Bab 6. Ajakan Ardian

1210 Kata
"A ... apa katamu?" tanya Nada memastikan pendengarannya tidak salah. Ardian masih berdiri tanpa ekspresi. Apa tidak salah? Jangankan Nada, bahkan Ardian sendiri saja tidak percaya kalau ia baru saja mengajak Nada untuk menikah. Kenzi juga ikut terkejut mendengar permintaan papanya. Tapi semua sudah terlanjur, jadi Ardian tidak bisa menariknya kembali. "Seperti yang kamu lihat? Aku membutuhkan orang yang bisa merawat Kenzi. Sedangkan Kenzi sangat menyukaimu. Jadi—" Ardian terhenti saat berbicara karena tiba-tiba Nada menyiramkan air di dalam gelas yang dibawanya ke wajah Ardian. Membuat Ardian terhenyak dan sedikit gelagapan dibuatnya. Sedangkan Kenzi yang melihat pemandangan itu, membelalakkan kedua mata dan mulutnya menganga. Namun, sekian detik kemudian Kenzi justru tertawa senang melihat ayahnya disiram air. Tidak akan menyangka jika Nada akan seberani itu. "Apa kamu sudah gila?! Kita tidak saling kenal! Seenaknya saja mengajak menikah?! tolak Nada dengan tegas. Ardian menyeka wajahnya yang basah sembari menghela nafas. "Dengarkan dulu penjelasanku. Kamu juga bisa mengambil keuntungan dari pernikahan itu nanti. Lihat!" Ardian menunjuk ke arah kardus tempat barang kenangan Nada tadi. "Kamu bisa membalas dendam pada pacarmu yang selingkuh itu," tambahnya. Nada terkejut mendengarnya. "Dari mana kamu tahu?!" "Aku tidak sengaja melihat kejadian di acara pemilihan pengembangan produk oleh dewan direksi waktu itu. Aku bahkan tahu dia sudah mencuri proposal yang sama yang kamu kirimkan ke perusahaanku," jawab Ardian. Nada masih diam mendengarkan. "Awalnya aku pikir kamu yang telah mencuri proposal yang sama. Tapi ternyata bukan. Sekarang laki-laki bernama Haikal itu sudah naik jabatan karena bantuan pacar barunya. Karena itu aku ingin memberikan kesempatan padamu untuk balas dendam dengannya. Jadi, menikahlah denganku." Setelah mendengar penjelasan Ardian, Nada justru kembali menyiram wajah Ardian dengan sisa air dalam gelas yang masih ia bawa. Ardian pun hanya memejamkan mata dan menahan rasa kesal. Seumur hidup, ia baru pertama kali disiram di wajah seperti ini. Namun, Kenzi justru tertawa girang melihatnya. "Meski begitu kamu pikir memutuskan menikah semudah itu?!" "Aku juga bisa memberikan berapa pun yang kamu mau," balas Ardian lagi. Nada pun terkejut mendengar pernyataan Ardian itu. Ia sampai menganga tidak menyangka. Andaikan kalau air di gelasnya masih ada, Nada akan menyiramkannya ke wajah Ardian lagi. Sayangnya sudah habis. "Sembarangan bicaramu! Kamu pikir aku perempuan apa?! Jangan mentang-mentang punya banyak uang, kamu bisa melakukan apa pun!" kata Nada kesal. Ardian pun jadi bingung. Selama ini, ia yang terus menolak seorang perempuan. Baru kali ini ia ditolak perempuan. Ia sendiri juga tidak menyangka kalau Nada justru akan semakin marah. Nada benar-benar berbeda. Pengalaman Ardian saat ia jalan dengan seorang perempuan, tidak seperti Nada. Bukankah perempuan suka dengan uang? Kenapa Nada tidak begitu? "Dengar!" ucap Nada setelah menghela nafas beratnya. "Hari ini aku sudah cukup pusing dan lelah! Kamu seenaknya masuk rumahku dan membuat keributan seperti ini setelah membuang proposalku ke dalam tong sampah! Kamu pikir aku akan percaya?! Sekarang keluar!" pinta Nada. "Nada, aku—" "Keluar!" potong Nada sembari menunjuk ke arah pintunya. Ardian pun tidak bisa berbuat apa-apa? Ia gagal membujuk Nada. Ia tidak punya pilihan lagi selain menuruti perintah Nada untuk keluar dari rumahnya. Ardian hanya bisa menghela nafas setelah mengatakan permintaan yang cukup memalukan dan nekat tadi. "Baiklah," ucapnya sembari menghela nafasnya lagi. "Maaf, aku sudah mengganggumu," tambahnya. Setelah itu, Ardian berbalik ke arah Kenzi untuk mengajaknya pulang. "Kenzi, ayo pulang," ajak Ardian. "Tidak mau!" jawab Kenzi sembari menyedekapkan kedua tangan dan memalingkan badan ke arah lain. "Kamu sudah dengar sendri, kan? Kak Nada menyuruh kita pulang." "Yang disuruh pulang, kan Papa. Bukan aku!" "Kenzi! Jangan main-main lagi! Kamu pikir Papa punya waktu untuk kenakalanmu seperti ini?!" bentak Ardian. Kenzi langsung terhenyak kaget. Membuat Nada kembali