“Ya elah, Zan. Udah tahun berapa itu? Pas SMA kan?” tanya Amanda
Gianina mengangguk.
“Gue masih…” ucap Zanna menggantung
“Gue masih belum bisa lupa” sambung Zanna
“Lupa apa? Kenangan kalian?” tanya Amanda
“Iya sih, kalian kan pacaran satu setengah tahun” sambung Gianina
“Tapi dari SMA, itu udah lama banget. Lo aja bahkan udah tamat kuliah, Zan” ucap Amanda
“Bukan cuman kenangan, gue masih belum bisa lupain perasaan gue” ucap Zanna
Aleeza menatap malas Zanna.
“Kalau cuman untuk menggalau gue pulang aja deh” ucap Aleeza
“Aw!” ringis Aleeza saat Amanda menginjak kakinya
“Lo bisa baca situasi gak sih?” bisik Amanda
“Lagian lo galau mulu, maju dong!” seru Aleeza
“Dia udah ninggalin lo, sadar dong Zan” sambung Aleeza
Zanna menundukkan kepalanya. Yang diucapkan Aleeza itu ada benarnya.
“Sekarang lo mau dijodohin, apa kabar sama dia kalau dia tahu lo masih hidup di masa lalu?” tanya Aleeza
“Iya, Zan. Aleeza walaupun mulutnya ceplas-ceplos kasar tapi dia ada benarnya juga” ucap Amanda yang menuai tatapan tajam dari Aleeza
Amanda terkekeh saat melihat tatapan tajam dari Aleeza.
“Udah deh, lebih bagus lo fokus aja. Siapa tahu laki-laki itu nanti bisa buat lo jatuh cinta?” tanya Gianina
“Intinya lo harus lupain si Steve-Steve apalah itu namanya” ucap Aleeza
“Udah kan? Gue sibuk, gue pulang” pamit Aleeza
Amanda menatap tajam Aleeza yang sudah bangkit berdiri.
“Apa? Gak suka lo?” tanya Aleeza
“Ampun bang” jawab Amanda
Aleeza pun pergi meninggalkan mereka bertiga.
Zanna tersenyum melihat kepergian Aleeza. Aleeza memang begitu.
“Biasalah, Zan. Anaknya gak pernah jatuh cinta jadinya gitu deh” ucap Amanda
Gianina mengangguk setuju.
“Iya, gue udah kenal banget kok sama dia” ucap Zanna
“Kalian gak pesan apa-apa?” tanya Zanna membuka topik baru
“Oh iya” ucap Amanda
“Pesan aja, gue yang traktir” ucap Zanna
Amanda dan Gianina mengangguk dengan semangat.
*******
Steve sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mulai bersiap-siap untuk pulang.
Steve melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Steve keluar dari ruangannya dan menuju tempat parkir mobil.
Dalam perjalanan, Steve berhenti karena lampu lalu lintas yang sudah menunjukkan warna merah. Steve melihat sekitar dan menemukan orang yang tampak tidak asing baginya.
‘Alex?’ batin Steve
Steve menyipitkan matanya dan sadar bahwa itu memang Alex.
Alex sedang mengemudikan mobil dengan kaca mobil terbuka yang memperlihatkan Alex sedang bersama orang lain. Dan orang lain itu adalah seorang gadis cantik yang mungkin juga seumuran dengan Alex.
Steve tertegun saat melihat Alex yang tersenyum lebar pada gadis itu.
“Kamu sama adik kamu kayak orang asing”
“Padahal sama beberapa orang adik kamu gak sedingin itu”
Ucapan Cassey kembali terlintas di pikiran Steve.
‘Pacar Alex?’ batin Steve
Steve mengusap pelan wajahnya lalu kemudian kembali melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.
*******
Steve sampai di rumahnya dan memarkirkan mobilnya. Ia keluar dari mobilnya dan masuk ke rumahnya.
“Ayah kamu bentar lagi pulang, ayo makan!” ajak Cassey
Steve mengangguk.
“Adik kamu belum pulang?” tanya Cassey
“Belum, lagi ada urusan mungkin” jawab Steve
“Sama pacarnya kali ya?” tanya Cassey
“Mama tahu Alex udah punya pacar?” tanya Steve
“Udah” jawab Cassey
“Sejak kapan?” tanya Steve
“Tahun lalu kayaknya, Alex juga sempat bawa pacarnya ke sini” jelas Cassey
‘Oh, gue baru tahu’ batin Steve
“Kamu baru tahu Alex punya pacar?” tanya Cassey
“Udah tahu dari lama kok ma” jawab Steve sambil tersenyum pahit
Cassey mengangguk paham.
“Pacar Alex namanya Karina, orangnya cantik, walaupun dari keluarga sederhana tapi kayaknya dia anak yang baik” jelas Cassey
“Semoga gadis yang mau dijodohin sama kamu bakalan cocok sama kamu ya” ucap Cassey
Steve hanya menanggapi ucapan Cassey dengan seulas senyuman tipis.
Beberapa menit kemudian, ayah Steve pun tiba di rumah.
Steve hanya duduk menunggu di sofa ruang keluarga sampai ayahnya selesai bersih-bersih diri.
Tidak lama, ayah Steve pun menghampiri Steve dan duduk di sofa yang satunya disusul oleh Cassey.
“Udah makan malam?” tanya Manuel William, ayah Steve
“Udah, pa” jawab Steve
“Kamu setuju kan sama perjodohan itu?” tanya Manuel
“Kalau enggak setuju, emang bisa dibatalin?” tanya Steve
“Gak bisa” jawab Manuel
Steve mengangguk paham.
“Berarti papa udah tahu jawabannya” balas Steve
“Papa kira kamu bakalan memaksa untuk nolak” ucap Manuel
Steve menggeleng.
Manuel tersenyum.
“Bagus, kalau gitu papa ke kamar dulu” pamit Manuel
Steve mengangguk.
“Mama janji kamu bakal cocok sama gadis ini” ujar Cassey
“Mama ada fotonya, kamu mau lihat?” tanya Cassey
“Aku lihatnya besok aja ma, secara langsung” jawab Steve menolak tawaran Cassey
“Kenapa? Kamu takut tertipu sama filter?” tanya Cassey seraya tertawa
“Fotonya tanpa filter kok, emang cantik” sambung Cassey
“Bukan gitu ma, Steve masih ada urusan kantor, jadi Steve ke kamar dulu ya” pamit Steve
Cassey mengangguk. Steve pun melangkah pergi menuju kamarnya.
Beberapa menit setelah Steve masuk ke kamarnya, Alex pun tiba di rumah.
“Kamu udah makan?” tanya Cassey
“Udah, ma” jawab Alex
“Sama siapa?” tanya Cassey
Alex tersenyum.
“Oh sama Karina?” tanya Cassey
Alex mengangguk.
“Ya udah, ganti baju sana” ucap Cassey
Alex pun pergi masuk ke kamarnya.
******
“WHATT?!” teriak Dean
“Duh telinga gue” keluh Sam
Sekarang Steve sedang bicara dengan kedua sahabatnya melalui via telepon. Dean, sahabatnya sejak kecil dan Sam, sahabatnya sejak SMP.
Steve menjauhkan ponselnya dari telinganya saat Dean berteriak.
“Biasa aja kali” sambung Sam
“Tapi itu kan udah tahun lalu, masa di bahas lagi?” tanya Dean
“Ya mana gue tahu” jawab Sam
“Gue gak nanya sama lo” ucap Dean
“Ya elah” ucap Sam
“Ngomong dong, Steve!” seru Dean
“Kenapa jadi gue yang heboh sih?” sambung Dean
“Ya gue juga kira gak bakalan jadi” jawab Steve
“Tapi ternyata jadi” sambung Steve
“Cantik gak ceweknya?” tanya Sam
“Kata mama cantik” jawab Steve
“Lo gak lihat fotonya?” tanya Dean
“Enggak” jawab Steve
“Kenapa?” tanya Sam
“Malas” jawab Steve
“Bego!” umpat Dean
“Lagian bakalan ketemu juga kan?” tanya Steve
“Ya setidaknya lo lihat fotonya, lo kirim ke kita, kita mau lihat juga” jawab Dean
“Kita? Lo aja kali. Gue gak sekepo itu” ucap Sam
“Oke, pada saat ini gue pengen banget jambak rambut lo” ucap Dean pada Sam
“Dih, jambak-jambak kayak cewek lo” ucap Sam
“Emang! Dan aku masih gadis mas Sam sayang” goda Dean
“Ish menjijikkan!” seru Sam
Steve tertawa kecil mendengar kebodohan kedua sahabatnya itu.
“Gue lebih jijik sama lo!” seru Dean
“Udah deh gue matiin ya” ucap Steve
“Eh tunggu!” seru Dean
“Ana udah tahu soal ini?” tanya Dean
“Siapa?” tanya Steve
“Ana, Anahera Angel” jawab Dean