Chapter 6 - Obat Pemancing Birahii?

2484 Kata
Aletta memperhatikan pantulan dirinya di cermin kecil di hadapannya. Di lehernya ada sebuah tanda kebiruan. Sebuah kiss mark. Pipi Aletta langsung merona merah begitu pikirannya kembali mengingat apa yang baru saja terjadi kemarin malam. Ya, Damian menciumnya. Sebuah ciuman yang terasa begitu membakar dan menggairahkan. Ini kali pertama Aletta merasakan ciuman yang seperti itu. Rasanya begitu sulit untuk dijelaskan. Bahkan tanpa sadar, tubuh Aletta langsung bergetar saat dirinya mengingat bagaimana liarnya bibir dan tangan Damian saat menciumi dan menggerayangi tubuhnya. Tiba-tiba, ibu mengetuk pintu kamar Aletta, menyadarkan Aletta dari lamunan dan fantasi liarnya. “Aletta? Ada tamu, nak,” kata ibu. “Siapa, bu?” tanya Aletta penasaran. “Namanya Damian. Katanya dia cowok kamu. Kok kamu nggak bilang-bilang ibu sih kalo kamu udah punya pacar?” tanya ibu heran. Baru dipikirin, eh orangnya sudah nongol duluan. Mata Aletta langsung membulat, “Hah?! Beneran?!” kata Aletta kaget. Ibu tersenyum dan mengangguk, “Iya. Dia nungguin kamu tuh di ruang tamu. Jangan lama-lama dandannya.” Aletta harus terlihat cantik. Wajahnya tidak boleh kelihatan seperti baru bangun tidur. ya walaupun aslinya Aletta baru bangun tidur juga sih. Dengan cekatan, Aletta menyisir rambutnya, memakai sebuah lip gloss supaya bibirnya tak terlihat kering lalu memakai sedikit blush supaya ada sedikit rona di pipi mulusnya. Begitu sampai di ruang tamu, ternyata Damian lagi asik ngobrol sama ibu. Aletta tak langsung ikut gabung, tapi diam dulu di pojokan sebentar, mau nguping pembicaraan ibu dan Damian. “Kamu udah lama pacaran sama Aletta?” tanya ibu. Damian tersenyum dan menggeleng, “Belum kok bu.” “Kenal Aletta dari siapa, nak?” tanya ibu lagi. “Sebenernya waktu itu saya nggak sengaja hampir mau nabrak Aletta. Terus saya langsung bawa dia ke rumah sakit, terus sejak itu kita kenalan. Tapi Aletta nggak apa-apa kok bu.” Ibu mengerutkan dahi, “Kok bisa hampir ketabrak? Pantes aja itu anak waktu itu nggak pulang ke rumah. Ternyata di rumah sakit toh.” “Aletta cerita sama saya, waktu itu dia nggak sengaja mergokin Hema sama cewek lain. Mungkin karena Aletta masih shock, dia sampai nggak sadar kalau ada mobil yang jalan deket dia. Dan kebetulan waktu itu lagi hujan, jadi agak buram jalannya,” jelas Damian. Dahi ibu semakin berkerut, “Hema selingkuh? Kurang ajar itu anak. Pantes aja nggak berani main ke sini lagi ..” Damian tersenyum, “Nggak apa-apa, bu. Sekarang kan Aletta udah sama saya.” “Kamu jagain Aletta ya, nak. Ibu nggak mau dia kenapa-kenapa,” kata ibu khawatir. “Iya, bu. Saya pasti akan jagain Aletta,” kata Damian mantab. Begitu ibu dan Damian kelar ngobrol, Aletta baru ikut gabung. Damian tersenyum manis begitu melihat Aletta. “Baru bangun ya?” tanya Damian. Aletta membalas senyum Damian, “Iya. Kok kamu tumben pagi-pagi gini main ke rumah aku?” “Aku mau ngajak kamu ke mall. Kamu mandi dulu gih, abis itu kita makan dulu,” jawab Damian. Aletta tersenyum geli, “Mau ngapain ke mall?” “Ada deh. Mandi dulu sana. Apa mau aku mandiin?” goda Damian. “Nggak! Dasar m***m,” canda Aletta. Namanya juga cewek, mandi dan dandannya pasti lama. Apalagi Aletta mau jalan bareng Damian. Damian kan ganteng, jadi Aletta harus terlihat cantik, iya kan? Begitu sampai di salah satu pusat perbelanjaan, Damian mengajak Aletta ke salah satu butik yang menjual berbagai macam baju dan dress untuk perempuan. Aletta memegang salah satu dress berwarna hijau tosca yang dipakai patung manekin. Bahannya begitu halus dan lembut. Potongannya juga terasa pas untuk tubuh mungil Aletta. Dan lagi, modelnya tidak terlalu seksi dan mencolok. “Kamu suka, hm?” tanya Damian. Aletta mengangguk, “Iya. Dress nya cantik.” Damian memanggil salah satu SPG lalu meminta Aletta mencoba dress tersebut. “Kamu cobain gih. Siapa tau cocok,” kata Damian lembut. Aletta langsung excited, “Beneran?” Damian hanya tersenyum dan mengangguk. Si mbak-mbak SPG membawa Aletta ke ruang ganti, “Ini ruang gantinya, mbak.” Kelar memakai dress tersebut, Aletta langsung tersenyum manis begitu melihat pantulan dirinya di cermin. Dress itu nampak cantik dan cocok sekali di tubuhnya. “Mbak udah kelar ganti baju? Kalo udah, kata masnya suruh keluar sebentar nih. Masnya mau liat,” kata mbak-mbak SPG dari luar ruang ganti. Si mbak-mbak SPG langsung terpana begitu melihat Aletta yang sudah dalam balutan dress tersebut, “Bagus banget mbak. Cocok.” Aletta tersenyum, “Makasih.” Dengan langkah pelan, Aletta menghampiri Damian yang sedang asik duduk sendirian sambil menunggu. Sama seperti si mbak-mbak SPG, Damian juga langsung terpana begitu melihat Aletta. Aletta nampak cantik dan anggun sekali. “Suka nggak?” tanya Aletta. Damian tersenyum lebar, “Suka. Suka banget. Kamu cantik banget, Aletta.” “Thanks,” kata Aletta malu-malu. Damian beralih bicara ke mbak-mbak SPG, “Mbak, bungkus yang ini ya.” Aletta langsung terkejut, “Damian? Aku cuman nyoba aja kok. Nggak usah beli ..” Damian tersenyum, “Nggak apa-apa. Aku beliin ini buat kamu. Aku ikhlas kok.” Dress nya memang bagus sih. Bagus banget malah. Tapi yang Aletta heran, mau dipakai ke mana dress secantik itu? “Makasih ya. Tumben kamu beliin aku dress?” tanya Aletta heran. “Aku mau ajak kamu ke pesta ulang tahun Aksa. Dia temen SMP aku dulu,” jawab Damian. “Pesta ulang tahun?” Damian mengangguk, “Pestanya di rumah dia kok. Aku bakal buat kamu jadi cewek tercantik di pesta itu.” Aletta hanya tersipu malu. Kelar beli dress, Damian mengajak Aletta beli high heels. Awalnya Aletta menolak. Bukan karena tidak bisa pakai high heels, tapi harga sepasang high heels yang sampai 500 ribu itu sangat tidak masuk akal buat Aletta. Apalagi harga dress yang barusan dia beli juga sama mahalnya, hampir 700 ribu. Astaga, masa beli high heels dan dress saja sampai lebih dari satu juta? Kepala Aletta langsung keliyengan saat memikirkan bon harga yang harus dibayar Damian. “Kapan pesta ulang tahun teman kamu?” tanya Aletta. “Besok. Jadi besok siang, aku bakal ke rumah kamu lagi. Aku bakal jemput kamu,” jawab Damian. Mata Aletta membulat, “Besok siang?!” Damian mengangguk, “Kenapa? Kamu nggak bisa ya?” Aletta menghela napas, “Bukan begitu. Aku kan harus kerja ..” Ah, Damian lupa Aletta kan masih kerja. “Hmm ya udah. Aku yang bakal izin ke atasan kamu langsung,” kata Damian. Aletta langsung gelagapan, “Eh, jangan .. Masa izin gara-gara mau ikut pesta? Mana dibolehin?” Damian tersenyum, “Kamu tenang aja. Biar aku yang urus semuanya.” ***** Esok siangnya, Damian berkunjung lagi ke rumah Aletta. Damian juga tak lupa membawa buah-buahan untuk ibunya Aletta. Begitu sampai rumah Aletta, Damian sudah berpakaian rapih. Sebuah tuxedo hitam dan kemeja putih, yang dipadupadankan dengan celana panjang hitam dan pantofel berwarna senada membuat Damian seolah-olah seperti model di Milan Fashion Show. “Kalian pergi sampai malam?” tanya ibu yang masih terpana akan betapa gantengnya cowok di hadapannya ini. Damian tersenyum, “Iya, bu. Sampai malam. Tapi nggak malam-malam banget kok. Saya izin pinjam anak perempuannya sebentar ya, bu.” Ibu tersenyum geli, “Iya. Asal jangan sampai lupa pulang ya. Awas, jangan lupa kabarin ibu!” Damian tersenyum, “Iya. Pasti saya kabarin.” Kelar berpamitan sama ibu, Damian mengajak Aletta ke salah satu salon tempat makeup artist terkenal di kota. “Kita mau ngapain ke salon?” tanya Aletta heran. Damian tersenyum geli, “Ya mau dandan lah, Aletta sayang. Masa mau makan.” “Oh, jadi kamu mau dandan juga nih? Mau coba pake eyeshadow apa lipstick?” canda Aletta. Damian mencium pipi Aletta sekilas, “Aku maunya kamu.” Pipi Aletta merona merah lagi, “Dasar ..” Seorang makeup artist yang agak ‘melambai’ langsung tersenyum lebar begitu melihat Damian datang, “Oh, Damian .. Mon amour ..,” kata sang makeup artist. “Tolong buat cewek gue tampil secantik mungkin. Oke?” “Ah, jadi ini cewek lo?” tanya sang makeup artist. Damian tersenyum dan merangkul pundak Aletta, “Oui. Cantik kan?” “Hmm ini sih tinggal ‘dipoles’ dikit aja. Cus sini, darling,” kata sang makeup artist yang agak ‘melambai’ itu sambil memegang lengan Aletta. Damian lagi-lagi dibuat terkejut saat melihat Aletta begitu kelar didandani sang makeup artist. Sangkin terkejutnya, tanpa sadar Damian langsung bangkit dari tempat duduknya. “Here’s your girl, Damian,” kata sang makeup artist. Aletta berdiri di hadapan Damian. Matanya tersipu malu. Bahkan Aletta sendiri masih tidak yakin apakah pantulan cewek di cermin tadi benar-benar dirinya atau bukan. “Kamu .. Kamu terlalu cantik, Aletta ..,” kata Damian terbata-bata. “Makasih,” kata Aletta malu-malu. “Iya dong. Siapa dulu makeup artist nya,” kata si makeup artist. Begitu kelar dari salon, Damian dan Aletta langsung berangkat ke rumah Aksa. Aksa Waraprada, seorang cowok asli Indonesia yang sudah lama bersahabat dengan Damian. Dari SMP sudah bareng. Dulu waktu sekolah, di mana ada Aksa, di situ ada Damian. Sudah percis kayak kembar siam. Aksa tersenyum lebar dan memeluk Damian begitu melihat kedatangan Damian, “Apa kabar, bro?” “Baik kok. Kenalin, ini cewek gue. Namanya Aletta,” kata Damian. “Wow. Cantik banget. Kok lo mau sih sama Damian?” canda Aksa. Aletta tersenyum, “Entah. Aku juga bingung.” “Namanya juga udah cinta. Iya kan, yang?” goda Damian. Seorang cewek yang tak kalah cantiknya dengan Aletta datang menghampiri. Cewek itu memakai dress hitam yang belahan dadanya begitu rendah. Cewek itu, Ingga Asmarani, salah satu teman baik Damian. Sama seperti Aksa, Ingga cewek Indonesia asli. Tapi berbeda dengan Aksa yang sudah jadi sahabat Damian sejak SMP, Ingga baru kenal dengan Damian saat masih SMA dulu. Sejak saat itu, Aksa, Ingga, dan Damian selalu ke mana-mana bertiga. “Kok kalian ngumpul nggak ngajak-ngajak gue sih?” canda Ingga. “Abis lo lemot sih. Kebanyakan dandan,” canda Aksa. Mata Ingga langsung terpana pada Aletta. “Ah, lo pasti ceweknya Damian kan?” Aletta tersenyum, “Iya. Aku Aletta.” Ingga membalas senyum Aletta, “Cantik. Sama kayak gue.” “Pede banget lo,” canda Aksa. “Shh. Cowok jelek diem aja,” canda Ingga. “Kenan mana?” tanya Damian bingung. Ah, jangan lupakan juga Kenan Lorenzo, si cowok blasteran Indonesia-Italia yang juga salah satu sahabat karib Damian. Damian memang belum lama mengenal Kenan, baru kenal saat masih kuliah dulu, tapi pertemanan keduanya sudah terasa begitu klop. “Lagi minum kayaknya,” jawab Ingga. “Kok nggak lo temenin?” goda Aksa. “Ogah. Lo aja sana,” kata Ingga. Kenan memang menaruh hati pada Ingga. Tapi sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Ingga lebih suka cowok lokal dibanding cowok blasteran. Kelar ‘reuni’ sebentar, Damian mengajak Aletta dansa. Padahal Aletta sama sekali nggak bisa dansa. Apalagi dengan high heels setinggi ini, Aletta lebih fokus sama langkahnya daripada sama dansanya. Aletta takut jatuh. “Kalo aku jatuh, kamu janji ya bakal nolongin aku,” canda Aletta. “Iya. Tenang aja. Kalo kamu jatuh, aku bakal ikutan jatuh juga.” Aletta tersenyum geli, “Buat apa coba?” “Supaya kita malunya bareng,” canda Damian. Kelar dansa, Aletta mampir sebentar ke meja besar yang di atasnya tersedia berbagai macam minuman. Aletta haus, butuh minum. Di sana, Aletta bertemu dengan seorang cowok yang nampaknya agak sedikit mabuk. “Hai,” sapa cowok itu dengan tatapan nakalnya. “Hai juga,” sapa Aletta kikuk. Duh, Aletta harus buru-buru kabur nih. Aletta baru mau jalan meninggalkan cowok itu, tapi cowok itu sudah mulai bicara lagi. “Lo pasti Aletta ya? Ceweknya Damian kan?” tanya cowok itu. Aletta terkejut, “Iya. Kok kamu tau?” Cowok itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya, “Kenalin, gue Kenan Lorenzo. Temennya Damian. Aksa sama Ingga cerita soal lo ke gue. Katanya lo cantik .. dan bener sih kata mereka.” Ah, ternyata ini yang namanya Kenan. Aletta membalas uluran tangan Kenan, “Aletta.” Kenan mengecup punggung tangan Aletta sekilas. Reflek, Aletta langsung menarik kembali tangannya. Kenan tak henti-hentinya menatap Aletta, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Membuat Aletta mulai tidak nyaman dengan keberadaan Kenan. “Lo mau minum ya?” tanya Kenan yang kayaknya sudah semakin mabuk. “Iya ..” Kenan memberikan segelas minuman yang ada di tangannya, “Nih.” Aletta mengerutkan dahi, “Ini apa?” Kenan menyeringai, “Air putih lah. Bukan bir kok. Itu yang ada di atas meja semuanya ada alkoholnya. Kecuali ini.” Aletta memperhatikan sejenak segelas air yang ada di hadapannya. Aletta mencicipinya sedikit. Tidak ada rasa. Tidak ada bau dan tidak ada warnanya juga. Mungkin emang benar air putih? Aletta baru saja meminum dua tegukan saat Damian kembali menghampiri Aletta. “Aletta? Kamu di sini? Aku nyariin kamu daritadi,” kata Damian. Kenan langsung tersenyum begitu melihat Damian, “Woi, bro.” Damian menaikkan satu alisnya. ‘Ini anak pasti mabok lagi nih,’ batin Damian. Begitu kelar minum, Damian langsung buru-buru membawa Aletta pergi. Tadinya Damian hendak mengajak Aletta dansa lagi, tapi entah mengapa, tiba-tiba sekujur tubuh Aletta terasa begitu panas. Damian langsung panik kala melihat wajah Aletta sudah memerah sempurna. “Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Damian. Aletta hanya menggeleng. Apa-apaan ini? Jangan-jangan ini gara-gara minuman yang tadi dikasih Kenan? Damian kembali memegang pundak dan pinggang Aletta, hendak mengajak Aletta dansa lagi. Tapi sentuhan tangan Damian langsung membuat sekujur tubuh Aletta merinding disko. Seperti ada aliran sengatan listrik yang mengaliri tubuhnya. Entah mengapa, Aletta merasa sangat b*******h. Melihat ada yang tidak beres dengan Aletta, Damian makin mengerutkan dahinya. “Kamu dikasih minum apa tadi sama Kenan?” tanya Damian. “Air putih kok ..,” jawab Aletta. “Kamu tunggu di sini. Kalo capek duduk aja dulu, oke?” kata Damian. “Kamu mau ke mana?” tanya Aletta heran. “Aku mau samperin Kenan,” jawab Damian. Akhirnya Aletta cuman duduk manis di pojok ruangan sambil terus mengipas-ngipas tubuhnya yang panas. Damian menghampiri Kenan, yang saat ini sedang asik minum bareng Aksa dan Ingga. “Woi, bro .. Gabung lah sini,” kata Kenan yang sudah benar-benar mabuk. “Lo taro apa ke dalam minuman Aletta tadi?” tanya Damian dingin. Kenan menyeringai, “Cuman obat perangsang kok. Gue penasaran aja gimana efeknya kalo diminum cewek.” Aksa langsung tersedak minumannya sendiri begitu mendengar pengakuan Kenan. “Anjrit,” umpat Ingga. Damian langsung buru-buru menghampiri Aletta lagi. Wajah Aletta sudah semakin memerah. “Damian .. Panas ..,” bisik Aletta. ‘s**t,’ umpat Damian dalam hati. Mata Aletta terlihat begitu b*******h. Dari tatapan mata dan bahasa tubuhnya saja terlihat sekali kalau Aletta sedang ingin bercinta. Damian baru hendak memegang pundak Aletta, hendak membantu Aletta berdiri, tapi Aletta langsung menjauh. “Jangan, Damian. Setiap kali kamu nyentuh aku, rasanya badan aku jadi aneh ..” kata Aletta polos. Duh, semua gara-gara Kenan nih. Apa yang harus Damian lakukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN