Part 26

1217 Kata
“Seriusan?” tanya Aleeza Zanna mengangguk. Saat ini, ia sedang menceritakan pada teman-temannya bahwa ia dan Steve sudah resmi berpacaran. Mereka sekarang berkumpul di rumah Amanda lagi. “YEAY!” teriak senang Amanda “Gak seru ah balikan!” seru Aleeza “Udah, Al. Jangan cemburu!” seru Amanda “Untuk apa gue cemburu?” tanya Aleeza “Kayaknya lo sama Steve harus dipertemukan deh” saran Gianina “Gak!” tolak Aleeza cepat “Boleh juga” balas Zanna “Zan, lo jangan buat ide yang aneh-aneh ya!” seru Aleeza Zanna terkekeh. ‘Telat, Al. Gue ada ide seru’ batin Zanna “Nanti malah berantam! Kan Aleeza dendam banget sama Steve” ucap Amanda “Udah gak dendam lagi! Asalkan dia gak lakuin hal yang sama kayak dulu” jelas Aleeza “Ciee, udah maafin Steve nih?” tanya Gianina “Lagian gue gak berhak marah lama-lama, orang yang disakitin aja gampang banget maafin!” seru Aleeza menyindir Zanna Zanna hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Udah berapa lama lo ngejar dia Zan?” tanya Gianina “Hampir dua bulan deh kayaknya” jawab Zanna “Widih, gerak cepat juga lo ya!” puji Amanda “Ya itu cepat karena Steve juga masih ada rasa sama dia, kalau gak ada ya lebih lama lagi” ungkap Aleeza “Iya juga ya” balas Amanda “Gak tahu deh! Gue lagi kesal banget!” seru Aleeza “Kesal kenapa?” tanya Zanna “Karena Alvis!” jawab Aleeza “Kenapa sama Alvis?” tanya Zanna Aleeza menceritakan kejadian dari awal hingga akhir pada Zanna, Amanda dan Gianina. ‘Entah kenapa gue rasa Alvis suka sama Aleeza’ batin Zanna ‘Apa gue salah ya?’ batin Zanna lagi “Kesal gak sih?” tanya Aleeza “Mau undur diri tapi cari kerja susah, jadi bingung” sambung Aleeza “Lo mau ngundurin diri cuman karena itu aja?” tanya Amanda “Bukan karena itu aja sih, gue risih” jawab Aleeza “Risih kenapa?” tanya Gianina “Risih karena-“ Aleeza tidak melanjutkan perkataannya dan beralih menatap Zanna. “Kok lihat gue?” tanya Zanna “Enggak, gue asal lihat aja tadi” jawab Aleeza ‘Gak mungkinkan gue bilang kalau gue risih karena Alvis ganggu gue lagi kerja terus untuk nanya-nanya tentang Zanna?’ batin Aleeza “Karena apa? Lanjutin dong!” ucap Gianina “Ya karena risih aja” balas Aleeza “Saran gue jangan deh, seperti yang lo bilang tadi kalau cari kerja itu susah” ucap Zanna “Lagiankan lo pintar, lo juga sarjana kenapa gak cari kerja tetap aja sih?” tanya Amanda “Gue kan cari kerja sambil kerja, jadi waktu tes wawancara gue gak ada waktu mulu, jadinya ditolak gitu” jawab Aleeza Amanda mengangguk paham. “Eh udah waktunya gue kerja, gue pergi dulu ya” pamit Aleeza Zanna, Amanda dan Gianina mengangguk. ********* “Hasil presentasi kamu gitu aja?” tanya Steve pada salah satu karyawannya saat sedang rapat “Iya pak” jawab karyawan laki laki itu “Coba kamu lihat! Kenapa yang kanan sama kiri bisa berbeda hasil hitungnya?” tanya Steve Karyawan lain hanya diam sambil menunduk. Karyawan yang sedang presentasi itu menatap layar presentasi itu dan menyadari bahwa ada kesalahan. “M-maaf pak” ucap karyawan itu “Kamu tahu gak kesalahan kecil kayak gini bisa jadi kesalahan besar?” tanya Steve “T-tahu pak” jawab karyawan itu “Salah satu angka aja itu bisa berpengaruh besar” ucap Steve “M-mohon maaf pak, sekali lagi saya minta maaf” ucap karyawan itu “Kamu perbaiki, rapat selanjutnya kalau ada kesalahan lagi, kamu tahukan apa konsekuensinya?” tanya Steve serius “I-iya pak, baik pak” jawab karyawan itu “Rapatnya sampai sini dulu, kalian boleh kembali” ucap Steve Para karyawan mengangguk dan segera pergi meninggalkan Steve di ruangan meeting itu. Steve memijat pelan keningnya yang terasa sakit sejak pagi. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam ruangan tersebut. “Kalau mau jumpa saya, nanti aja” ucap Steve berpikir itu karyawan “Kalau gitu aku pulang aja?” tanya seorang gadis Steve yang tadinya tidak menoleh sedikitpun langsung menoleh dengan cepat karena mengenal suara perempuan itu. Ya. Benar. Orang itu adalah Zanna. Perempuan yang kini resmi menjadi kekasihnya. “Kamu kok ke sini?” tanya Steve “Gak boleh?” tanya Zanna “Boleh” jawab Steve “Aku bawain kamu makanan, special karena ini hari kedua kita resmi pacaran” ucap Zanna sambil tersenyum “Hari ketiga dan seterusnya dirayain juga?” tanya Steve sambil tersenyum tipis “Enggak dong, ini untuk perayaan awal dan semoga tidak ada perayaan akhir” jawab Zanna Steve tersenyum. Steve menggenggam tangan Zanna dan menariknya untuk menuju ruangannya. “Kita makan di ruangan aku aja” ucap Steve setelah mereka sampai di ruangan Steve Zanna hanya mengangguk setuju. Mereka lalu duduk di sofa ruangan Steve. “Kamu emangnya lagi gak sibuk?” tanya Zanna “Gak terlalu” jawab Steve Zanna mengangguk paham. “Kamu kok pucat? Lagi sakit?” tanya Zanna “Jelas banget? Padahal aku cuman pusing aja” jawab Steve “Kamu udah sarapan?” tanya Zanna Steve menggeleng. “Pasti gara belum sarapan, coba nih makanan buatan aku” ucap Zanna sambil menyodorkan sepotong sandwich telur dengan irisan sayuran Steve menerima sodoran itu dan memakannya segigit. “Gimana?” tanya Zanna “Enak” jawab Steve sambil mengunyah Zanna tersenyum senang. Steve mengambil alih sandwich telur dari tangan Zanna dan memakannya dengan tangan sendiri. Tidak ingin merepotkan gadis itu. Terlalu terburu-buru, Steve tersedak dan batuk-batuk. Zanna segera menyodorkan sebotol air minum yang juga ia bawa. Setelah minum, Steve menyatakan dirinya baik-baik saja. “Makanya jangan bur- buru, gak ada yang mau rebut makanan kamu kok” ucap Zanna “Sayurnya kurang banyak” ucap Steve “Lain kali aku banyakin. Kalau perlu sayur semua aku buat” balas Zanna mengomel Steve tertawa kecil melihat kekasihnya tengah mengomel. Steve sudah menghabiskan tiga potong sandwich. “Gimana?” tanya Zanna “Apanya?” tanya Steve “Masih pusing?” tanya Zanna Steve terdiam sejenak untuk merasakan pusing di kepalanya. “Udah lumayan” jawab Steve “Sini biar aku pijat kepala kamu” ucap Zanna “Eh gak usah” tolak Steve menahan Zanna “Kayaknya aku lapar sama kurang tidur aja deh” ujar Steve “Kalau gitu kamu tidur aja sebentar” saran Zanna Steve menggeleng. “Aku masih bisa tahan kok” ujar Steve Steve menggenggam tangan Zanna dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Zanna. “Gini aja udah cukup” ucap Steve Zanna tersenyum. “Kepala aku gak beratkan?” tanya Steve Zanna menggeleng. Zanna mengangkat tangan kirinya mengelus lembut rambut Steve. “Aku minta maaf karena pernah gak percaya sama kamu” ucap Steve “Udah, gak usah dibahas lagi” ucap Zanna “Aku udah gak apa-apa kok” sambung Zanna “Aku gampang cemburu, aku harap kamu kuat sama aku” ucap Steve “Aku juga gampang cemburu” balas Zanna “Setidaknya kamu gak berlebihan kayak aku” ucap Steve “Udah gak apa-apa, jangan bahas yang begituan” ucap Zanna "Yang penting sekarang kamu istirahat dulu, biar gak pusing lagi" sambung Zanna Steve mengangguk dan menutup matanya sebentar untuk beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN