Bab 7. Kenzi Mendadak Patuh

1047 Kata
Ardian dan Kenzi yang baru pulang dari apartemen Nada, sudah tiba di rumah mereka. Saat baru memasuki ruang tamu, bi Surti dan Ivan yang juga masih menunggu kepulangan mereka, segera menyambutnya. "Kalian sudah pulang?!" tanya Ivan ketika sudah berada di samping mereka berdua. "Hai Om Ivan!" sapa Kenzi yang mendadak ramah. Ivan langsung heran melihatnya. "Ha ... hai, Kenzi," jawab Ivan tersenyum canggung. "Tuan Muda!" kata bi Surti yang langsung berlari memeluk Kenzi. "Tuan tidak apa-apa, kan?!" "Iya. Maaf ya, Bi. Aku sudah membuat Bibi khawatir," jawab Kenzi kecil. "Syukurlah tuan baik-baik saja! Bibi akan memasak makan siang untuk Tuan Muda. Tuan Muda harus makan, ya?" "Iya, Bi. Aku akan makan, kok," jawab Kenzi menganggukkan kepalanya satu kali. Setelah itu bi Surti pun berdiri dan berjalan ke arah dapur. Kenzi pun berjalan ke arah kamarnya dengan sangat patuh. Ivan memperhatikan Kenzi dengan setengah menganga keheranan. Ivan lalu mendekat ke arah Ardian. "Ada apa ini? Kenapa Kenzi tiba-tiba jadi patuh begitu?" tanya Ivan dengan suara berbisik. "Entahlah?" jawab Ardian sambil berjalan menjauhi Ivan. Ivan pun menautkan kedua alis dan segera menyusul mengikuti Ardian. "Jadi kau benar-benar menemukan Kenzi di rumah perempuan bernama Nada itu? Kenzi benar-benar ke sana sendirian?!" tanya Ivan yang belum puas. "Hm! Begitulah!" jawab Ardian yang sudah masuk ke ruangan kerjanya dan duduk di tempat kerjanya. Ivan sendiri langsung duduk di depannya. "Dia mencari taksi sendiri dan memberikan alamat Nada pada sopir taksinya." "Wah, anak itu sangat nekat sekali?! Untung saja dia tidak diculik atau bertemu penjahat," ujar Ivan nampak lega. Ardian hanya diam tidak merespon. Ia memperhatikan komputernya yang baru saja menyala. Ivan lalu kembali menoleh ke arahnya. "Tapi ngomong-ngomong, pulang dari sana Kenzi bisa langsung menurut begitu? Memangnya ada apa dengan perempuan bernama Nada itu?" "Aku sendiri tidak tahu kenapa Kenzi sangat menyukainya? Tapi Kenzi sempat bilang padaku kalau hanya Nada, orang yang berani padaku. Alasan yang tidak masuk akal," ujar Ardian sembari mendengkus pelan. Ivan langsung menaikkan kedua alis mendengarnya. Ia cukup terkejut mendengarnya. "Benarkah?! Memangnya seperti apa si Nada itu?" "Mungkin dia perempuan yang agak gila. Lihat! Bahkan dia berani menyiramkan air ke wajahku," kata Ardian menunjuk ke arah baju bagian atas yang basah. Ivan langsung tercengang mendengarnya. "Benarkah?! Wah ...! Ternyata ada perempuan yang berani seperti itu padamu, ya? Apa mungkin dia masih marah karena proposalnya kau buang ke tempat sampah?" "Ah ...! Sudahlah! Tidak perlu membicarakan soal perempuan itu lagi!" ujar Ardian yang langsung mengganti topik pembicaraan. "Jadi bagaimana kita menangani soal salah satu investor kita yang akhirnya mencabut sahamnya? Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Ardian. Ivan pun menghela nafas beratnya. "Apa lagi? Jalan satu-satunya adalah dengan kau menikah! Kau masih ingat betul wasiat kakekmu, bukan? Setelah kau menikah, maka semua aset warisan kakekmu akan jatuh ke tanganmu. Hanya dengan itu, kau bisa menyelamatkan perusahaanmu, Ar!" jelas Ivan. Ardian terdiam sejenak tidak segera menjawab. Yah. Kalau dipikir-pikir, memang hanya itulah jalan satu-satunya. Tapi kenapa harus menikah? Lalu dengan siapa?! "Apa kamu sudah gila?! Kita tidak saling kenal! Kamu pikir pernikahan semudah itu?!" Tiba-tiba Ardian terlintas kalimat Nada yang setengah memarahi dan kesal saat menolaknya. Kalau dipikir-pikir, wajar Nada marah. Orang gila mana yang mau mengajak perempuan yang baru dikenal untuk menikah? Terlebih lagi, perempuan itu sudah pernah diusir dari kantor sebelumnya. Tapi kalau diingat, rasanya Ardian hampir tidak percaya dengan apa yang dilakukannya sendiri. Bisa-bisanya dia langsung mengajak perempuan asing menikah begitu saja? Dirinya pasti sudah gila! Ardian memejamkan kedua mata rapat-rapat menahan rasa malu. "Ar!" panggil Ivan tiba-tiba membuat Ardian tersadar kalau Ivan masih ada di dekatnya. Ia langsung membuka mata dan langsung melirik ke arah Ivan. "Hm? Ada apa?" "Kenapa kau diam? Kau dengar apa yang baru saja aku katakan, bukan? Satu-satunya solusi kau harus menikah!" "Ah ...! Sudahlah! Kenapa kau terus menyuruhku menikah?! Kau pikir menikah semudah itu?!" "Baiklah ... baiklah! Aku tidak lagi menyuruhmu menikah. Tapi paling tidak, kau dan Kenzi harus datang ke acara jamuan makan malam besok! Kehadiranmu sangat penting! Aku tahu Kenzi pasti tidak mau datang, tapi paling tidak kau sebagai Papanya harus bisa membujuknya, bukan?" "Kenzi dan aku akan datang," kata Ardian. Ivan pun langsung kaget mendengarnya. "A ... apa?! Apa aku tidak salah dengar?!" "Kenzi bersedia dengan senang hati akan ikut ke acara itu." "Benarkah?! Wah, tumben sekali?! Keajaiban apa yang sudah terjadi dengan Kenzi sebenarnya?!" "Entahlah? Kau tanya sendiri sana!" ujar Ardian yang langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan kerjanya yang ada di dalam rumah itu. "Hei! Mau ke mana kau?! Tunggu dulu!" seru Ivan. Namun, Ardian sama sekali tidak menghiraukannya dan malah langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya. Membuat Ivan penasaran. Ivan pun akhirnya ikut keluar dan menengok ke arah kamar Kenzi. Diam-diam ia langsung berjalan ke arah kamar Kenzi. Ketika di ambang pintu, ia melihat Kenzi yang sudah bermain video games. Ivan lalu mengetuk pintu kamar Kenzi beberapa kali dengan pelan. "Kenzi?" panggil Ivan. Membuat Kenzi menoleh ke arah pintu. "Ada apa Om Ivan?" tanya Kenzi. Ivan pun tersenyum dan berjalan masuk. "Kamu sedang apa?" "Om tidak lihat? Aku sedang main video game." "Apa kamu tidak takut dimarahi Papa main terus-terusan?" "Papa sudah janji membolehkanku main video games, kok!" "Benarkah? Aneh sekali Papa mengijinkanmu begitu saja?" gumam Ivan pelan. "Karena tadi kak Nada yang sudah membujuk Papa supaya tidak memarahiku lagi," jawab Kenzi sembari tersenyum lebar. Ivan pun kembali menautkan kedua alis heran. "Apa Papa benar-benar menuruti perintah kak Nada?" "Iya, Om!" jawab Kenzi lagi sembari mengangguk kencang. "Benar-benar aneh?" Ivan memegangi dagu sembari mengkerutkan kening heran. Ia lalu kembali fokus pada Kenzi. "Oh iya, Kenzi? Besok ada acara jamuan makan malam rutin para pengusaha. Papa dan kamu juga diundang. Apa kamu besok mau ikut?" tanya Ivan lagi. "Mau!" jawab Kenzi sembari mengangguk dua kali. Membuat Ivan cukup terhenyak mendengarnya. "Wah, lihatlah! Kenzi sekarang sudah sangat menurut, ya? Padahal biasanya kamu langsung menolaknya. Memang apa yang sudah terjadi?" "Karena aku akan segera mendapat Mama, Om!" jawab Kenzi pada Ivan. Mendengarnya Ivan lalu hanya menghela nafas berat sembari menggelengkan kepala beberapa kali. Ia lalu mengambil botol air mineral dan membukanya. "Andaikan itu benar?" gumam Ivan pelan berbicara sendiri sembari meminum air dalam botol tersebut. "Benar, Om! Kak Nada yang akan menjadi Mamaku! Karena tadi Papa bilang mau menikahi kak Nada!" terang Kenzi. Ivan yang sedang minum itu langsung terkejut sampai tersedak dan terbatuk-batuk. "Apa?!" tanya Ivan kaget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN