Melihat Long Yan yang masih tetap tidak percaya akan keajaiban ini, Long Kirin segera mengeluarkan pedang yang tersimpan dalam cincin samudra dengan berkonsentrasi memikirkan wujud pedang itu.
Long Yan langsung waspada ketika muncul sebuah pedang di pinggang Long Kirin, senjata itu berwarna biru langit dan ukiran naga pada sarungnya. Ayah dari Long Kirin mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya untuk bersiap-siap bertahan dan menyerang bila apa yang dipikirkannya itu benar adanya.
Long Kirin mengambil pedang tersebut dan mengarahkannya ke Long Yan dalam posisi horizontal. Secara perlahan dia mengeluarkan pedang itu dari sarungnya. Terlihat kilauan cahaya berwarna biru yang cukup menyilaukan mata Long Yan dan Lin Xie.
Pedang itu sebuah pusaka tingkat tinggi bernama Langit Samudera. Pusaka itu memiliki mata pedang berwarna putih dengan gagang yang memiliki bentuk sayap pada sisi kanan dan kirinya.
"Ibu, Ayah, saat aku terbangun dari tidur di pangkuan Yin Kara , aku mendengar suara bising dan sebuah cahaya api yang dimana hanya aku yang bisa melihatnya. Aku mengikuti cahaya itu dan masuk ke sebuah kuil, di dalamnya aku menemukan pedang ini dan sebuah cincin." Long Kirin menunjukkan cincin tersebut kepada mereka berdua.
"Setelahnya aku bertemu roh yang bersemayam dalam pedang ini, dia bernama Kai Rong dan saat ini menjadi guruku."
"Lalu, bagaimana kau bisa mendapatkan penglihatan?" tanya Long Yan, ia masih belum percaya walau dirinya takjub akan cerita dari anaknya.
"Itu dari guruku, Kai Rong. Dia yang memberikan mata indah ini dan ...." Long Kirin menjelaskan bahwa dia juga mendapatkan kelima elemen dasar dan menunjukkan kepada mereka berdua.
Long Yan dan Lin Xie tersedak nafasnya ketika melihat Long Kirin mengeluarkan kelima elemen dasar dari tangan kanannya. Elemen-elemen itu berukuran kecil dimana semua bentuknya seperti tetesan air yang saling berputar pelan. Elemen air berwarna biru muda, api berwarna merah, kayu berwarna hijau, tanah berwarna cokelat dan elemen besi berwarna abu-abu.
"Lalu dimana dia yang kau sebut guru itu?" tanya Long Yan.
Long Kirin segera menjelaskan bahwa Kai Rong sedang bermeditasi dan belum bisa menemui mereka berdua. Dia juga menjelaskan di balik keajaiban ini ada sebuah takdir yang harus dia tempuh.
Mereka berdua terkejut sekali lagi saat mendengar penjelasan dari Long Kirin, dimana Long Kirin harus menyelamatkan semesta manusia dari kehancuran yang akan dilakukan oleh seseorang. Sosok itu akan membangkitkan semua siluman kuno dan menggunakannya untuk menghancurkan seluruh penghuni semesta ini.
Mendapatkan penjelasan dari anaknya, Long Yan langsung menyarungkan pedangnya. Dia segera mendekati Long Kirin dan memeluknya dengan sangat erat. Perlahan cahaya rembulan menerangi anak dan ayah itu yang sedang berpelukan.
"Apa kau sanggup menjalani tugas ini, Anakku?"
"Seratus persen aku sanggup, karena ini menyangkut keselamatan manusia yang dimana itu juga keselamatan kalian."
"Baiklah kalau begitu." Long Yan melepaskan pelukannya. "aku akan mendukungmu dan membantumu menyelamatkan semesta kita."
"Terima kasih, Ayah." Long Kirin tersenyum, lalu memandang ibunya yang saat ini masih terus menangis.
Pemuda itu segera mendekati Lin Xie, lalu memeluknya dengan sangat erat. "Ibu, ini adalah hadiah dari Dewa atas doa-doa yang kau panjatkan selama ini untukku."
Lin Xie melepas pelukan itu dan memegang kepala anaknya. Dia terkesima dengan warna mata yang dimiliki Long Kirin. "Matamu sangat indah, Kirin'er."
Mendengar ucapan dari ibunya, Long Kirin menggenggam tangan kanan Lin Xie yang saat ini berada di pipinya. "Karena aku terlahir dari rahimmu, Ibu. Kau adalah malaikat hidupku."
Lin Xie tersenyum hangat mendengar pujian dari anaknya. "Berjuanglah, ingatlah satu hal. Jangan gunakan kekuatan ini untuk menindas mereka yang lemah. Duduk sama rata dan berdiri tanpa kesombongan."
"Baik, Ibu. Akan aku ingat selalu pesanmu." Long Kirin menarik Lin Xie untuk mendekati Long Yan. "Ibu, Ayah, aku mohon rahasiakan ini dari siapapun. Belum saatnya aku menunjukkan jati diri kepada mereka."
"Termasuk Kara?"
"Iya, Ibu. Saat aku telah mencapai puncak pendekar bintang. Aku akan menunjukkan jati diri sebenarnya." Long Kirin memasang kembali topengnya.
...
Pada malam yang sama, Jia Ye yang berada di dalam kamarnya sedang mempersiapkan rencana besar untuk menunjukkan kepada seluruh makhluk di semesta ini, bahwa kegelapan telah datang dan akan menghakimi mereka semua.
Dia berencana untuk membawa 50 siluman puluhan tahun dan 30 siluman seratus tahun untuk menyerang tempat yang dimana akan diadakan turnamen bela diri antar para pendekar muda.
...
Keesokan harinya Long Kirin mengambil sebuah kain putih untuk menutupi kedua matanya, namun masih bisa untuk melihat cukup jelas. Dia berpikir bahwa topeng itu akan menjadi Identitas barunya saat menghadapi musuh.
Tentu saja ini membuat sedikit kebingungan dan pertanyaan dalam benak Yin Kara, karena baru kali ini dia melihat tingkah aneh dari temannya itu. Apalagi saat sebelum sarapan dia melihat Long Kirin berjalan tanpa menggunakan tongkat pemandunya. Gadis itu ingin bertanya kepada Long Kirin, namun ia urungkan karena berpikir mungkin saja dia telah hafal setiap sudut ruangan dalam rumah.
Setelah berpisah di sebuah persimpangan dengan Yin Kara, Long Kirin segera berlari cepat ke arah Bukit Ketentraman. Langkah kakinya terasa sangat cepat, karena dalam sepuluh menit dia telah berada di gerbang pintu masuk. Biasanya dia membutuhkan waktunya tiga puluh menit saat masih buta.
Long Kirin melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum memulai proses latihan fisik. Tahap pertama dia ingin berlari mengelilingi tempat itu sebanyak tiga puluh putaran, tentu saja dia meningkatkan kewaspadaan agar tidak ketahuan orang lain tentang dia yang bisa berlari.
Tidak disangka setelah berlari mengelilingi tempat itu sampai tiga puluh putaran tidak membuat staminanya habis. Long Kirin lanjut melalukan tahap kedua latihan fisiknya, yaitu mengangkat batu yang memiliki beban 10 kilogram.
"Perasaan kemarin batu ini cukup berat," ucap Long Kirin sambil menggaruk pipinya.
Lalu dia memutuskan untuk mencari batu yang berukuran besar di bawah kaki bukit. Sebuah batu yang mempunyai ukuran sebesar roda kereta kuda menjadi pilihannya. Berat batu tersebut setidaknya lebih dari 200 kilogram. Dia merasa yakin bisa mengangkat batu tersebut karena kekuatan barunya saat ini.
Long Kirin memandangi batu itu beberapa saat sebelum mencoba mengangkatnya.
"Ini baru pas beratnya."
Ketika mengangkat batu besar itu, terlihat urat-urat kecil yang menghiasi tangan dan leher Long Kirin. Latihan angkat beban ini dia lakukan sampai 100 kali.
"Sembilan puluh lima!"
"Sembilan puluh enam!"
"Sembilan puluh tujuh!"
"Sembilan puluh delapan!"
"sembilan puluh sembi-." Long Kirin berhenti menghitung karena melihat monyet yang memiliki tinggi sama dengan dirinya di atas pohon persik.
Binatang itu memakai pakaian berwarna biru muda dengan pola bunga persik. Monyet itu memiliki lima pedang, dimana dua pedang di sisi pinggang kanan, dua pedang di sisi kiri dan satu pedang yang memiliki ukuran lebih panjang dan besar dari ke empat pedang lainnya di punggungnya.
Monyet itu melompat dari atas pohon persik, lalu berjalan mendekati Long Kirin layaknya seperti monyet pada umumnya. Saat tinggal beberapa langkah dari pemuda itu, monyet tersebut berdiri dengan tegap dan menatap tajam Long Kirin yang masih termenung.
"Apa kau yang bernama Long Kirin?"