“Cerita itu harusnya saya pendam, tetapi kamu justru mengetahuinya.” –Jingga
***
“Ke- ... kenapa?” tanya Bagas takut-takut. Ia juga mengelus pipinya yang tadi menjadi sasaran tamparan gadis itu. Dia menatap ke arah Lana yang menatap penuh emosi padanya. Jujur saya, sesungguhnya Bagas belum menemukan titik salahnya. “Ka- … kamu kenapa, Jingga?”
Lana berdecih, “Ibu saya memberi saya gizi yang cukup dan sangat cukup selama enam belas tahun ini, jika tubuh saya begini, itu adalah takdir dari-Nya,” ujarnya dingin. “Dan kamu, sangat tidak berhak mengatakan seperti itu kepada saya,” sambungnya. Lalu ia berdiri, mengambil uang dari sakunya dan memberinya pada Wak Asti lalu berlari meninggalkan Bagas.
Menyadari perubahan sikap dan ekspresi dari Lana, Bagas menyesali apa yang telah mulut asalnya katakan. Apalagi dengan tamparan yang baru saja didapatkannya. Dengan segera ia membayar dan berlari menyusul Lana, untungnya retinanya masih sempat menangkap ke mana langkah membawa gadis itu berlari. Dirinya berusaha mengejar dan untungnya lagi dia berhasil mengejar perempuan yang sekarang sudah berlinang airmata, dirinya semakin merasa bersalah.
Bagas berpikir Lana akan menumpang angkot seperti biasa untuk pulang ke rumahnya, tetapi kali ini tidak. Bagas tertegun sejenak melihat arah langkah gadis itu, untuk kemudian ikut berlari menyusulnya. Dia merasakan sesak di d**a bukan karena tamparan yang diberikan gadis itu, melainkan sesak karena takut ditinggalkan oleh Lana. Apa yang ia rasakan saat ini?
Gadis itu justru berlari melewati jajaran angkot yang sedang menunggu penumpang, berbelok dan berlari semakin kencang. Jalan yang dipilih oleh Lana adalah g**g sempit yang padat dan kumuh, khas daerah yang berada di dekat pasar. Ia tetap berlari, tak peduli pada pandang mata yang memperhatikan mereka. Lari yang mereka lakukan cukup lama dan jarak yang ditempuh cukup jauh.
Hingga pada akhirnya, langkah Lana berhenti, langkah kaki Bagas pun ikut berhenti. Mereka berdua sama-sama menarik napas karena kelelahan.
Lana memejamkan matanya sejenak untuk merasakan semilir angin yang berhembus di tengkuknya, dingin dan sejuk. Juga kesiur angin yang memain-mainkan anak rambut. Tak hanya itu, ditelinganya terdengar suara riak air meski pelan. Juga ikut kicau burung di atas pohon disambung dengan suara tawa anak-anak yang sedang saling mencipratkan air.
Pemandangan yang pertama Bagas lihat teramat menakjubkan, sebuah danau yang tenang di kelilingi oleh pepohonan yang rimbun. Ia tak menyangka, tak jauh dari pasar yang penuh kebisingan terdapat tempat yang amat teduh dan tentram seperti ini. Kesiur angin juga turut membelai rambutnya, bukan hanya anak rambut Lana. Ternyata bisa seketika tenang saat melihat pemandangan yang hijau ini.
Bahu Lana terlihat masih naik-turun, tandanya ia masih terisak. Bagas hanya berdiri di belakangnya, menatap jauh dan tak berani mendekat pada Lana. Gadis itu berjalan pelan, menuju susunan papan yang berada di pinggir danau, seperti dermaga. Berdiri sebentar di atas papan-papan itu, lalu terduduk. Ia membuka sepatu dan kaoskakinya, lalu menyelupkan kakinya ke air danau yang tenang.
Melihat itu, Bagas berjalan mendekat dengan pelan dan tak mengeluari suara langkah agar tak mengganggu. Lana tetap pada posisinya, diam dan menatap air sungai. Dirinya ingin sekali duduk di samping gadis itu dan melakukan hal yang sama, tetapi hatinya tetap dilingkupi rasa bersalah.
“Duduk saja jika ingin,” terdengar suara Lana yang parau. Khas seseorang habis menangis. “Kalau tidak ingin, kamu boleh pergi kapan pun.”
Bagas menggeleng kencang, “Enggak, aku enggak akan pergi,” ucapnya cepat.
Setelah itu, Bagas membuka sepatunya dan melakukan hal yang sudah Lana lakukan, mencelupkan kakinya ke air danau. Dingin langsung merambat di tubuhnya. Apa yang dia rasakan saat ini bisa dikatakan ketenangan yang nyaman saat air danau menyentuh kulitnya. Seperti relaksasi tak terduga di tempat sederhana.
Lana berdeham beberapa kali, “Ayah saya meninggal pada saat saya berumur tujuh tahun disebabkan kecelakaan. Semenjak itu, Ibulah yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk saya. Saya tidak pernah kekurangan gizi barang sedikit pun ....” Ia menggeleng. “Tidak pernah,” jelasnya, Bagas hanya menyimak.
Lana mendesah pelan, “Takdir-Nya sudah teramat apik tersusun, dan jika dengan tubuh begini saya masih hidup sehat, artinya dengan beginilah takdir yang Ia beri pada saya. Saya tidak akan memprotes-Nya. Justru saya teramat berterima kasih pada-Nya karena telah memberikan saya seorang Ibu yang amat tangguh,” ujarnya lagi, lalu berhenti cukup lama.
“Maafkan aku, Jingga,” ujar Bagas meminta maaf dengan penuh penyesalan.
“Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak bersalah.” Dia menggeleng pelan. “Hanya saja tadi saya sedikit merasakan emosi, tetapi saya harap kamu jangan mengatakan seperti itu lagi kalau tidak mau saya benar-benar marah,” sambungnya.
“Tetapi aku mau minta maaf.”
“Sudah saya maafkan,” balas Lana sedang tak ingin mendebat.
Bagas mengangguk, kemudian kembali memandangi sekitar. “Tempat ini indah, Jingga,” pujinya. “Dingin, tentram, aku tidak menyangka kalau tempat ini berada di dekat pasar. Rasanya tidak mungkin.”
Lana mengangguk untuk menanggapi pujian Bagas barusan. “Saya ingin ke pantai,” ucapnya.
Matanya memandang luas ke seberang danau, di sana ia tahu ada perkampungan yang bisa dikatakan kumuh. Anak-anak yang tinggal di sana sering berjualan Koran, mengamen, bahkan meminta-minta di lampu merah. Tak jarang juga ibu-ibu membawa bayi mereka untuk menambah kadar kasihan calon pemberi sumbangan, entah bayi mereka atau bayi sewaan, Lana tidak bisa mengambil hal baik kenapa yang seperti itu bisa terjadi di bumi ini?
Bagas menoleh. “Sekarang?” Namun, ia mendapati mata lawan bicaranya tak melihat padanya, melainkan memandang lurus ke depan. Ia ikuti pandangan itu, dan dia melihat apa yang saat ini sedang Lana perhatikan.
“Ketika senja.” Lana menggeleng.
“Lalu?” Bagas menoleh lagi dan memperhatikan anak rambut Lana yang sedang dibelai oleh angin.
Lana menoleh dan sontak mata mereka bertabrakan. “Sekarang saya mau pulang, mau membantu ibu sekaligus meminta izin,” ujarnya setelah berhasil menguasai diri.
Bagas tersenyum manis. “Aku temani?” tawarnya.
“Tetapi kamu harus senyap.” Lana tersenyum saat mengajukan syarat itu.
Bagas menunjukkan dua jarinya, “Aku janji,” balasnya. “Nanti aku jemput atau bagaimana?” tanyanya kemudian.
“Tunggu saja di sini.”
Bagas menggeleng, “Tapi jauh.”
Lana mencebik, “Jangan cerewet!” gerutunya. “Kalau kamu cerewet, saya lebih baik pergi sendirian.
“NO!” teriaknya segera, kemudian Bagas nyengir lebar. “Ya sudah, minta nomor teleponmu?”
“Tidak punya.”
“Hah?”
“Tuli, ya?”
“Kenapa?”
“Apanya?”
Bagas menarik napasnya demi membuat pertanyaan yang bisa dipahami oleh Lana dan bisa membuat gadis itu membalas yang sebenar-benarnya. “Kenapa kamu tidak punya telepon?” Ia tersenyum memaksa untuk memberitahu gadis itu kalau dia sedang kesal tingkat akut.
“Tidak ingin.”
Bagas mengerang sebal, kemudian mengatur napasnya. “Lalu bagaimana?” tanyanya pasrah. “Apa aku harus tiba-tiba ada di depan rumah kamu?
“Tidak perlu.” Lana menggeleng. “Jam lima sore kita bertemu di sini, Biru,” sambungnya. Bagas mengangguk.
Setelah melihat anggukan Bagas, Lana melangkahkan kakinya menjauh. Sementara Bagas masih di tempat itu, menunggu hingga jam lima sore. Sekalian ingin menikmati pemandangan ini lebih lama dan memaknainya lebih dalam.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.