Hou San

1461 Kata
Long Kirin yang mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri menjadi termenung melihat seekor monyet bisa berbicara dan berdiri layaknya manusia, apalagi hewan itu membawa lima pedang. Baru pertama kali dia mengetahui bahwa ada hewan seperti itu. "Ehem! Aku tanya sekali lagi, apa kau yang bernama Long Kirin?" Pemuda itu menurunkan batu secara perlahan, lalu mengusap-usap kedua matanya. Tidak hanya itu dia juga menampar pelan ke dua pipinya. 'Ternyata aku tidak sedang bermimpi. Tapi bagaimana bisa ada seekor monyet berbicara.' gumam Long Kirin. Mendapati lawan bicaranya yang tidak merespon, membuat sang monyet langsung menarik dua pedang dengan kedua tangannya. "Aku tanya sekali lagi, kau benar Long Kirin atau bukan? Jika bukan, aku akan membunuhmu!" Terlihat wajah monyet itu menatap tajam dengan nafsu membunuh kepada Long Kirin. Sontak ucapan hewan itu membuat Long Kirin tersadar dari lamunannya, dia langsung menjawab dengan terbata-bata. "A—anu, i—iya aku Long Kirin." Sang monyet menarik nafas panjang, lalu menyarungkan kembali kedua pedangnya. "Kenapa lama sekali kau menjawabnya?" "I—itu, ka—kau kan—." "Monyet? Iya aku seekor monyet, namun bukan monyet seperti yang ada di semesta ini." Hewan tersebut memotong ucapan Long Kirin. "Perkenalkan, aku Hou San. Aku akan mengajarimu cara bertarung menggunakan pedang." Hewan itu bernama Hou San, makhluk yang bukan berasal dari semesta manusia. Terlihat sangat jelas dia adalah seorang pendekar bintang, karena dia memiliki tanda bintang berjumlah lima. Berbeda dengan manusia yang ada di semesta ini, tanda bintangnya berada di punggung tangan kanan. Long Kirin berjalan mendekati Hou San lalu mengelilinginya untuk mencari tahu apakah dia memang benar seekor monyet atau manusia yang memakai baju hewan. "Hmm." Long Kirin melirik ke arah buntut Hou San. Dia langsung menarik buntut tersebut untuk membuktikan ucapan Hou San. Sontak Hou San berteriak kencang karena merasakan sakit pada buntutnya. Dia langsung berbalik arah serta menarik pedang pada punggungnya. Wajahnya sangat marah dan menunjukkan gigi-giginya yang bertaring. "Upss." Long Kirin menutup mulutnya. "maaf-maaf, aku kira kau seorang manusia yang memakai jubah berbentuk hewan." "Tiada maaf untukmu!" Hou San melesat baju menyerang Long Kirin. Mendapatkan serangan dari Hou San, Long Kirin mengelak saat pedang pendekar hewan itu menebas ke arah batang lehernya. "Tu—tu—tunggu! Aku minta maaf!" Long Kirin berlari menjauh dari serangan Hou San dan berhenti mendadak saat melewati salah satu pohon persik. "Tunggu sebentar!" teriak Long Kirin. Hou San langsung berhenti menyerang ketika Long Kirin berteriak, kemudian dia ikut melirik ke arah pohon persik tersebut. "Pisang!" Serentak mereka berdua berteriak saat melihat di bawah pohon persik itu terdapat dua tandan pisang yang sudah matang sempurna. Long Kirin dan Hou San saling melirik dengan tatapan seolah mengatakan harus mendapatkan duluan pisang itu. Suasana seketika hening beberapa saat, sampai sebuah daun pohon persik jatuh dan mendarat ke tanah. "Punyaku!" "Tidak! Ini punyaku! Menyingkir kau monyet!" teriak Hou San. "Kau yang monyet! Dasar monyet!" Mereka berdua beradu tangan dan kepala dengan ekspresi menahan lapar. Dari balik pohon persik terdengar suara seseorang sedang tertawa, membuat dua makhluk yang saling berebut pisang berhenti seketika "Kesan pertemuan yang sangat unik," ucap orang itu yang tidak lain adalah Kai Rong. Roh pedang itu menampakkan dirinya dari balik pohon persik. "Guru!" seru Long Kirin dan Hou San sambil memberi hormat. Long Kirin menatap Hou San saat dia memanggil Kai Rong dengan sebutan 'guru'. Kai Rong tersenyum hangat. "Kirin'er, perkenalkan dia adalah Hou San, pendekar bintang dari semesta lain dan murid pertamaku. Dialah yang akan mengajarimu tentang ilmu pemahaman pedang." "Guru! Sebelum aku mengajari bocah ini, izinkan aku untuk memukuli wajahnya!" Hou San mulai mengepal kedua tangannya. Kai Rong tertawa melihat ekspresi wajah Hou San. "Apa yang kau lakukan Kirin'er kepada Sansan?" "A—anu, Guru. Aku mengira dia manusia yang memakai jubah hewan, lalu aku mencoba membuktikan itu dengan menarik buntutnya. Namun ternyata dia sungguh seekor monyet." "Kalau begitu, silahkan kau memukuli wajah dia Sansan." Kai Rong mulai duduk di kursi kayu yang dia ciptakan dari elemen kayu saat sesudah berbicara. "Ta—ta—tapi, Guru," keluh Long Kirin. "Kirin'er, tindakanmu itu sangat keterlaluan." Hou San tertawa sinis. "Aha! Mari kita lanjutkan!" Dia memukul-mukul kedua tinjunya. .. Hou San mengajak Long Kirin ke tengah-tengah Bukit Ketentraman untuk memulai latihan ilmu pedang setelah puas menghajar wajah Long Kirin. Terlihat benjolan di kening pemuda itu dan pipi yang bengkak akibat pukulan dari Hou San. Melihat ekspresi Long Kirin yang menyedihkan, membuat Hou San iba. Dia langsung menempelkan telapak tangannya ke wajah Long Kirin. Hou San mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka pemuda itu. "Sekarang lebih baik," ucap Hou San setelah menyembuhkan wajah Long Kirin. "Te—terima kasih." "Baiklah, kita mulai latihannya." Hou San segera melemparkan pedang yang terbuat dari elemen kayu. Long Kirin menangkap pedang kayu tersebut secara reflek, ia sangat kagum saat melihat pedang tersebut. Terdapat ukiran yang indah pada benda itu. "Sekarang lihat caraku menggenggam pedang dan menebas." Hou San mundur beberapa langkah lalu dia mulai menggerakkan pedang kayunya. Kai Rong segera membuat pelindung di seluruh area Bukit Ketentraman dengan tenaga dalamnya, ini bertujuan agar orang lain tidak melihat dan merasakan tekanan kekuatan dari pembelajaran ilmu pedang oleh Hou San. Hou San bergerak dengan sangat indah serta kekuatan tebasan yang ia lesatkan sangat bertenaga. Pergerakannya seperti laksana air yang mengalir, tidak ada celah sedikitpun. Long Kirin menatap Hou San penuh kagum. Setiap gerakan yang diberikan oleh Hou San langsung dia ingat dengan sebaik mungkin. "Pedang adalah hatimu, hatimu adalah pedang. Setiap tebasan berasal dari dalam lubuk hati, serang kegelapan dan lindungi setitik cahaya." Hou San memberikan penjelasan di sela gerakannya. Timbul dorongan angin saat Hou San menebas ke samping dan mengakhiri gerakannya. "Apa kau mengerti?" Hou San memberikan gerakan sampai tiga puluh kali dengan berisikan posisi menyerang dan bertahan. Long Kirin mengangguk. "Aku mengerti." "Sekarang peragakan setiap gerakan yang telah kau lihat sampai lima kali." Hou San berjalan mendekati Kai Rong. Dia langsung mengambil satu pisang dan menyantapnya. Long Kirin menghirup nafas panjang lalu mengeluarkannya. Dia mulai menggerakkan pedangnya dengan penuh konsentrasi. Tebasan, tendangan, menangkis, melompat dan menghindar di lakukan olehnya dengan sempurna. 'Pedang adalah hati, hati adalah pedang.' gumam Long Kirin. Dia melakukan gerakan itu terus menerus sampai lima kali percobaan, percobaan pertama sampai ke empat Long Kirin menciptakan sedikit gelombang angin. Terlihat nafasnya yang mulai tidak beraturan karena gerakan demi gerakan itu memberi beban pada tubuhnya. Hou San melirik Kai Rong. "Guru, pernapasannya masih belum sempurna." Roh pedang itu mengangguk dan kembali tersenyum. "Setelah dia selesai, ajarkan dia Pernapasan Naga Langit." Hou San mengangguk tanda mengerti, ia kembali mengambil satu pisang dan menyantapnya. Akhirnya Long Kirin menyelesaikan gerakan yang diberikan oleh Hou San dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia menatap ke arah mereka yang sedang duduk di bawah pohon persik sambil menyantap pisang. Hou San menepuk-nepuk kedua tangannya, lalu memanggil Long Kirin untuk mendekat. "Duduklah dan dengarkan penjelasanku," ucap Hou San saat pemuda itu telah berada di dekatnya. Hou San menjelaskan bahwa pernapasan Long Kirin sangat tidak stabil saat melakukan gerakan, ini akan berdampak dengan daya tebasan yang menjadi lemah. Nafas adalah kunci bagi pendekar bila bertarung, semakin baik alur nafasnya, maka dia bisa mengontrol setiap gerakan menjadi lebih efisien. "Ikuti caraku bernafas." Hou San segera menunjukkan bagaimana caranya bernafas dengan benar dan teknik Pernapasan Naga Langit. Pernapasan Naga Langit adalah teknik pernapasan tingkat tinggi dimana seseorang akan mendapatkan stamina yang sangat kuat ketika sedang melakukan latihan atau saat bertarung. Seketika udara di sekitar Hou San menjadi menipis saat dia menghirup oksigen, terlihat seperti sebuah pusaran angin masuk ke dalam hidung Hou San. Setelah menghirup sangat lama, Hou San menghembuskan secara perlahan dan menimbulkan asap putih dari mulutnya. "Rasakan setiap oksigen yang masuk ke dalam tubuh, beri ruang lebih besar di dalam paru-parumu," ucap Hou San. "Baik." Long Kirin segera memperagakan setiap cara yang dia lihat. Percobaan pertama membuat dirinya terbatuk-batuk karena lonjakan oksigen masuk ke dalam paru-parunya. Long Kirin mulai mencoba kembali dengan lebih perlahan dan melakukan tempo yang tepat. Terlihat udara di sekitar Long Kirin secara perlahan mulai menipis, pusaran angin kecil terbentuk di dekat hidungnya. Kai Rong dan Hou San tersenyum saat melihat Long Kirin berhasil melakukannya. Sensasi yang sangat menyejukkan dirasakan oleh Long Kirin saat berhasil melakukan Pernapasan Naga Langit. Pikirannya juga menjadi lebih jernih dan tenang. "Sekarang lakukan pernapasan itu sambil berlari mengelilingi bukit ini sampai sepuluh putaran dengan membawa beban pada kakimu." Hou San mengibaskan tangan kanannya menciptakan delapan gelang besi dengan masing-masing memiliki berat sepuluh kilogram, artinya Long Kirin akan membawa beban dengan total delapan puluh kilogram. Long Kirin segera memakai gelang besi yang diberikan oleh Hou San, beban itu membuat langkah kakinya menjadi lebih berat. Sebelum berlari, dia terlebih dahulu melakukan nafas Naga Langit sampai Long Kirin merasakan bahwa beban itu sedikit berkurang. "Kirin'er, jika kau belum mengelilingi bukit ini sampai sepuluh putaran, kau dilarang untuk makan dan minum," ucap Kai Rong yang mengejutkan Long Kirin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN