Part 1
Steve membuka matanya dengan perlahan. Steve melirik sekilas jam dinding yang ada di kamarnya. Jam itu menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas membuka tirai jendela kamarnya. Mata Steve kembali menyipit saat cahaya matahari mulai memasuki ruang kamarnya.
Steve mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan bersiap-siap untuk pergi ke kantornya. Steve saat ini sedang menjadi wakil ayahnya di perusahaan ayahnya. Sambil menjadi wakil, Steve juga akan belajar cara memimpin perusahaan. Ya, perusahaan ayahnya itu nanti akan menjadi miliknya. Lebih tepatnya diwariskan kepadanya.
Waktu terus berjalan, Steve akhirnya selesai bersiap-siap.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar Steve dari luar.
“Ya?” jawab Steve
“Kak, ayo sarapan!” ajak Alex
“Ya” jawab Steve
Alexander Aaron William yang biasa dipanggil dengan sebutan Alex merupakan adik kandung dari Steve Dion William. Umur mereka hanya berjarak dua tahun. Jika Steve sekarang berumur 25 tahun maka Alex berumur 23 tahun. Berbeda dengan Steve yang akan diwariskan perusahaan utama, Alex akan mendapatkan perusahaan ayahnya yang lain. Lebih tepatnya anak perusahaan milik ayahnya.
Steve segera keluar dari kamarnya dan turun untuk menuju meja makan. Di sana Steve menemukan ibu dan adiknya. Steve duduk di samping Alex.
“Papa mana?” tanya Steve
“Gak tahu” jawab Alex singkat sambil mengangkat kedua bahunya
Steve menghembus nafasnya secara perlahan. Alex benar-benar sama seperti dirinya. Alex dan Steve bahkan sangat jarang berbicara kecuali dalam hal penting. mereka sangat akrab saat masih menginjak sekolah dasar. Alex masih ceria disitu sampai akhirnya sifat ayah mereka juga menurun padanya sejak masuk SMP.
“Papa mana, ma?” tanya Steve
“Udah berangkat duluan ke kantor” jawab Cassey, ibu dari Steve
Steve hanya mengangguk paham.
“Kata papa kamu, nanti malam papa mau bicara sama kamu” ujar Cassey
“Untuk apa, ma?” tanya Steve
“Kayaknya mau bicarain tentang perjodohan kamu” jawab Cassey
‘Perjodohan?’ batin Steve bertanya
“Pokoknya kamu pulang cepat nanti malam” ujar Cassey
Steve hanya membalas dengan anggukan. Alex lebih dulu menyelesaikan kegiatan makannya.
Alex bangkit berdiri dan pamit untuk pergi pada Cassey. Cassey menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat kepergian Alex sebelum beralih menatap Steve.
Steve yang merasa di tatap oleh Cassey secara perlahan menaikkan salah satu alisnya.
“Kenapa, ma?” tanya Steve
“Kamu sama adik kamu kayak orang asing” jawab Cassey
Steve hanya diam. Tidak tahu mau menjawab apa.
“Lihat tuh, mau pergi aja gak pernah pamit ke kamu kan?” sambung Cassey
Lagi-lagi Steve hanya diam.
“Padahal sama beberapa orang adik kamu gak sedingin itu” lanjut Cassey
Steve kembali diam.
Cassey menghembuskan nafas berat melihat tidak ada respon dari Steve.
‘Mereka berdua pernah ada masalah apa gimana sih?’ batin Cassey
“Kamu pernah ada masalah dengan adik kamu?” tanya Cassey
Steve menggeleng dan menyelesaikan kegiatan makannya.
“Aku pergi dulu ma” pamit Steve
Cassey mengangguk dan mengusap pelan rambut Steve sambil tersenyum hangat.
Steve akhirnya beralih menuju kantornya.
******
Zanna melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Jam itu menunjukkan pukul sembilan pagi. Zanna bergegas keluar kamar untuk sarapan.
“Kamu kok baru sarapan sih?” tanya seorang perempuan yang sudah berumur 49 tahun
Zanna menoleh ke arah sumber suara dan menemukan ibunya, Hanna Eve.
“Baru keluar kamar ma” jawab Zanna
“Iya kenapa baru keluar kamar?” tanya Hanna
“Baru selesai nulis cerita untuk keperluan penerbitan” jawab Zanna
“Kamu masih nulis-nulis cerita?” tanya Hanna
“Iya ma, hehe” jawab Zanna
Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat anak semata wayangnya itu, Zanna Brielle Amarise.
Zanna memulai sarapannya dengan dua potong roti yang dioles selai cokelat.
Suara langkah terdengar, Zanna menoleh ke arah belakang dan menemukan ayahnya, Jonathan Ama.
“Aku kira papa udah pergi ke kantor” ujar Zanna
“Sebentar lagi” balas Jonathan
“Kamu masih ingatkan soal perjodohan yang papa bilang tahun lalu?” tanya Jonathan
Zanna mengangguk.
“Perjodohannya udah di jadwalkan” ujar Jonathan
“Cepat banget, pa” keluh Zanna
“Umur kamu udah berapa sayang?” tanya Jonathan
“Gak bagus lama-lama nganggur” sambung Jonathan
‘Perasaan umur gue masih 24 tahun, belum tua-tua amat’ batin Zanna
“Ya kalau belum siap mau gimana , pa? Daripada nanti cerai” ungkap Zanna
“Kalian kan di kasih waktu untuk saling mengenal juga” ujar Hanna
Zanna hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak ingin berdebat.
“Jadi, besok kamu jangan kemana-mana” ucap Hanna
Zanna mengangguk lagi.
“Emang acaranya kapan, pa?” tanya Zanna
“Malam sih pertemuannya” jawab Jonathan
Zanna mengangguk paham.
“Ya udah, papa ke kantor dulu ya” pamit Jonathan pada Zanna
“Iya pa, hati-hati ya pa” ucap Zanna
Jonathan mengangguk dan pamit juga kepada Hanna.
******
“Lama banget sih” keluh Zanna
Sekarang Zanna tengah berada di suatu Cafe yang berada tidak jauh dari rumahnya untuk bertemu dengan ketiga temannya.
‘Sabar, Zan’ batin Zanna menenangkan dirinya
“Halo cantik, ikut oom yuk” sapa Amanda, sahabat Zanna sejak Kuliah dan diikuti oleh Aleeza dan Gianina, sahabat Zanna sejak duduk di bangku SMA
Zanna menatap kesal ke arah sumber suara.
“Jangan marah dong cantik” ucap Amanda
‘Sabar Zanna, jangan marah. Nanti keriput’ batin Zanna
Gianina terkekeh mendengar ucapan Amanda.
“Gak ada yang lucu, Gia” ucap Amanda
“Cara lo ngomong lucu” ucap Gianina
Amanda tersenyum merasa bangga entah kenapa.
“Kenapa?” tanya Aleeza
“Apanya?” tanya Zanna balik
Aleeza berdecak kesal.
“Lo ajak ketemu mau ngapain? Reuni?” tanya Aleeza kesal
“Santai dong, Al. Lo kayak orang sibuk aja yang gak bisa diajak ketemu sebentar” ujar Amanda
“Gue emang sibuk” balas Aleeza
“J-jadi gini, kalian masih ingatkan kalau gue bakalan dijodohin?” tanya Zanna
“Lah jadi?” tanya Gianina
Zanna mengangguk.
“Ya ampun, perasaan bokap lo bilangnya tahun lalu, kirain udah basi” ucap Aleeza
“Gue juga udah berharap banget gak bakalan jadi” ucap Zanna
“Udah, lo jalanin aja” ucap Amanda
“Orangtua lo gak mungkin lah kasih yang buruk, pasti yang ganteng, kaya, baik” sambung Amanda
“Kalau ternyata udah tua gimana?” tanya Gianina sambil tertawa
“Ya udah, lo jadikan aja sugar daddy lo” jawab Amanda
Amanda dan Gianina tertawa.
“Gila! Masa orangtuanya Zanna bakalan kasih om-om sama anak semata wayang mereka” ucap Aleeza kesal
“I-iya juga ya” ucap Gianina
“Ya udah berarti seumuran atau mungkin yang umurnya gak jauh beda sama lo” ucap Amanda
Zanna menundukkan kepalanya.
“Lo kenapa sih? Masih ingat dia?” tanya Aleeza
“Siapa?” tanya Amanda
“Itu si-siapa sih namanya?” tanya Aleeza balik
“Siapa? Mantannya?” tanya Gianina
“Iya, itu loh yang terakhir” jawab Aleeza
“Yang terakhir? Siapa ya? Gue juga lupa, udah lama banget” ucap Amanda
“Steve” jawab Zanna singkat
“Ah iya itu” ucap Aleeza
“Ya ampun, Zan. Udah tahun berapa itu? Pas SMA kan?” tanya Amanda
Gianina mengangguk.
“Gue masih…” ucap Zanna menggantung