Nada duduk bersila termenung sambil melamun di dalam apartemennya. Di hadapannya, terdapat banyak sekali berbagai macam barang pemberian Haikal. Ada boneka, bros, gantungan kunci dan tentu saja banyak foto-foto mereka berdua saat masa-masa pacaran dulu.
Seharian ini, Nada sudah mengambil semuanya dan menaruh di atas lantai. Ia juga menyiapkan kardus kosong untuk tempat barang-barang kenangan itu. Namun, Nada masih belum juga memasukkannya ke dalam kardus kosong tersebut.
Bagi Nada, itu bukan sekedar barang biasa, tapi banyak sekali kenangan di dalamnya. Ia mengambil salah satu foto di dalam figura kecil. Nada ingat sekali foto itu. Foto tahun lalu di mana mereka sedang liburan ke pantai. Waktu itu, mereka menghabiskan waktu bersenang-senang hanya berdua saja.
Mendadak hati Nada terasa sesak. Ia berkaca-kaca. Siapa yang tahu jadinya kalau Haikal akan meninggalkannya hanya karena jabatan? Bahkan dia sangat jahat karena telah mencuri proposalnya? Ditambah lagi, selama ini ternyata dia diam-diam menjalin hubungan dengan Felisa!
Nada menghela nafas beratnya. Ia lalu melempar masuk fotonya ke dalam kardus. Begitu juga barang-barang yang lainnya, juga ikut dimasukkan ke dalam kardus.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemennya. Membuat Nada terhenyak sesaat. Siapa yang datang? Pikirnya. Nada pun menyeka air matanya dan ia berdiri lalu berjalan membuka pintu.
Ketika baru membuka pintu, Nada terkejut melihat seorang anak kecil sedang berdiri di hadapannya. Ia kenal anak itu. Bukankah dia Kenzi?! Membuatnya mengkerutkan kening heran.
"Kenzi?" sapa Nada bingung.
Nada lalu menengok ke arah kanan dan kiri untuk melihat bersama siapa Kenzi? Tapi, tidak ada siapa-siapa. Nada pun langsung berjongkok supaya tingginya sepadan dengan Kenzi.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Nada sambil memegangi kedua bahu Kenzi kecil.
"Aku mau ketemu Kakak," jawab Kenzi dengan polosnya. Nada mengerjapkan kedua mata cepat dan keheranan.
"Bagaimana kamu bisa tahu tempat tinggalku?"
"Aku melihatnya di kertas yang dibuang Papa ke tempat sampah waktu itu," jawab Kenzi. Nada langsung menganga tercengang tidak menyangka.
"Astaga, Kenzi? Kenapa kamu bisa melakukan hal senekat itu?" tanya Nada. Sedangkan Kenzi hanya terdiam sambil menundukkan pandangan. Sekian detik kemudian, ia mengangkat kepala dan melihat Nada dengan tatapan memelas.
"Kakak, aku haus ...," ujar Kenzi. Melihat tatapan lugu anak kecil itu, tentu saja Nada merasa iba.
"Ya sudah! Ayo masuk dulu," ajak Nada menggandeng tangan Kenzi.
Mereka berdua masuk ke dalam. Kenzi saat itu membawa tas ransel kecil yang tergantung di punggungnya. Nada membantu Kenzi melepaskan sepatunya dan menyuruh Kenzi duduk di sofa ruang tamunya.
"Maaf ya, Kenzi. Kakak sedang beres-beres, jadi sedikit berantakan," kata Nada setelah membantu Kenzi duduk dengan nyaman.
Setelah itu Nada berjalan ke dapur dan mengambil air putih. Tidak lama, Nada sudah kembali dan membawa segelas air. Ia memberikannya pada Kenzi. Kenzi meminumnya cukup banyak. Melihatnya membuat Nada penasaran.
"Kamu ke sini, apa Papamu tahu?" tanya Nada lagi. Kenzi menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Nada. Membuat Nada menautkan kedua alis.
"Kalau begitu apa kamu ingat nomor telepon Papamu? Aku akan menghubunginya."
"Aku tidak mau pulang ke rumah Papa!" jawab Kenzi dengan wajah ngambek sembari menyedekapkan kedua tangannya.
"Memangnya kenapa, Kenzi? Sekarang pasti Papamu sedang khawatir," tutur Nada lembut. Kenzi lalu menoleh ke arah Nada kembali.
"Kakak, apa Kakak mau jadi Mamaku?" tanya Kenzi yang membuat Nada terhenyak.
Lagi. Kalimat ini lagi yang pernah Kenzi katakan sebelumnya. Membuat Nada keheranan mendengarnya. Nada kebingungan sambil mengerjapkan mata cepat.
"Kenzi, kenapa kamu berkata begitu?" tanya Nada dengan lembut.
"Aku benci Papa! Papa selalu berbohong!" kata Kenzi dengan cemberut.
Tiba-tiba dari arah luar, pintu apartemen Nada terdengar diketuk lagi. Mengalihkan fokus Nada dan Kenzi. Mendengar ketukan itu, Kenzi kecil langsung memiliki firasat kalau itu adalah Ardian.
"Sebentar ya, Kenzi, Kakak mau membuka pintu dulu," ujar Nada.
Nada berdiri dan berjalan ke arah pintu. Begitu sampai dan ia membuka pintunya, ternyata memang benar yang baru mengetuk pintu adalah Ardian. Membuat Nada terhenyak. Ardian berdiri di hadapannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Pak Ardian?" sapa Nada heran melihat Ardian yang berdiri di hadapannya itu.
"Mana Kenzi?" tanya Ardian tanpa basa-basi.
"Eee ...." Nada merasa canggung dan salah tingkah sendiri. Ia pun juga bingung harus menjawab apa?
Belum sempat Nada menjawab apa-apa, Ardian langsung masuk begitu saja ke dalam apartemen Nada. Membuat Nada terkejut dibuatnya. Saat sudah berada di dalam, Ardian langsung menyapu seluruh ruang apartemen Nada yang baginya cukup sempit itu. Ia langsung bisa tahu Kenzi yang sedang bersembunyi di balik sofa. Sedangkan Nada, merasa kesal dan langsung mengikutinya.
"Kenapa kamu masuk ke rumahku dengan seenaknya begitu?!" seru Nada kesal.
Ardian tidak menghiraukan Nada. Ia fokus melihat ke arah Kenzi yang sedang bersembunyi, tapi masih kelihatan itu.
"Kenzi, Papa tahu kamu di belakang sofa! Cepat keluar dan ikut Papa pulang sekarang!" pinta Ardian.
Kenzi lalu keluar dari balik sofa. Setelah keluar, ia langsung berlari ke arah belakang Nada. Membuat Ardian dan bahkan Nada sendiri jadi kebingungan melihat tingkah Kenzi.
"Kenzi, ayo pulang!" pinta Ardian sekali lagi.
"Tidak mau! Papa jahat!" seru Kenzi.
"Kalau kamu tidak mau pulang, Papa akan memaksamu. Cepat pulang!" bentak Ardian.
Bukan hanya Kenzi, tapi Nada juga kaget mendengarnya. Membuat Kenzi jadi mencengkeram tangan Nada dari belakang dan terlihat ketakutan. Nada pun jadi kesal dengan sikap Ardian pada anaknya itu.
"Tenanglah! Dia hanya anak kecil! Kalau kamu membentaknya seperti itu, dia akan semakin memberontak!" ujar Nada pada Ardian.
Nada lalu menggendong Kenzi yang menggigil ketakutan itu. Ia lalu membawanya kembali ke arah sofa untuk duduk. Namun, ketika berjalan sambil menggendong Kenzi, Nada tidak sengaja tersandung kardus tempat barang kenangannya dengan Haikal. Sehingga Nada hampir saja jatuh. Ardian yang melihatnya pun langsung menahan tubuh Nada yang menggendong Kenzi dan tidak jadi jatuh.
Saat itu, mereka berada dalam posisi sangat dekat. Mendadak suasana sekitar berubah menjadi canggung. Mereka saling tatap dalam sekian waktu.
"Hati-hati," kata Ardian yang suara dan wajahnya terasa sangat dekat dengan Nada.
Entah kenapa saat itu jantung Nada mendadak berdebar kencang? Membuatnya langsung salah tingkah. Nada hanya berdehem dan melanjutkan langkah ke sofa.
Sedang Ardian melihat kardus yang ada di bawahnya. Tepat saat itu, ia melihat foto-foto Nada bersama Haikal. Ardian ingat Haikal itu. Ia juga tahu Haikal adalah pacar yang berselingkuh itu.
"Mau ditaruh di mana barang-barang ini?" tanya Ardian. Nada yang sudah sampai di sofa menengok ke arahnya. Nada tahu jika Ardian baru saja memperhatikan barang-barang pemberian Haikal. Nada pun mengalihkan pandangan dan nampak tidak acuh.
"Aku akan membuangnya ke sampah!" jawab Nada setengah kesal.
"Sepertinya barang-barang ini masih bagus? Kenapa kamu mau membuangnya?"
"Bukan urusanmu!" jawab Nada ketus. Ardian pun mengkerutkan kening mendengarnya.
"Baiklah. Memang tidak ada urusannya denganku. Tapi kembalikan Kenzi padaku! Dia harus pulang!" pinta Ardian lagi. Nada kembali menoleh ke arah Ardian dengan menautkan kedua alisnya.
"Apa begini caramu berkomunikasi dengan anak kecil?" tanya Nada pada Ardian. Membuat Ardian kembali mengangkat kepala dan melihat ke arah Nada.
"Kenzi masih kecil. Dia sampai kabur dari rumah, pasti dia sangat marah padamu!" omel Nada lagi. Nada sembari mengusap-usap punggung Kenzi yang memeluknya itu. Membuat Ardian memperhatikan dengan tatapan dalam penuh arti.
"Apa yang kamu lakukan pada Kenzi? Kenapa dia sangat menurut padamu?" Ardian balik bertanya.
"Apa maksudmu? Kenzi sendiri yang tiba-tiba datang ke rumahku!" jawab Nada tidak sadar meninggikan intonasi bicaranya. Setelah itu Nada kembali fokus pada Kenzi lagi.
"Kenzi, tenanglah. Kamu pasti terkejut, ya? Tunggu, Kakak akan mengambilkan minum lagi untukmu," kata Nada.
Kenzi hanya menganggukkan kepalanya pelan. Nada pun akhirnya menurunkan Kenzi di sofa. Setelah itu ia kembali berjalan ke dapur melewati Ardian yang masih berdiri di tempat yang sama.
Setelah Nada mengisi air di dalam gelas, ia kembali berjalan lagi ke arah Kenzi. Namun, tiba-tiba Ardian menghalanginya. Membuat Nada terhenti berjalan dan tidak bisa lewat.
"Apa yang kamu lakukan?! Minggir!" ujar Nada. Kenzi yang ada di sofa memperhatikan mereka berdua.
"Apa ... kamu mau menikah denganku" tanya Ardian tiba-tiba.