Hari yang ditunggu-tunggu oleh para pendekar bintang dan masyarakat umum telah tiba. Terlihat gerbang kota Lembah Hijau sedang terlihat sangat sibuk, antrian masuk dari berbagai kalangan membuat walikota Lembah Hijau mengerahkan lebih banyak pasukan untuk memperlancar administrasi.
Tidak ketinggalan pula sang walikota meminta para pendekar bintang yang memiliki elemen air untuk menciptakan embun air dan elemen kayu untuk menciptakan pepohonan rindang, agar membuat yang mengantri menjadi lebih nyaman.
Beberapa anak-anak berusia belasan tahun menawarkan para pengunjung dengan barang-barang hiasan, makanan kecil, minuman serta aksesoris turnamen bela diri.
"Buka jalan untuk sekte Kalajengking Merah!" teriak salah seorang pendekar dalam rombongan itu dari kejauhan. Terlihat jelas mereka tidak ingin mengantri terlalu lama.
Seorang prajurit dari kota Lembah Hijau bergegas mendekati rombongan keluarga bangsawan tersebut. "Mohon maaf, Tuan. Kalian harus mengantri seperti lainnya," ucapnya penuh sopan.
"Kau ingin mati ha! Kami salah satu sekte besar di Benua Barat ini!" Pendekar dari sekte Kalajengking Merah berbicara dengan nada tinggi. Terdapat benjolan di kening sebelah kanan dan bentuk giginya lebih ke depan.
"Mohon maaf, Tuan. Ini sudah menjadi aturan. Harap mengantri dengan sab—." Sebelum prajurit kota Lembah Hijau itu menyelesaikan penjelasannya. Seorang pemuda dengan jubah berwarna hitam putih muncul tiba-tiba di sampingnya.
"Tapi bukan salah satu dari tiga sekte terkuat, bukan?" tanya pemuda tersebut dengan tersenyum.
"Siapa kau?! Berani ikut campur urusan kami!" Pendekar tersebut mengeluarkan pedangnya mencoba mengancam pemuda tersebut.
Pemuda tersebut hanya tersenyum, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam jubah.
"Lancang!" Pendekar dari sekte Kalajengking Merah itu melompat dari kuda. Dia berniat menebas kepala pemuda tersebut dari atas.
"A—a—apa? Ba—ba—bagaimana bisa?" Pendekar tersebut terkejut melihat sanga pemuda dengan mudahnya menahan laju pedangnya dengan menggunakan dua jari saja.
"Hanya segini?" tanya pemuda tersebut dengan tetap tersenyum.
Krek! Trang!
Seketika pedang pendekar itu hancur berkeping-keping di depan wajahnya. Dia terlihat sangat terkejut melihat pemuda yang dihadapinya dengan sangat mudah menghancurkan senjata dengan kualitas menengah.
"Sekarang giliranku." Pemuda itu membuat kuda-kuda, dia mengalirkan tenaga dalam ke kepalan tinjunya.
Wajah pendekar dari sekte Kalajengking Merah menjadi pucat melihat kepalan tidur pemuda tersebut mengeluarkan aura sangat kuat baginya. Dia merasa yakin akan terkena serangan tersebut dan pasti membuat dia terluka parah.
"Mati," ucap sang pemuda tersebut dengan tetap tersenyum.
"Ja—ja—ja—jangan!"
Bam!
Terdengar suara dentuman yang sangat kuat yang menghasilkan debu-debu tebal.
Sebelumnya para antrian tidak memperdulikan konflik kecil tersebut, akan tetapi ketika suara keras itu terjadi, mereka semua langsung mengeluarkan senjata masing-masing dan warga biasa berlindung di belakang pendekar.
Terdengar tawa lantang dari dalam kepulan debu tebal. "Tidak mengecewakan."
Perlahan demi perlahan terlihat seorang pemuda berambut keriting berwarna merah. Postur tubuhnya kekar dan seluruh bagian bahu kanannya sampai ke siku dihiasi tato kalajengking berwarna merah. Dia bernama Chu Lu, perwakilan dari sekte Kalajengking Merah untuk mengikuti turnamen.
"Kau juga tidak mengecewakan," balas pemuda itu dengan tersenyum.
Chu Lu melompat mundur, dia kembali tertawa lantang dengan wajah mengejek. "Kalau begitu kita selesaikan di sini," dia mengeluarkan dua senjatanya berupa pedang yang memiliki bentuk melengkung dengan ujung yang sangat runcing, layaknya seperti buntut hewan kalajengking.
"Menarik," jawab pemuda tersenyum itu, dia juga mengeluarkan pedang pusaka miliknya.
Kedua pendekar tersebut bersamaan mengalirkan tenaga dalam ke senjata, aura pedang Chu Lu berwarna merah darah, sedangkan aura pedang pemuda tersenyum itu berwarna putih.
Pendekar dan warga biasa yang jaraknya dekat dengan pertempuran itu mengambil jarak agar tidak terkena imbas dari mereka berdua.
"Mati, mati, mati, mati!" teriak Chu Lu. Dia melesat maju terlebih dahulu.
Sebelum kedua senjata itu bertemu, seorang lelaki tua yang rambutnya mulai memutih menghadang laju serangan itu dengan tangan kosong.
"Jika kalian masih ingin melanjutkan pertempuran di depan kota ini." Lelaki tua itu mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat, matanya mengeluarkan cahaya merah. "berarti kalian pantas mati." Sambungnya.
Chu Lu menelan ludahnya merasakan tekanan aura dari kakek tersebut, sedangkan pemuda tersenyum itu berkeringat dingin.
