Dengan sorot mata yang begitu berapi-api, terbakar oleh emosi, Damian memukul meja yang ada di hadapannya. Bunyi meja yang dipukul begitu keras itu menggema hingga ke seluruh ruangan. Farah, yang saat ini masih duduk manis di kursi kerjanya, hanya bisa terdiam dan membatu. Tubuhnya sedikit gemetaran, seperti lagi lihat setan. Bahkan cewek sekelas Farah yang biasanya paling disegani kalau lagi PMS pun langsung ciut kalau harus berhadapan dengan Damian. Kelar sesi interview, hari itu Damian langsung bicara empat mata sama Farah. Bukan bicara sih, lebih tepatnya dicaci maki. Damian kesal setengah mati, kenapa bisa tiba-tiba seorang Agnia Anandita kerja di satu atap yang sama dengan dirinya? “Maksud lo apaan sih?!” bentak Damian. “Sabar .. Biar gue jelasin dulu semuanya ..,” kata Farah yan

