PROLOGUE
GUGUS galaksi membelenggu sekitarku dengan keelokan rupanya.
Netra hijauku terekspos sempurna, rasa kantuk lantas terusir cepat dalam waktu sangat singkat begitu melihatnya. Kabut tipis di bawah bokongku kian mengusungku menjauh dari kumparan planet di bawah permukaan langit tak berdasar. Dapat kurasakan tremor dan kekakuan membelit sekujur tubuhku saat aku menunduk ke bawah sana dalam diam. Tiada yang berubah—aku masih juga takut akan ketinggian.
Begitu ingatanku kembali teringat dengan amanah dari Sang Penguasa, buru-buru aku mengedari sekitar, mengabaikan fakta mengerikan bahwa aku membonceng kabut—sekalinya raib, maka selamat tinggal kepada kesempatan kedua. Kuhela napasku, menepis pikiran tersebut kala itu juga. Amit-amit. Aku masih ingin hidup, mengadu ujung jarum bersama takdir.
Gerbang Kegelapan, akses menuju Incubus Sphere, tak terlihat di mana-mana. Gurat bingung cepat-cepat mendominasi wajahku. Seharusnya, Sang Penguasa mengirimkanku tepat di depan Gerbang Kegelapan, bersemuka dengan dua makhluk yang akan mengaku sebagai Sentinel dan menaklukkan keduanya agar aku dan kawan-kawanku dapat menembus portal.
Belum juga menemukan akses tersebut, aku mendengkus untuk sekian kali. Kabut tipis terus mengantarku kepada udara kosong. Tidak ada satu pun benda langit di atas sini. Ya sudah, aku akan mengikuti arah ke mana pun kabut ini akan berlabuh—dan voilà! Setitik cahaya terjatuh sekitar seratus meter di depanku.
Butuh belasan detik untuk bergulat dengan batin. Tidak terlalu berguna, secara kabut tipis terus mengawang tanpa henti, mengusungkan semakin dekat dengan sumber cahaya. Pada akhirnya, aku menuruti kata hati si kabut, satu-satunya akomodasi dari Sang Penguasa untukku, mungkin. Kian mengecilnya jarak antara aku dengan sumber cahaya justru membuatku gundah.
Semua akan baik-baik saja. Suara batinku terus mengiktikadkan kalimat penyokong kepercayaan tersebut. Jangan menjadi seorang pengecut, Candice. Itu bukan kau sama sekali.
Batinku benar juga. Salah satu sudut bibirku tertarik naik.
Lenganku berusaha menjamah sumber cahaya saat kami sudah benar-benar dekat, mendapati sebuah kunci hitam justru tergeletak cantik di permukaan langit tak berdasar—seakan-akan tidak mengenal gravitasi. Belum sempat merenggut benda itu dari sana, intensitas luar biasa terang dari arahnya membuat tubuhku lantas beringsut mundur.
Kusilangkan kedua tangan di depan wajah demi mengamankan kilat tersebut dari kedua netraku, sesekali mencoba untuk mengintip dari sela-sela jemari.
Kekakuan menyergap masuk ke dalam ragaku. Sengatan menjurus dari bawah telapak kaki sampai ke atas kepala. Jeda sebentar, kemudian tubuhku terentak ke belakang. Kabut menghilang. Kudesak netra hijauku untuk kembali terbuka sekadar mendapati gugus galaksi sudah raib termakan oleh pekat. Ketimbang itu, masih ada yang membuatku lebih terkejut; Sentinel—Penjaga Gerbang Kegelapan.
Ia bertelanjang d**a—dan uhm, tidak kelihatan seksi sama sekali. Bisa kukatakan, makhluk itu terbilang aneh untuk kusebut sebagai pria atau elang secara bersamaan. Dadanya penuh bulu seperti surai burung elang. Rambut pria itu tampak eksentrik, pun dengan raga burungnya. Aku tahu ini bukan waktu tepat untuk mengemukakan pendapat, namun batinku tidak mampu berdiam diri dan meninggalkan ungkapan tentang si pria elang dari pandangan subjektifku.
Dua kata sepertinya sudah cukup untuk menggambarkan sosok makhluk itu. Ia jelek.
“Penyusup!” teriaknya, melengking.
Ringisan terlontar dari mulutku saat itu juga. Sambil mengusap telinga, aku segera menegurnya, “Jangan berteriak seperti itu, dong!”
Sesosok makhluk dengan rupa tak kalah anehnya mendatangi kami dengan langkah tergopoh. “Ada apa, Harp?” tanya si makhluk berwujud manusia berkaki kuda di sampingnya
“Centa, di mana tombakmu? Ada penyusup!”
Centa—si makhluk setengah kuda—menyabet tombaknya. Kilat hitam tertangkap di indra penglihatku kala itu juga. Lancip puncak tombak Centa mengarah kepadaku. Ia berancang-ancang untuk maju, namun sebelum siluman kuda tersebut sempat melakukannya, si pria elang sudah lebih dulu memicingkan netra elangnya dan menudingku lagi.
“Kau utusan si penguasa t***l itu, bukan?” tanya Harp, mengarahkan tatapan seintimidasi mungkin.
Lipatan cukup dalam segera terbit di permukaan keningku. “Sang Penguasa, maksudmu? Ia tidak t***l,” kataku. “Kalian yang tolol.”
Netra hijauku mencuri-curi pandang ke arah Gerbang Kegelapan. Lontaran sihir angin—salah satu sihir dasar yang sempat kupelajari di Asrama Nightfall—dalam skala besar ironisnya mampu membuat tubuh kedua makhluk itu terhempas jauh dari gerbang. Mereka tergeletak di antara kegelapan pekat, sepertinya dengan kesadaran yang sudah ada di awang-awang.
Sudut bibirku tertarik naik. Lagi, ini bukan waktu tepat untuk berbangga diri. Aku kembali teringat dengan informasi dari Sang Penguasa, mengenai penjagaan ketat oleh Para Sentinel di Gerbang Kegelapan. Seharusnya, aku tidak bisa menganggap enteng kedua makhluk itu. Tetapi, masa, sih—Harp dan Centa sudah tumbang bahkan sebelum aku mengerahkan energiku sepenuhnya?
Derit pintu terdengar. Suaranya begitu lirih, namun berhasil mengalihkan atensiku sepenuhnya. Tanpa berpikir panjang, kuteruskan langkah menuju Gerbang Kegelapan sebelum dua sentinel itu siuman. Begitu aku berhasil menjamah akses menuju Incubus Sphere, sebuah alam lain berisikan demontus, kulihat Harp dan Centa bangkit sekadar memperhatikanku tanpa bertindak lebih.
Sebelum Gerbang Kegelapan benar-benar tertutup, aku mendengar salah satu di antara mereka bersuara, “Sesuai perintah Anda.”
Mari kita bermain lebih lama lagi, Gadis Kecil.
Gelegar tawa culas menyusul setelah kalimat itu berkumandang, mengedari bagian terdalam benakku kala dunia terasa berputar. Lalu, semuanya gelap.[]