"Tidak ingin melanjutkan?" tanya kakek itu.
Chu Lu dan pemuda tersenyum tidak berani menjawab, mereka berdua berdiri mematung dengan tatapan takut.
"Pilihan yang bijak," ucap sang kakek.
"Patriark Jiang Yu, apa anda tidak apa-apa?" tanya seorang lelaki tambun, dia berlutut di hadapan kakek tersebut.
"Kau selalu terlambat bergerak, Bu Chong." Jiang Yu menegur salah satu tetua dari sekte yang dipimpinnya.
Jiang Yu menatap Chu Lu dengan tajam. "Kalau kau tidak mau menurut aturan di sini, lebih baik kau pergi. Jika tidak, jangan salahkan aku membuat sekte Kalajengking Merah kehilangan perwakilannya," ucapnya penuh ancaman.
"Ba—ba—baiklah." Chu Lu kembali masuk ke dalam kereta kuda dengan wajah ketakutan. Dia memerintahkan pasukannya untuk menunggu.
Jiang Yu mengarahkan pandangannya ke pemuda tersenyum. "Kau pendekar yang taat aturan, sangat mirip dengan temanku, Li Xuan." Suara kakek itu terdengar berwibawa.
"Dia adalah kakekku," jawab pemuda tersenyum.
"Oh, berarti kau yang bernama Li Kaisan?" Alis Jiang Yu terangkat mendengar ucapan pemuda tersenyum.
"Benar sekali, Senior. Senang bertemu dengan anda sang Rubah Api," ucap Li Kaisan dengan tersenyum dan memberi hormat.
**
Kota Lembah Hijau menjadi lebih ramai dari biasanya, banyak pendatang dari pendekar bintang berbagai sekte kecil sampai besar, pedagang dan bangsawan hadir untuk menyaksikan turnamen yang diadakan satu kali dalam lima tahun ini.
Pemilik usaha penginapan dan restoran bergembira, karena usahanya menjadi lebih laris. Pendapatan mereka meningkat lebih dari tujuh kali lipat dari hari-hari sebelumnya.
Turnamen kali ini lebih menarik dari turnamen sebelumnya, karena banyak sekali pendekar bintang jenius dari berbagai sekte hadir untuk memenangkan pertandingan ini. Tidak lupa juga hadiahnya lebih besar karena turnamen ini di sponsor oleh kelompok Lampion Perak yang terkenal akan sumber daya dan senjata berkualitas tinggi.
"Kali ini yang akan menang adalah Li Kaisan, dia pendekar bintang tiga tahap emas dengan tiga titik. Tidak pernah kalah setiap melawan musuh."
"Hooo, jangan berharap terlalu tinggi. Dou Shi dari sekte Cahaya Putih yang akan menang, Dia mampu menghadapi puluhan pendekar seorang diri tanpa terluka sedikitpun."
"Cih! Fu Xia dari sekte Bunga Emas yang akan menang. Dia wanita perkasa dari pegunungan. Tidak ada yang selamat dari pusaka Kapak Buminya."
Di dalam restoran, para pendekar berdebat dengan siapa yang akan menang dalam turnamen kali ini. Mereka mendukung masing-masing jagoan dari sekte-sekte yang terkenal akan kemampuannya.
Hou San terkekeh mendengar perdebatan yang berlebihan itu dari meja yang paling sudut dalam restoran. Mereka tidak mengetahui bahwa ada seorang monster yang akan mengikuti turnamen bela diri tersebut.
Sebelumnya ketika lima hari sebelum pertandingan dimulai. Hou San meminta Long Kirin untuk mengikuti turnamen, karena dia ingin adik seperguruannya menambah pengalaman dalam pertarungan. Hou San mengambil jubah dan sebuah topeng dari dalam cincin ruangnya untuk diberikan kepada Long Kirin.
Long Kirin terlihat sangat cocok menggunakan jubah yang diberikan oleh Hou San, ditambah topeng putih bermotif naga berwarna biru menutupi seluruh wajahnya. Hou San juga menguncir kuda rambut Long Kirin, membuat adik seperguruannya terlihat seperti pendekar hebat.
"Ingat, Kirin'er. Gunakan kekuatanmu hanya di batas pendekar bintang tiga tahap emas dengan sembilan titik saja," ucap Hou San.
"Apa mereka benar-benar tidak akan mengenaliku?" tanya Long Kirin. Dia memandang kedua tangannya yang tertutup jubah.
"Tenang saja, tidak ada satupun orang yang akan tahu jati dirimu sebenarnya. Berbicara lah secukupnya dengan suara yang berbeda dari suara aslimu. Oh ya aku ingin bertanya sesuatu kepadamu." Hou San meletakkan tempat minum araknya.
"Tanya apa?"
"Bukankah kau tidak bisa melihat sejak lahir. Kenapa aku tidak melihat kau seperti orang histeris melihat sesuatu yang pertama kali ketika kau bisa melihat?" tanya Hou San.
"Tentu saja aku histeris, tapi itu saat hari pertama bertemu dengan guru. Setelah mengetahui bahwa aku mendapatkan takdir menyelamatkan semesta manusia dari kehancuran, pikiranku hanya tertuju ke sana."
"Aihh, jangan terlalu serius. Kau pasti bisa melakukannya. Nikmati lah hari-hari barumu ini dengan santai," ucap Hou San.
"Tapi—." Perkataan Long Kirin dihentikan oleh Hou San yang memegang kepalanya.
"Ayo ke arena turnamen," ucap Hou San.