Bab 4. Masa Kritis

1050 Kata
"Proposal dengan judul Snack Bar Kolagen adalah pilihan para dewan direksi. Karena ide dari proposal tersebut sangat unik. Selain itu, komposisi gizi dari perencanaan snack yang sehat dan unik, semakin menambah daya nilai jualnya. Maka dari itu, dewan direksi memutuskan untuk memilih proposal yang ditulis oleh Haikal dari PT. Mitra Snack sebagai pemenangnya." Ivan membaca artikel yang saat ini sedang trending. Hasil keputusan semalam, membuat Ivan dan Ardian terus membahasnya. Ivan kemudian meletakkan ponselnya di atas meja sembari menghela nafas beratnya. "Jadi, laki-laki yang bernama Haikal itu telah mencuri proposal Nada yang akan interview di sini waktu itu?" tanya Ivan sekali lagi memastikan setelah Ardian menceritakan semua kejadiannya pada Ivan. "Hm! Begitulah," jawab Ardian datar. "Lalu kenapa saat itu kau mengusir perempuan itu?! Kau tahu proposalnya sangat berbobot, bukan? Lihat ini! Andai saja waktu itu kita yang mengajukan proposalnya, pasti perusahaan kita yang terpilih menjadi penilaian baik oleh para dewan direksi!" "Belum tentu! Bisa jadi semakin buruk." "Apa maksudmu? Kenapa bisa semakin buruk?" "Haikal juga akan mengajukan proposal yang sama. Kalau sampai ada dua proposal yang sama, bukankah justru kita akan terkena diskualifikasi? Apalagi, laki-laki bernama Haikal itu telah mengklaim proposalnya dengan hak cipta resmi," jelas Ardian. Ivan pun mengkerutkan kening berpikir. "Hak cipta resmi?! Tunggu, apa kau tidak salah? Jangan-jangan perempuan yang bernama Nada itu yang mencuri proposal Snack kolagen bar dari Haikal?" "Aku tidak salah! Aku sangat yakin karena aku sempat mendengar percakapan mereka. Haikal mengakui sendiri kalau dia telah mengambil proposal milik Nada di acara tadi malam. Sayangnya, tidak ada bukti yang bisa Nada ambil," jelas Ardian lagi. Ivan terdiam dan mencoba berpikir. Sedang Ardian juga terdiam memikirkan hal lain. Mendadak ia terlintas kejadian tadi malam saat Nada diusir oleh dua security perintah Felisa. Waktu itu Nada berjalan pergi dengan menundukkan kepala lemas. Entah kenapa, hal itu tidak bisa hilang dari kepala Ardian? Apa karena dia kasihan melihat perempuan itu? "Aaahh ... sudahlah! Sekarang bukan itu yang kita pikirkan!" kata Ivan lagi yang mengembalikan fokus pembicaraan mereka. "Sekarang bagaimana perusahaan kita ke depannya? Kita tidak bisa mendapatkan saham dari para dewan direksi. Lalu apa yang akan kita lakukan?!" tanyanya. Ardian pun hanya terdiam dan tidak bisa menjawabnya. Jujur saja, saat ini ia sendiri juga kebingungan. Bagaimana mereka bisa menjalankan produksi kalau begini? Karena sebenarnya perusahaan Ardian sedang dalam masa kritis. Mereka membutuhkan saham oleh para investor. "Sekarang tidak ada cara lain," kata Ivan tiba-tiba yang membuat Ardian menoleh ke arah Ivan. "Kau!" Ivan menunjuk ke arah Ardian. "Kau harus menikah secepatnya!" "Jangan konyol!" jawab Ardian sembari menaikkan kedua bola matanya ke atas. Belum sempat Ivan membalas, tiba-tiba dari arah pintu masuk, terlihat asisten Ardian memasuki ruangan Ardian. Menghentikan percakapan serius Ardian dan Ivan. Asisten Ardian itu berjalan mendekat dengan memasang wajah panik. "Permisi, Pak. Kami sedang mengalami masalah, Pak," ujar asisten Ardian. "Masalah apa?" "Ada salah satu investor yang katanya ingin menarik saham beliau, Pak," ujar asistennya. Tentu saja Ardian dan Ivan langsung menautkan kedua alis terkejut mendengarnya. "Apa?! Kenapa bisa begitu?" tanya Ivan. "Beliau mendengar hasil penilaian dari para dewan direksi tadi malam, Pak. Beliau pun akhirnya memilih untuk menanamkan sahamnya pada PT. Mitra Snack. Karena beliau bilang, potensi calon produk tersebut mungkin cukup bagus," jelas asistennya. Ardian dan Ivan pun hanya diam dan tidak menanggapi. Jujur, mereka benar-benar panik dan kebingungan. Saat ini tentu saja mereka mengalami masa kritis di perusahaannya. "Ya sudah, kau boleh pergi," pinta Ardian. "Baik. Saya permisi, Pak," pamit asisten Ardian yang kemudian ia keluar ruangan Ardian. Ardian dan Ivan, masih sama-sama terdiam. Mereka berdua tidak tahu lagi apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Hanya berpikir bagaimana mencari solusi secepatnya. "Hancur! Kita benar-benar sudah hancur!" kata Ivan pada Ardian. Sedang Ardian, tetap terdiam dan tidak bisa berbuat apa pun. Tiba-tiba ponsel Ardian berdering. Mengalihkan fokus Ardian sesaat. Ia mengambil ponselnya dan melihat layarnya, lagi-lagi ada panggilan dari bi Surti. Dalam keadaan seperti itu, sebenarnya Ardian enggan untuk mengangkatnya. Namun, ia tetap mencoba menerima panggilan dari bi Surti. "Halo? Ada apa, Bi? Aku sedang sangat sibuk," kata Ardian setelah menempelkan ponsel ke telinga. "Tuan ...," panggil Bu Surti yang langsung terdengar menangis. Membuat Ardian menautkan kedua alisnya. "Tuan muda kabur dari rumah, Tuan ...," lanjutnya. Sontak, Ardian langsung terkejut dan melebarkan kedua mata. *** Ardian dan Ivan sudah sampai di depan rumah Ardian. Mereka berdua segera turun dari mobil dengan terburu-buru. Setelah itu mereka berlari masuk ke dalam rumah dengan tergesa dan nampak panik. Ketika sudah berada di dalam, mereka berdua langsung menuju ke kamar Kenzi. Di dalam kamar Kenzi, bi Surti nampak menangis dan juga terlihat panik. Mereka pun mendekat. Bi Surti juga langsung mendekat ke arah mereka berdua. "Tuan ...," panggil bi Surti bercampur Isak tangis. "Bi? Apa yang terjadi?" tanya Ardian pada bi Surti. "Tadi saya mengetuk pintu tuan muda dan memanggilnya untuk makan. Tapi dari dalam kamar tidak ada jawaban. Saya pikir tuan muda hanya marah dan mengunci diri di kamar seperti biasa. Tapi saya curiga karena sangat lama. Akhirnya setelah saya membuka pintu dengan kunci cadangan, ternyata tuan muda tidak ada di kamar. Hanya meninggalkan surat ini di meja," jelas bi Surti sembari memberikan sebuah surat pada Ardian. Ardian masih mengkerutkan kening menerima surat tersebut. Di dalam surat itu, terdapat tulisan Kenzi. Ardian dan Ivan membacanya berdua. Surat itu berisi ... 'Papa jahat! Aku ingin pergi dan jangan cari aku!' Isi surat yang cukup sederhana dengan tulisan polos dari seorang anak berusia lima tahun. Ardian langsung remuk. Ia bingung harus melakukan apa dulu? Ia juga benar-benar tidak terpikir di mana Kenzi pergi? "Kita panggil polisi saja!" kata Ivan yang langsung mengeluarkan ponselnya. Tepat saat itu, Ardian melihat di atas meja dekat ranjang Kenzi, ada sebuah dokumen yang tidak asing. Ardian yang penasaran pun perlahan berjalan mendekatinya. Ketika sudah sampai Ardian mengambil dokumen tersebut dan membacanya. Dokumen itu adalah biodata dan proposal milik Nada yang sempat ia buang di sampah. Ternyata Kenzi sempat mengambil dan menyimpannya sendiri. Membuat Ardian menemukan sebuah petunjuk besar. "Aku akan menghubungi polisi," ujar Ivan yang membuat Ardian kembali menoleh ke arahnya. Ivan mengusap layar ponselnya beberapa kali dan kemudian ia menempelkan ponsel di telinga. Ia langsung bertindak cepat untuk meminta bantuan polisi. "Tunggu, Van!" cegah Ardian tiba-tiba. Membuat Ivan yang akan memanggil polisi itu jadi terhenti. "Ada apa?" "Tidak perlu memanggil polisi! Aku tahu di mana Kenzi sekarang," ujar Ardian yakin saat mengatakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN