Part 19

1198 Kata
Steve membuka matanya secara perlahan. Matanya menyipit saat sinar matahari mulai memasuki indra penglihatannya. ‘Siapa yang buka tirai jendela?’ batin Steve bertanya Steve bangun dari tempat tidurnya. Ia melihat sekeliling ruang kamarnya yang rapi, padahal ia kemarin tidak sempat merapikan karena sakit. ‘Mama kali ya?’ batin Steve Dari pada memikirkan hal yang tidak jelas, Steve memilih untuk pergi mandi. Ia akan pergi ke kantor hari ini. Tiga puluh menit kemudian, ia sudah selesai bersiap-siap dan keluar dari kamarnya. Dari kejauhan menuju tangga, tercium bau yang enak. Steve membelalakkan matanya saat melihat Zanna menyiapkan makanan di meja makan serta ayahnya dan ibunya yang sudah ada di sana. Zanna yang tersadar segera melambaikan tangannya memanggil Steve untuk sarapan. “Eh kamu mau kemana?” tanya Cassey “Ke kantor” jawab Steve “Makan dulu, Zanna udah siapin loh” ajak Cassey “Gak usah ma” tolak Steve “Makan!” ajak Manuel “Jangan banyak alasan!” sambung Manuel Steve menghembuskan nafasnya kemudian duduk menuruti ucapan Manuel. Zanna tersenyum. Beberapa detik kemudian, Alex datang dan duduk di samping Cassey. ‘Lengkap’ batin Zanna sambil duduk di kursi tepat samping Steve. Mereka memutuskan untuk memulai sarapan mereka. “Gimana om rasanya?” tanya Zanna “Enak, kamu pandai masak ya” puji Manuel Zanna tersenyum malu. Zanna menatap Steve yang memakan masakannya. “Gimana menurut kamu?” tanya Zanna “Biasa aja” jawab Steve Steve bangkit berdiri dan izin pamit pergi. “Kamu gak habisin?” tanya Cassey “Kenyang ma” jawab Steve Kemudian ia melangkah pergi. “Maafin Steve ya, sayang” ucap Cassey “Gak apa-apa kok ma” balas Zanna Zanna kemudian izin pamit pada Cassey, Manuel dan Alex untuk pergi menyusul Steve. ******* Steve mulai menghidupkan mesin mobilnya. “BENTAR!” teriak Zanna Steve menoleh sekilas pada Zanna yang berlari kencang dan langsung membuka pintu mobil dibagian depan. Ia duduk di samping Steve. “Yang bolehin lo masuk siapa?” tanya Steve “Gue, hehe” jawab Zanna “Keluar!” usir Steve “Jangan galak-galak dong” ucap Zanna “Dari pada kita pagi-pagi udah ribut, lebih baik kamu bolehin aku ikut, beres kan?” sambung Zanna Steve memutar bola matanya malas dan segera menjalankan mobilnya. Steve yang fokus menyetir mendadak merinding seperti ada yang menatapnya. Ia melihat sekilas ke arah samping dan benar saja Zanna sedang menatapnya. “Lo gak ada kerjaan ya?” tanya Steve fokus kembali melihat jalan “Ada” jawab Zanna “Ada apanya? Tiap hari lo ngikutin gue” respon Steve “Ya itu kerjaan gue” balas Zanna sambil tertawa Steve mengerutkan dahinya kesal. “Kerja itu digaji” ucap Steve "Kan gue digaji" balas Zanna "Mana ada gue gaji" balas Steve lagi "Digaji cinta lo, hihi" goda Zanna "Jangan halu!" seru Steve “Bodo amat” balas Zanna merasa tidak peduli Steve hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. ******** Alvis duduk di cafe di dekat rumahnya. Pagi-pagi begini, ia memutuskan untuk sarapan di cafe itu. Ia menatap gelas minuman yang dingin dan sudah kosong. Tiba-tiba, ia merasa haus dan memanggil pelayan untuk memesan minuman lagi. “Mau mesan ap-“ Pelayan itu berhenti berbicara. Alvis yang merasa mengenal suara pelayan wanita itu beralih melihat sumber suara. Alvis tersenyum saat melihat Aleeza. ‘Duh kenapa harus ketemu sih?’ batin Aleeza merasa sial “Lo ngapain?” tanya Alvis “Kerja” jawab Aleeza “Tapi tadi pesanan gue yang pertama bukan lo yang antar” ujar Alvis “Dia udah pulang, ganti shift” jelas Aleeza Alvis mengangguk paham. “Mau pesan apa?” tanya Aleeza “Lo udah sarapan?” tanya Alvis “Udah” jawab Aleeza “Bohong” ucap Alvis Alvis berdiri dan menarik kursi di depannya. “Duduk” ucap Alvis “Tapi gue lagi kerja” ucap Aleeza “Ya nanti aja kerjanya” balas Alvis “Nanti gimana?” tanya Aleeza “Gak, gue gak mau. Nanti gue dipecat” sambung Aleeza menolak tawaran Alvis “Aduh, gimana ya? Kebetulan orangtua gue yang punya cafe ini” ungkap Alvis “A-apa?” tanya Aleeza merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar Tidak. Sebenarnya Aleeza sudah mendengar ucapan Alvis dengan jelas. Hanya saja, ia meminta pengulangan agar lebih yakin bahwa yang ia dengar itu benar. “Cafe ini keluarga gue yang punya” ulang Alvis “Udah, duduk aja” sambung Alvis Aleeza yang masih kaget hanya menurut saja. “Tapi managernya masih muda” ucap Aleeza polos “Itu abang gue” ucap Alvis Aleeza makin tidak tahu harus merespon seperti apa. Di belakang mereka, terlihat para pegawai lain mulai bisik-bisik membicarakan mereka. ‘Untung aja pagi ini masih sepi’ batin Aleeza Alvis memanggil pegawai lain untuk menerima pesanan mereka. Setelah selesai, pegawai itu pergi. “Kayaknya lo bakalan digibah sama pegawai lain” bisik Alvis sambil mendekatkan wajahnya pada Aleeza Aleeza yang melihat itu, langsung memundurkan wajahnya. “Salah lo” balas Aleeza Alvis terkekeh pelan. Kemudian sampai pesanan mereka tiba, mereka tidak ada berbicara apapun. ‘Duh kok mati topik gini sih’ batin Alvis Alvis melihat Aleeza yang mulai memakan makanannya. Ia tanpa sadar tersenyum saat melihat cara mengunyah Aleeza yang terlihat lucu. “Jangan lihat gue kayak gitu” tegur Aleeza yang membuat Alvis langsung tersadar “Nanti pegawai lain salah paham” smabung Aleeza Alvis hanya diam dan kembali fokus pada makanannya. ****** Zanna menguap kencang. Ia sudah lelah menunggu Steve satu jam lebih karena meeting. ‘Meeting mulu tiap hari’ batin Zanna Tak lama kemudian, Steve masuk ke ruangannya. “Akhirnya kamu selesai” ucap Zanna Steve tidak menggubris ucapan Zanna. Ia duduk di kursinya dan fokus kembali pada laptopnya. “Steve, aku punya ide” ucap Zanna Steve tidak merespon. “Kalau aku jadi sekretaris kamu, seru kali ya?” tanya Zanna Mendengar hal itu, Steve menatap tajam Zanna. “Ya kan biar ada kerja, terus digaji deh. Kayak yang kamu bilang” ucap Zanna “Lo pikir jadi sekretaris gampang?” ucap Steve “Tinggal hubungi papa kamu kan?” tanya Zanna santai “Karyawan lain susah payah masuk ke sini dan lo malah manfaatin status hubungan lo sama papa?” tanya Steve Zanna mendadak merasa malu. “Dan satu lagi, kalau lo jadi sekretaris gue, sekretaris yang sekarang mau lo kemanakan?” tanya Steve “Pecat? Hobi baru lo rebut posisi orang lain?” sambung Steve “Kok lo ngomong gitu sih?” tanya Zanna Kali ini dia tidak pakai embel-embel aku-kamu karena ucapan Steve sangat membuat dirinya kesal. “Oke, ucapan gue yang pertama emang salah, tapi jangan langsung menyimpulkan gitu dong” ucap Zanna Steve menatap Zanna yang sedang kesal. “Siapa suruh lo ngomong gitu?” balas Steve “Lo ngeselin banget sih!” seru Zanna “Emang” balas Steve BRAK! Zanna menggebrak meja Steve. “LO-“ “Permisi” ucapan Zanna dipotong oleh sekretaris Steve yang tiba tiba masuk “Ya?” tanya Steve “Maaf pak, tadi saya dengar suara, saya kira bapak kenapa-kenapa dan butuh bantuan” jawab sekretaris itu “Gak ada apa-apa” balas Steve “B-baik pak, saya permisi” pamit sekretaris itu dan keluar dari ruangan Steve
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN