Latihan Pernafasan Naga Langit

1053 Kata
Latihan yang sangat berat harus dilalui Long Kirin, bukan tanpa alasan Kai Rong memberikan hukuman bilamana muridnya tidak menyelesaikan latihan tersebut. Dalam pertarungan antar sesama pendekar atau perang besar, salah satu kunci keberhasilan memenangkannya adalah dari pernafasan itu sendiri. Jurus dalam ilmu kitab bela diri akan terus menguras stamina bagi mereka yang menggunakannya, tidak luput pula ilmu meringankan tubuh serta menghindar dari serangan lawan. Apabila tidak mampu mengatur tempo nafas dengan tepat serta tidak memiliki teknik yang membuat nafas tetap stabil, maka kekalahan telak yang dapat merenggut nyawa. Hou San tertawa kecil saat melihat raut wajah Long Kirin yang sedikit memburuk, dia masih saat memulai pelatihan pernafasan dari Kai Rong. Butuh waktu selama 1 hari 1 malam untuk menyelesaikannya, dimana rasa lapar dan haus telah menyerangnya. Namun ketika ingin menyerah, Hou San selalu teringat dengan masa lalunya yang amat pahit. "Jika kau tidak sanggup melakukan latihan ini, bersiaplah untuk kehilangan keluarga dan kekasihmu!" teriak Hou San setelah puas tertawa. Ucapan dari Hou San langsung membangkitkan semangat pemuda itu, terlihat sinar matanya menandakan dia tidak ingin kehilangan mereka. Kai Rong dan Hou San saling menatap sambil tersenyum kecil ketika melihat Long Kirin sudah mulai berlari mengitari Bukit Ketentraman. Pendekar Monyet itu mengamati latihan adik seperguruannya sambil baring di bawah pohon persik yang dimana dia tidak hentinya menyantap buah pisang, sedangkan Kai Rong duduk bersila di samping Hou San. Long Kirin terus melakukan pernafasan Naga Langit ketika dirinya telah merasa nafasnya tidak teratur. Dalam waktu empat jam, dia baru berhasil mengitari dua kali bukit tersebut. Bulir-bulir keringat telah membasahi bajunya. Rasa haus dan lapar perlahan mulai menyerang dia saat melihat Hou San menyantap pisang dan Kai Rong meneguk air dalam tabung bambu. 'Aku harus bisa!' Batin Long Kirin. Long Kirin terus menyemangati dirinya ketika keinginan menyerah menghantuinya. Dia mengandalkan air ludahnya untuk membasahi kerongkongan yang kini mulai kering karena tidak minum lebih dari lima jam. Kini sang surya perlahan mulai terbenam yang nantinya akan digantikan sang rembulan, Hou San sedang memanggang daging rusa hutan yang telah dia tangkap saat berburu di hutan terdekat. Semerbak aroma lezat yang dihasilkan dari proses pemanggangan, membuat Long Kirin berhenti di depan mereka. "Kenapa kau berhenti! Kau baru menyelesaikan lima putaran, sana cepat lanjutkan latihanmu!" tegur Hou San sambil memakan sepotong daging yang telah matang. "Lezat sekali daging hewan ini!" Hou San tak menyangka bahwa rasa daging hewan yang ia tangkap sangatlah nikmat. Air liur terus membasahi bibir Long Kirin ketika melihat Hou San menyantap daging kesukaannya dengan ekspresi yang sangat mengejek. "Sisahkan sepuluh potong daging panggang rusa hutan itu untukku!" teriak Long Kirin. "Jatahmu sudah kusiapkan, tapi jika kau belum menyelesaikan latihan ini dalam waktu empat jam." Hou San menyeringai dengan menunjukkan empat jarinya. "jatahmu akan aku makan." Sambung Hou San dengan gelak tawa. "HEAAA!!!" teriak Long Kirin berlari sekuat tenaga. "DAGING LEZAT TUNGGULAH AKU!!!" Long Kirin kembali berteriak lantang. Mendapati rasa takut tidak kebagian daging panggang rusa hutan, membuat kecepatan Long Kirin meningkat lima kali lipat. Jelas saja ini membuat Hou San memandang Kai Rong, Hou San merasa heran serta bingung terhadap motivasi yang membuat Long Kirin menjadi lebih b*******h. "Mengapa dia menjadi lebih bersemangat saat tahu jatah makan malamnya akan hilang," ucap Hou San. "Sansan, ketahuilah bahwa setiap orang itu mempunyai motivasi yang unik untuk membangkitkan api semangatnya." Kai Rong memberikan senyuman kepada murid pertamanya setelah berkata. "Aku tidak menyangka motivasinya dari daging hewan ini, walau aku akui rasanya memang sangat lah lezat." Hou San melirik daging panggang rusa hutan yang dia genggam. Dengan tingkat kecepatan itu membuat Long Kirin berhasil menyelesaikan latihannya berlari mengitari sepuluh kali Bukit Ketentraman dalam waktu tiga jam. Hou San sampai tersedak nafasnya ketika melihat Long Kirin tersenyum sinis kepadanya dengan nafas yang tidak teratur. "A—a—aku." Long Kirin menarik nafasnya. "telah menyelesaikan la—la—latihan ini," ucapnya dengan nafas yang memburu. "Minum ini." Kai Rong melemparkan tabung bambu dengan ukuran besar berisikan air minum kepada Long Kirin. "Setelah itu beristirahat lah." Sambungnya. "Terima kasih, Guru." Long Kirin segera meneguk seluruh air dalam tabung bambu tersebut. "Huaaa!" Long Kirin mengelap ujung bibirnya. "Sekarang mana jatah makan malamku!" Sambungnya. Hou San langsung melemparkan seluruh badan rusa hutan yang telah dipanggang dengan sempurna. Sontak membuat Long Kirin terkejut setelah menangkap makanan itu, dia tidak menyangka bahwa akan mendapatkan utuh seluruh daging rusa hutan tersebut. "Sebelum kau menyelesaikan latihanmu, aku kembali pergi ke hutan terdekat untuk berburu hewan tersebut. Makanlah sampai puas, dan ingat!" Hou San menatap tajam Long Kirin. "habiskan semuanya atau aku akan menyiksamu sampai sekarat." Seketika Long Kirin tersedak mendengar ucapan dari Hou San. Sebenarnya dia sangat bisa menghabiskan satu ekor rusa hutan panggang ini, bahkan masih bisa menampung satu ekor lagi dalam perutnya. Hanya saja dia tidak menyangka bahwa Hou San mengancam sampai sejauh itu. "Kirin'er, kau harus tahu kehidupan Hou San dulunya amat sangat buruk. Selama bertahun-tahun dia merasakan kelaparan ketika terjadi konflik di kotanya. Hou San akan sangat marah bila melihat seseorang membuang-buang makanan." Wajah Hou San seketika sedikit memburuk saat mengingat kembali kenangan dulu yang amat sangat menyiksa dirinya. "Terima kasih atas makanan lezat ini." Long Kirin memberi hormat kepada Kai Rong dan Hou San dengan tersenyum hangat, lalu dia langsung menyantap hidangan makan malam tersebut dengan sangat lahap. Hou San mengeluarkan sebuah alat musik bernama 'seruling' yang terbuat dari batu giok. Benda tersebut memiliki warna biru langit dengan ukuran dua naga yang mengapit satu mahkota yang indah. Lantunan nada seruling yang dimainkan oleh Hou San menenangkan suasana pada malam hari. Kai Rong menutup matanya dengan wajah tersenyum, sedangkan Long Kirin memandangi langit yang dihiasi oleh bulan purnama dan bintang-bintang yang indah sambil menyantap hidangan makan malamnya. Suara indah itu juga membuat hewan-hewan di Bukit Ketentraman dan di sekitar tempat itu berhenti beraktivitas. Semua hewan memandangi langit malam dengan hati yang tenang, seakan-akan berada di dalam sebuah tempat bernama 'Surga'. Angin malam yang sejuk turut membantu memberi rasa nyaman dan tenang bagi mereka yang berada di sekitar tempat itu. Aroma bunga dan buah persik tercium lembut saat angin menggoyangkan dahan-dahan tanaman tersebut. Hou San meneteskan air matanya saat setelah menyelesaikan lantunan musik nan indah. Itu adalah sebuah lagu diciptakan oleh kekasihnya tercinta, wanita cantik dari kaum bangsa Monyet yang memberikan kenangan manis dalam hidup Hou San, walaupun itu hanya sementara karena kekasihnya tewas di tangan para perampok kaum bangsa Hiena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN