Pov Aisyah
"Apa ibu sudah tak waras, Ryan ini sudah punya istri, Bu."
"Ibu tahu, ibu tak akan meminta kamu menceraikan Aisyah, tapi dalam agama laki-laki boleh memiliki istri lebih dari satu bukan, maka ibu ingin kamu menikahi Marni. Demi ibu, Ryan" Bujuk Bu Harti, yang terus merayu putranya, untuk mau menikahi Marni, ia tidak akan menyerah sebelum keinginannya terpenuhi.
"Aisyah kamu izinkan dan rayu, Ryan. Untuk menikahi Marni" Ujar Ibu mertua. Tak salahkah ia meminta ku untuk membujuk suami sendiri menikahi wanita lain.
Aisyah menatap ibu mertuanya, terpana atas apa yang baru saja ia dengar dari mulut wanita paruh baya itu, dadanya seperti di hujam oleh seribu pedang, begitu sesak ia tidak bisa menahan lagi air mata yang sedari tadi ingin di kelurkan.
Tanpa sadar kedua kakinya melangkah membawa tubuhnya meninggalkan suami dan ibu mertua yang masih terpaku di tempat.
***
"Lihat istrimu Ryan. Aisyah sudah tidak lagi menghargai ibu." Ujar Ibuku kesal, aku yang baru masuk ke dalam kamar tanpa pamit, masih bisa mendengar ucapannya.
"Justru. Ibu, yang tidak menghargai istriku, Aisyah itu menantu ibu, sesama perempuan harusnya ibu mengerti perasaannya saat ini, dia pasti kecewa, dan sakit atas permintaan ibu!." Itu suara Ryan~suamiku.
Aku yang masih berdiri di balik pintu kamar mendengar semua percakapan antara suami dan mertuaku, tubuhku cukup tersentak saat mendengar suara dari Mas Ryan. Baru kali ini ku dengar ia membentak ibunya, yang sangat dia cintai.
"Harusnya itu ibu yang kecewa sama istrimu itu, sebagai menantu harusnya dia bisa mendukung suaminya untuk berbakti pada ibunya, bukan malah bikin suaminya menjadi anak durhaka." Ujar Ibu.
"Ryan. Kalau dulu kamu nikah sama Marni, kehidupan kita pasti nga bakal kaya gini, kamu kekeh sih nikah sama Aisyah yang bisanya, hanya ngasih makan tiap hari, cuma sama telur mata sapi."Sambung ibu.
Ku rasa semua ucapan ibu benar, sebagai seorang istri harusnya aku membantu suamiku untuk berbakti bukan membuat ia durhaka pada ibunya, namun aku tak bisa membayangkan akan sakitnya berbagi suami dengan wanita lain.
Aku belum siap, aku hanya wanita akhir zaman yang imannya masih lemah, dan sukar untuk menerima poligami, aku bukan wanita awal zaman seperti Siti Aisyah~Istri Rosul, yang imannya kuat, dan tenguh, dengan bisa menerima poligami.
Namun aku tak ingin Mas Ryan. Menjadi anak durhaka yang melawan ibunya, aku pun selalu merasa belum menjadi istri yang soleha, karena tidak bisa memberikan makanan atau apapun yang terbaik untuknya.
Hatiku selalu perih, sakit, saat hanya memberikan suamiku makanan satu telur mata sapi setiap hari, aku pun merasa bersalah jika mencegah untuk kehidupan yang lebih baik bagi suami dan ibu mertuaku. Bismillah. Aku bisa, kuat, aku akan mencoba menerima takdir yang Allah, gariskan padaku.
Aku yakin bahwa ujian yang saat ini pun sudah di ridhoinya, walaupun aku tidak menyangka bahwa ini akan terjadi pada pernikahan kami, namun aku ikhlas. Ya Robb.
"Cukup Bu!. Kurang apa Aisyah sebagai menantu ibu, gaji ku di ambil sama ibu, istriku sama sekali tidak marah atau membenci ibu. Bahkan Aku dan Aisyah. Setiap hari hanya makan dengan telur mata sapi ini karena ibu."
"Loh kenapa kamu nyalahin ibu?, atas ketidak mampuan istrimu itu, yang tak becus memberikan makan enak pada suaminya, dan wajarlah ibu mengambil gaji mu, karena kamu anak ibu, kamu punya kewajiban untuk memenuhi kehidupan ibu dan adik-adikmu."
"Ibu punya suami untuk apa?. Untuk jadi benalu putra ibu ini, lagian Pak Marwan bapak Marni tengah mencari istri baru bukan, kenapa tidak salah satu dari anak tiri ibu. Rina dan Rini, kenapa harus aku, yang sudah memiliki istri, yang harus menikahi Marni?."Tanya Ryan Bertubi-tubi.
"Rina dan Rini. Masih belum siap untuk menikah, hanya kamu satu-satunya harapan ibu. Ryan"
"Tapi aku sudah punya istri. Bu" Ucap Ryan. Mencoba untuk menyadarkan ibunya.
"Istrimu tidak punya apa-apa, dia juga tidak berkerja, lalu bagaimana bisa Aisyah membahagiakan keluarga suaminya. Ibu hanya minta kamu menikahi Marni tanpa harus menceraikan Aisyah. Ibu sudah lelah Ryan, hidup dalam kemiskinan, capek, hanya kamu harapan untuk bisa merubah keadaan keluarga kita." Ucap Bu Harti dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Bu, aku tidak akan pernah menyakiti istriku, sampai kapanpun aku tidak akan menikahi Marni, apa ibu tidak memikirkan bagaimana perasaan Aisyah, tidak ada seorang istri yang mau di poligami, apalagi hanya untuk kekayaan."
Ryan tidak akan pernah mau menuruti permintaan gila ibunya, sedari dulu memang keluarganya selalu di landa kemiskinan yang parah, apalagi saat bapaknya meninggal kehidupan ekonomi mereka semakin mencekik, menggerogoti tubuh mereka.
Ceklek.
Aisyah membuka pintu kamarnya, kedua orang yang tengah bersitegang di sana secara bersamaan menatap ke arahnya.
"Mas. Turuti permintaan ibu" Ujarku tiba tiba. Raut wajah Mas Ryan, nampak terkejut, ia menatap tajam mataku.
"Kamu bicara apa?. Sayang" Tanyanya.
Aku tak menggubris pertanyaan suamiku, aku mendekat ke arah ibu mertua dengan langkah lamban, rasanya berat kaki ini tuk melangkah.
"Bu. Aku setuju jika itu memang yang terbaik untuk Ibu, dan Mas Ryan."
Bu Harti sontak membulat, ia tak percaya menantunya akan langsung setuju dengan pernikahan kedua putranya.
"Terimakasih. Aisyah, kamu memang menantu yang pengertian"
Ryan yang terlihat geram langsung menarik pergelangan tangan istrinya." Maksud kamu apa?. Syah"
"Menikah lagi lah. Mas, ibu dan kamu sudah cukup menderita sedari dulu, dalam kemiskinan ini, maka ini saatnya kamu bisa membahagiakan orang yang sudah melahirkanmu"Ucapku berusaha tenang, namun d**a ini semakin sesak seperti tanpa pasokan oksigen.
"Sudahlah, Ryan. Aisyah sudah setuju dan kamu nga bisa menolak dengan alasan akan menyakiti perasaan istrimu"
"Surgamu ada pada telapak kaki ibu, aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka karena istri sepertiku. Mas" Aisyah menatap wajah suaminya, ia tahu Ryan tidak akan setega itu menyakiti hati istrinya.
Namun Aku harus kuat, demi bakti dan cintaku, aku rela menderita asal suamiku tidak di cap sebagai anak durhaka oleh ibunya.
"Ryan. Kamu harus siap, tiga hari lagi kita akan melamar kerumah. Marni"Ucap Ibu mertuaku.
"Apa? tiga hari lagi?" Tanya Mas Ryan, dengan wajah terkejut yang sama denganku.
Apa sudah sejauh itukah rencana ibu menikahkan putranya dengan wanita lain.
"Iya. Bukankah lebih cepat lebih baik, ibu mau secepatnya kita menjadi orang kaya, bosan hidup kismin mulu, ya sudah ibu pulang dulu. Inget tiga hari lagi. Ryan!"Ucap ibu mertuaku dengan penuh penekanan.
Setelah kepergian ibu, badanku terasa lemas, gemetaran, d**a ini semakin cepat menghirup udara ke paru-paru, aku menatap suamiku dengan linangan air mata namun seketika padangan ku menjadi kabur, saat ini hatinya begitu sakit dan pedih menerima kenyataan pahit itu.
Tubuh Aisyah pun ambruk, kesetika ia pingsan di tempatnya.
"AISYAH.....!!!