Aletta memperhatikan jalanan macet yang tembus melalui jendela kaca mobil dengan tatapan kosong. Aletta masih kepikiran perkataan Hema tadi. Perkataan Hema begitu menyakitkan hati Aletta. Jangan-jangan selama ini Aletta dipandang serendah itu oleh Hema?
Atau jangan-jangan, Hema sengaja selingkuh dengan Gita, semata-mata karena Aletta tidak mau memuaskan Hema di atas ranjang?
Lamunan Aletta terhenti seketika Damian, yang saat ini sedang menyetir mobilnya, mengelus pipi Aletta. “Kamu kenapa, hm?” tanya Damian.
Aletta tersenyum tipis, “Nggak apa-apa kok.”
Damian menatap Aletta sekilas, “Bohong ya?”
Ah, Aletta memang tak pintar berbohong. Aletta menghela napas, “Aku masih nggak abis pikir aja, kok bisa-bisanya ya Hema ngomong kayak gitu sama aku ..”
“Cowok kayak dia emang udah nggak punya otak. Nggak usah dipikirin, Aletta. Aku nggak mau kamu sedih,” kata Damian.
Aletta hanya tersenyum tipis. Terkadang Aletta suka benci pada dirinya sendiri. Aletta memang tipe pemikir alias over-thinking. Susah bagi Aletta untuk tidak memikirkan Hema, meskipun notabene nya Hema sudah menyakiti hati Aletta.
Aletta mengerutkan dahi begitu Damian membawanya ke parkiran mobil. Mau apa Damian di parkiran mobil?
“Damian? Kok kita ke sini?” tanya Aletta bingung.
Kelar parkir mobil, Damian mematikan mobilnya. Damian tersenyum dan menatap Aletta, “Aku mau ajak kamu ke apartemen aku.”
Ekspresi wajah Aletta langsung berubah jadi takut. Apa-apaan ini? Jangan-jangan Damian mau berbuat macam-macam?
Melihat raut ketakutan di wajah Aletta, Damian langsung mencoba menenangkan. “Nggak apa-apa, Aletta. Aku nggak akan ngapa-ngapain kok. Aku cuman mau kasih liat kamu sesuatu,” kata Damian.
Aletta masih tak menjawab. Hanya menatapi kedua mata Damian dengan raut bingung bercampur ketakutan. Melihat Aletta tak kunjung bicara, Damian mulai bicara kembali, “Kamu bisa percaya sama aku, Aletta.”
Tak disangka-sangka, Damian memberikan kunci mobil dan kunci apartemennya, “Nih. Kamu bisa pegang ini.”
Aletta mengerutkan dahi, “Buat apa?”
“Supaya kamu percaya sama aku, kalau aku nggak akan ngapa-ngapain kamu,” jawab Damian.
Ah, benar. Kalau Damian mulai berani macam-macam, Aletta tinggal kabur saja, iya kan? Aletta bisa kabur pakai mobil Damian, atau paling nggak, tendang saja ‘adik kecil’nya di bawah sana.
Dengan tangan sedikit gemetar, Aletta menerima kunci mobil dan kunci apartemen Damian. Setelah itu, keduanya keluar dari mobil dan berjalan beriringan. Aletta masih takut dan ragu-ragu. Karena perkataan Hema, Aletta jadi ikut curiga dengan Damian.
Bagaimana kalau Hema benar? Bagaimana kalau Damian hanya ingin tidur dengan Aletta?
Melihat Aletta nampak takut dan waspada, hati Damian malah teriris. Padahal niatnya baik. Damian tidak akan memaksa Aletta. Damian hanya ingin melindungi Aletta.
Damian dan Aletta hanya berdiri terdiam begitu sudah sampai di depan pintu apartemen. “Kok kamu diam aja?” tanya Aletta bingung.
Damian tersenyum geli, “Gimana aku bisa buka pintunya kalau kuncinya aja ada sama kamu?”
Aletta langsung merogoh saku celana jinsnya. Astaga, Aletta nampak bodoh sekali.
Aletta langsung melongo begitu sudah masuk ke dalam apartemen Damian. Apartemennya luas dan mewah sekali. Bahkan ruang tamunya saja lebih besar daripada kamar tidur Aletta.
“Kamu tinggal sendirian di ruangan sebesar ini?” tanya Aletta yang masih terkagum-kagum.
Damian tersenyum, “Ya gitu deh.”
Bahkan sofa ruang tamunya pun empuk sekali. Jauh lebih empuk daripada ranjang kapuk yang biasa Aletta tiduri setiap malam.
“Kamu udah makan?” tanya Damian yang masih asik berkutat dengan bahan masakan di dapur.
“Belum.” Bosan lama-lama duduk sendirian di ruang tamu, akhirnya Aletta memutuskan menghampiri Damian. Damian lagi masak mie instan rupanya.
“Maaf ya, cuman ada ini. Aku belum belanja bahan makanan lagi soalnya,” kata Damian.
Aletta tersenyum, “Nggak apa-apa kok. Mau aku bantu?”
Damian membalas senyum Aletta, “Boleh.”
Kelar masak mie instan seadanya dan makan bareng, Damian ngajak Aletta ngobrol bareng di sofa empuk yang tadi sempat diduduki Aletta. “Sini,” kata Damian sambil menepuk space kosong di sampingnya.
“Kamu baru pulang kantor ya?” tanya Aletta.
“Kamu tau darimana aku baru pulang kantor?” canda Damian.
Aletta tersenyum geli, “Tau lah. Masa iya pakai pakaian jas rapih kayak gini baru balik dari pasar?”
Damian tersenyum, “Ya kan bisa aja aku jualan pisang di pasar pakai baju kantoran.”
“Bisaan aja kamu,” kata Aletta malu-malu.
Fokus Aletta tiba-tiba terpusat pada sebuah foto keluarga yang terletak di atas meja di samping sofa empuk yang sedang Aletta dan Damian duduki. Aletta mengambil foto itu, lalu begitu terkejut saat memperhatikan wajah seorang perempuan yang sedang menggendong seorang anak laki-laki. Baik perempuan maupun anak laki-laki dalam foto tersebut nampak bahagia sekali. Senyumnya sumringah. Seolah-olah hidupnya tak pernah ditimpa masalah.
Dan yang membuat Aletta terkejut, wajah perempuan itu mirip dengan wajahnya.
“Ini siapa, Damian?” tanya Aletta penasaran.
Tiba-tiba jantung Damian berdegup kencang kala Aletta menunjuk perempuan yang ada di dalam foto tersebut. “Dia almarhum ibu aku ..,” lirih Damian.
“Jadi anak laki-laki yang digendong sama ibu kamu ini .. kamu?”
Damian mengangguk, “Iya. Waktu itu umur aku masih dua tahun.”
Aletta tersenyum, “Kamu lucu banget waktu masih kecil. Chubby.”
Damian bangkit berdiri dan berjalan menuju sebuah rak kecil yang terletak di sudut ruangan, lalu mengambil sebuah album foto dari sana. Album foto yang berisi kenangan masa kecilnya.
Damian memberikan album foto itu pada Aletta. “Ini yang aku mau kasih liat ke kamu,” kata Damian.
Damian duduk di samping Aletta lalu mulai menjelaskan pada Aletta satu per satu kenangan yang ada dalam foto-foto jadul tersebut.
Semakin diperhatikan, Aletta makin terkejut dengan wajah almarhum ibu Damian. Senyum Aletta dan senyum ibu Damian sama.
“Kamu ngingetin aku sama ibu aku, Aletta. Aku senang, mungkin Tuhan sengaja ngirim kamu buat jadi penggantinya ibu,” kata Damian.
Aletta tersenyum, “Almarhum ibu kamu cantik banget, Damian. Siapa namanya?”
“Nindya Rahmadewi. Iya, ibu emang cantik. Sama kayak kamu,” goda Damian.
Pipi Aletta merona, “Makasih.”
“Kamu tau nggak? Katanya kalau muka pasangan kita mirip sama muka anggota keluarga kita, itu tandanya jodoh,” kata Damian.
Aletta tersenyum geli, “Oh, jadi kamu mau bilang kalo aku jodoh kamu gitu?”
Damian membalas senyum Aletta, “Bisa jadi kan? Kalo aku sih maunya iya.”
Aletta mencubit pipi tirus Damian, “Dasar.”
Baik Aletta maupun Damian masih sibuk melihat-lihat foto yang tersusun rapih dalam album foto yang sudah agak usang itu. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Aletta. Damian kecil nampak lucu dan imut sekali. Pipinya masih kemerahan dan chubby. Beda sekali dengan Damian yang sekarang, yang sudah dewasa dan tumbuh menjadi laki-laki manly dan gagah perkasa.
Senyum juga tak hentinya menghiasi wajah Damian, yang saat ini sedang asik berkelana, kembali ke kenangan masa kecilnya. Kenangan masa kecil bersama ibu selalu sukses membuat Damian tersenyum. Oh seandainya ibu tahu, Damian rindu sekali dengan ibu ..
“Yang ini ayah kamu?” tanya Aletta sambil menunjuk ke arah salah satu foto seorang laki-laki. Berbeda dengan foto-foto ibunya Damian yang selalu menampakkan senyum dan raut wajah bahagia, sama sekali tidak ada senyum di wajah foto laki-laki tersebut. Dari fotonya saja, terlihat kalau laki-laki itu wataknya keras dan tegas.
Damian mengangguk, “Iya, itu foto ayah. Ayah emang gitu, jarang senyum.”
Aletta menatap Damian nakal, “Untung anak laki-lakinya murah senyum ya.”
“Iya dong. Kalo nggak murah senyum, nanti aku susah mau ‘gaet’ kamu,” goda Damian.
Aletta terdiam sejenak memperhatikan foto ayah Damian. Selain ekspresi wajahnya yang tidak ada senyum-senyumnya sama sekali, yang menarik bagi Aletta adalah wajah ayah Damian, terutama matanya yang berwarna biru terang itu. Ganteng, sudah pasti. Kalau tidak ganteng mana mungkin bisa menghasilkan bibit unggul kayak Damian. Tapi sepertinya ayahnya Damian bukan orang Indonesia.
“Ayah kamu bukan orang Indonesia ya?” tanya Aletta penasaran.
Damian mengangguk, “Iya. Ayah orang Perancis asli, tapi bisa bahasa Indonesia kok. Ya walaupun nggak selancar aku.”
Ah, pantas saja hidung Damian mancungnya minta ampun. Batang hidung Damian begitu tinggi dan bentuknya lurus sempurna. Mirip perosotan yang biasa dimainin anak-anak TK. Kulit Damian juga begitu cerah dan terang, sama cerahnya seperti warna kedua iris matanya. Damian jadi salah satu bukti kalau perpaduan dua ras yang berbeda bisa menghasilkan bibit yang begitu unggul.
“Hmm biar aku tebak. Ayah kamu pasti ketemu sama ibu kamu di Paris, iya kan?” tanya Aletta penasaran.
Damian tersenyum, “Salah. Tebak lagi dong.”
“Cannes?”
Damian tersenyum dan menggeleng.
“Ih, Damian .. Kasih tau dong,” kata Aletta sambil menggoyang-goyangkan lengan Damian dengan manja. Aletta sudah penasaran setengah mati kayaknya.
Damian tersenyum geli, “Iya, iya. Ini aku kasih tau nih. Ayah pertama kali ketemu sama ibu di Bali. Waktu itu ayah lagi ada business trip di sana. Terus nggak lama itu mereka kenalan, terus jadian deh. Setahun kemudian ayah sama ibu nikah. Nikahnya nggak di Bali, tapi di Yogya. Di kota kelahiran almarhum ibu aku.”
“Hmm biar aku tebak lagi. Kamu pasti lahir di Perancis, iya kan?”
Damian tersenyum, “Salah. Aku lahir di Seoul. Soalnya waktu ibu hamil, ibu lagi nemenin ayah business trip ke Korea. Jadi aku sekalian dilahirin di sana deh.”
Aletta membalas senyum Damian, “Kamu lucu juga ya. Ayah kamu dari Perancis, ibu kamu dari Indonesia, tapi kamu lahirnya di Korea.”
“Iya dong. Kan biar mengglobal gitu,” canda Damian.
“Kamu bisa bahasa Perancis?” tanya Aletta lagi.
“Bisa dong. Kamu tau je t’aime?”
Aletta mengangguk dengan semangat, “Tau. Artinya aku cinta kamu.”
Damian tersenyum dan mencium bibir Aletta sekilas, “Aku juga cinta sama kamu.”
Pipi Aletta langsung merona merah seketika. “Dasar iseng,” kata Aletta malu-malu.
Tiba-tiba, semua rasa takut dan waspada yang tadi sempat menghinggapi diri Aletta menghilang begitu saja. Seolah-olah terhipnotis, Aletta nampaknya sudah terbius dengan pesona seorang Damian Rivellino.
Dengan perlahan, Damian meraih album foto yang ada di pangkuan Aletta lalu meletakkannya di atas meja. Damian menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Aletta, lalu menatap kedua matanya. Mata cokelat itu selalu sukses membuat Damian menjadi gila. Aletta seolah-olah menjadi ekstasi dan candu buat Damian. Keberadaan Aletta selalu mampu membangkitkan gairah dan semangat di dalam diri Damian, dan selalu mampu membuat Damian menginginkan lagi dan lagi.
Damian menangkupkan wajah mungil Aletta dengan kedua tangannya. “Damian ..,” bisik Aletta.
“Shh ..,” bisik Damian. Damian mulai menciumi bibir Aletta dengan lembut. Berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya, kali ini ciuman Damian dan Aletta juga dihiasi gairah dan nafsu yang begitu membakar. Bahkan tanpa sadar, Aletta sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Damian.
Tangan Damian berpindah, kini berada di pinggang ramping Aletta. Dengan perlahan dan tanpa berhenti menciumi bibir Aletta yang kemerahan itu, Damian mulai menindih tubuh mungil Aletta di atas sofa. Gairah dan rasa panas mulai membakar tubuh keduanya.
“Nghh ..,” desahan lolos dari mulut Aletta seketika Damian menciumi lehernya. Damian meninggalkan beberapa tanda kebiruan di leher mulus Aletta. Sebuah tanda yang mengisyaratkan kalau Aletta hanya milik Damian.
Ciuman Damian mulai turun, hingga kini berada tepat di atas gunung kembar Aletta yang masih tertutup kemeja dan bra berwarna kuning. Desahan Aletta makin liar. Bahkan kini tangannya sudah berani meremas rambut tebal Damian, menyalurkan rasa nikmat dan euforia yang diperoleh tubuhnya di sana.
“Damian ..,” desah Aletta begitu merasakan remasan tangan Damian dan hembusan napasnya yang berat menyentuh gundukan kembarnya.
Aletta mulai menggeliat tak nyaman begitu merasakan sesuatu yang keras di bawah sana menyentuh k*********a. Ah, jangan-jangan .. Itu alat keperkasaan Damian?
Damian langsung menghentikan aksinya saat itu juga. Untung Damian masih bisa berpikir dengan akal sehatnya. Ya meskipun miliknya di bawah sana tidak bisa bohong. Sudah berdiri tegak dan minta dipuaskan.
“Maaf,” kata Damian.
Pipi Aletta berubah merah padam begitu melihat sesuatu yang besar dan tegak menonjol dari balik celana kerja Damian. “Maaf, aku kelepasan,” kata Damian.
Aletta tersenyum kikuk, “Nggak apa-apa.”
“Kamu .. beneran nggak marah kan?” tanya Damian takut-takut.
Aletta menggeleng, “Nggak kok.”
“Mau aku anter pulang sekarang nggak?” tanya Damian. Sengaja. Semakin lama Aletta di sini, Damian pasti akan semakin susah mengontrol nafsunya. Apalagi miliknya di bawah sana sudah sangat sesak memenuhi celananya.
“Boleh. Nggak apa-apa nih?”
Damian tersenyum, “Iya. Nggak apa-apa kok.”
Akhirnya Damian mengantar Aletta pulang ke rumahnya. Begitu sampai di depan teras rumahnya, Damian kembali mencium bibir Aletta sekilas, “Aku mencintaimu, sayang.”
Aletta tersenyum, “I love you too.”
Ah, sepertinya Damian harus ‘main solo’ malam ini. Tubuh dan bibir Aletta rasanya begitu memabukkan. Sayang, Damian harus tetap menunggu hingga saatnya tepat. Damian tidak mau Aletta bercinta dengannya hanya karena nafsu. Damian mau semua berjalan karena cinta.