalah. “Setelah ini mau ke mana, Jingga?” tanya Bagas setelah mereka saling jengah karena terlalu lama saling memandangi. “Pulang.” “Tidak mau jalan-jalan?” tawar Bagas. “Masih siang, panas, lelah dan malas gerak.” “Ck ck ck,” decap Bagas. “Pantas kecil, mungil, boncel seperti kurag gizi begini,” ejeknya tanpa mempedulikan ekspresi Lana yang berubah. Wajah gadis itu menjadi kelam dengan matanya yang memicing. PLAK! “Jingga?” tanya Bagas dengan kaget. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN