Ana membuka sedikit pintu kamar Steve dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Ana bisa melihat betapa seriusnya Steve di meja kerjanya sedang mengutak-atik laptopnya. Ana kembali menutup pintu kamar Steve dan segera pergi sejenak dari sana. Sementara Steve, ia menatap layar laptopnya dengan tatapan tenang. Namun, beberapa detik kemudian ia menghela nafas panjang. Tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ia hanya merasa dirinya lelah. Akan tetapi, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya malam ini karena besok mereka akan pergi ke Vila. Ya. Satu hari telah berlalu dengan cepat. Steve hanya bisa memijat keningnya yang mulai terasa sakit dengan pelan. Tok! Tok! Tok! Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Steve. “Masuk,” ucap Steve mempersilahkan karena sadar pintu kamarnya tidak di