melihat ke arah mereka. "Cepat pulang!" Ardian mengambil salah satu pergelangan tangan Kenzi dan menariknya. "Tidak mau ...! Aku mau di sini! Aku tidak mau pulang dengan Papa ...!" tolak Kenzi yang mulai menangis. Nada yang melihat itu pun jadi tidak tega dengan Kenzi yang menangis. Ia yang tadinya marah seketika amarahnya langsung hilang begitu saja. Tiba-tiba Kenzi kembali berlari ke arah Nada dan bersembunyi di belakang Nada untuk kedua kalinya. Membuat Nada juga tidak bisa berbuat apa-apa? "Kenzi! Ayo cepat pulang dan jangan buat ulah lagi!" hardik Ardian yang menyusul Kenzi. "Tidak mau! Aku mau bersama kak Nada di sini!" rengek Kenzi dengan nada memelas. Namun, Ardian berhasil menyergap tangan Kenzi kecil yang akhirnya berhasil menariknya. Ia menggendong putranya. Kenzi pun memberontak dengan kekuatan kecilnya. Ardian sendiri juga susah payah untuk menggendong Kenzi yang penuh pemberontakan itu. "Kak Nada, tolong ...! Aku tidak ingin pulang ...!" panggil Kenzi yang tangisannya semakin keras saja. Nada pun semakin tidak tega melihatnya. "Sudah ... sudah ...," kata Nada yang akhirnya jiwa keibuannya muncul. Nada mengambil Kenzi dari gendongan Ardian. Begitu digendong Nada, Kenzi langsung memeluk Nada. Nada pun menepuk-nepuk punggung Kenzi lembut untuk menenangkannya. Melihat adegan itu, jujur saja membuat Ardian merasa sebuah percikan kecil dari dalam hatinya. "Jangan terlalu kasar dengan anak kecil!" ujar Nada lagi pada Ardian. "Tapi dia harus pulang. Kalau tidak dia akan mengganggumu di sini," jawab Ardian. Nada lalu menghela nafas pelan. "Aku akan mencoba membujuknya." Nada lalu kembali ke sofa dan duduk di sana sembari memangku Kenzi. Setelah duduk, Kenzi meregangkan pelukannya dari Nada. "Kenzi, kamu harus pulang ke rumah, ya," bujuk Nada lembut. "Tidak mau!" jawab Kenzi masih bersikeras. Nada lalu menengok ke arah Ardian sebentar. Setelah itu ia kembali melihat Kenzi. "Sekarang katakan pada Kak Nada, kenapa kamu tidak mau pulang?" "Papa tidak mengijinkanmu bermain video games dan menyuruhku ke sekolah setiap hari! Aku tidak mau!" "Baiklah. Kalau begitu, Kak Nada akan bilang ke Papa kalau setelah kamu pulang, Papa akan mengijinkanmu bermain video game dan tidak akan memaksamu pergi ke sekolah. Bagaimana?" tawar Nada. Mendengar hal itu, Ardian pun melebarkan kedua matanya. "Pasti Papa tidak akan mau melakukannya!" jawab Kenzi. "Tenang saja. Kakak akan bicara pada Papa supaya Papa mau melakukannya, ya," ujar Nada. Ia lalu menoleh ke arah Ardian dan memberi kode mata supaya Ardian juga setuju. "Kamu sudah dengar, kan? Kamu tidak boleh melarang Kenzi bermain game dan berhenti menyuruhnya ke sekolah!" ujar Nada sambil terus memberi kode pada Ardian. "Mana mungkin aku melakukannya?" jawab Ardian sembari mendengkus pelan. Nada pun melebarkan kedua mata melihat Ardian yang tidak bisa diajak kerja sama itu. "Lihat, Kak Nada! Papa tidak mau melakukannya ...!" rengek Kenzi kembali. "Aku tidak akan berbohong pada Kenzi!" ujar Ardian lagi. "Siapa yang menyuruhmu berbohong?! Kamu hanya perlu benar-benar melakukannya!" sanggan Nada. "Apa?! Tentu saja itu tidak mungkin! Kecuali kalau kamu bersedia melakukan satu hal." Tiba-tiba Ardian melakukan penawaran. "Melakukan apa?" "Besok malam ada acara undangan makan malam. Datanglah dan ikut denganku." "Aku?! Kenapa aku harus ikut?!" "Kak Nada ikutlah! Kata Papa besok aku juga ikut!" sela Kenzi sambil menggoncang lengan Nada. Membuat Nada kebingungan. "Kenzi, kebetulan besok kak Nada tidak bisa," kata Nada yang menolak halus saat bicara dengan Kenzi. Kenzi pun langsung cemberut. "Kak Nada sama saja! Kak Nada juga bohong padaku!" "Lihat! Di sini bukan aku saja yang melakukan kesalahan, tapi kamu juga melakukan hal yang sama," ujar Ardian. "Baiklah ...! Baiklah!" kata Nada akhirnya yang mengalah. Nada kembali melihat ke arah Kenzi. "Besok Kakak akan ikut ke acara itu," tambahnya. "Yeeeay!" seru Kenzi kegirangan. Mau bagaimana lagi? Nada terpaksa melakukannya demi Kenzi. Sedangkan Ardian yang juga mendengarnya, akhirnya bisa menyunggingkan sebuah senyum tipis yang ia sembunyikan dari Nada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN