"Jadi kau mau menikah dengan gadis yang bernama Nada itu?!"
Suara Ivan terdengar menggelegar ke seluruh ruangan. Membuat Ardian yang sedang minum pun langsung kaget, lalu tersedak dan terbatuk-batuk. Ivan berjalan mendekatinya.
"Beginilah ekspresiku saat tahu dari Kenzi tadi. Apa kau benar-benar melamar gadis itu?!" tanya Ivan lagi. "Waaah, pantas saja kau tadi cukup lama saat menjemput Kenzi? Apa kau dan yang namanya Nada itu—"
"Sudahlah! Jangan bicara denganku lagi! Kembalilah ke kantor sekarang!" potong Ardian.
"Tunggu ... tunggu! Maksudku bukankah itu bagus?! Kau memang harus menikah, bukan?! Besok Kenzi juga bilang kalau Nada akan ikut ke acara jamuan makan malam itu? Pantas saja kau tidak bingung? Apa kau akan melamarnya lagi?"
"Jangan asal bicara, kau!"
"Ar, aku tidak sedang bercanda! Kau memang harus menikah! Perusahaan kita sedang kritis sekarang!"
"Tidak! Kita masih bisa bangkit dengan cara lain."
"Sudahlah ...! Sekarang cobalah berpikir realistis saja. Saat kau menikah dengan gadis bernama Nada itu, kau bisa menyelamatkan perusahaanmu. Kenzi juga akan senang karena memiliki Mama baru. Semua masalah beres, benar bukan?"
"Bicaramu memang gampang! Tapi apa kau bisa melakukannya? Lihat! Aku baru mandi setelah disiram air olehnya tadi."
"Oooh ... jadi itu alasan bajumu basah? Pasti kau mengatakan hal-hal yang buruk pada Nada?"
"Tidak! Aku hanya bilang, mengajaknya menikah. Tiba-tiba dia langsung menyiramkan air ke wajahku," jawab Ardian berbicara seolah tanpa rasa bersalah. Ivan pun menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepala beberapa kali pelan.
"Kau melamar seperti itu?! Ya jelas saja dia marah! Ardian ... Ardian! Sampai kapan hatimu yang beku seperti bongkahan es itu mencair?! Apa kau tidak bisa bersikap lebih lembut sedikit saja?! Melamar perempuan itu harus menggunakan kelembutan. Paling tidak, berilah dia bunga atau cincin berlian yang mahal. Dan tunjukkan keseriusanmu kalau kau benar-benar ingin menikah dengannya!" jelas Ivan lagi. Ardian hanya diam dan sama sekali tidak merespon.
"Baiklah! Sekarang karena kau sudah memilih calon istri, maka aku akan membantumu! Besok di jamuan makan malam, pastikan kau bisa membuatnya setuju!"
***
Nada turun dari sebuah mobil mewah setelah dibukakan oleh sopir. Sebelumnya, mobil mewah itu adalah suruhan dari Ardian untuk menjemput Nada. Tentu saja, Nada menempati janjinya pada Ardian dan Kenzi untuk datang ke acara jamuan makan malam hari ini. Bahkan, Ardian juga sudah memberikan Nada gaun yang sangat cantik untuk ia pakai malam ini.
"Saya permisi, Nona," kata seorang sopir yang tadi membukakan pintu saat Nada turun.
"I ... iya, Pak," jawab Nada canggung. Mobil mewah pun pergi meninggalkan Nada.
Nada lalu melihat di depannya, terdapat sebuah gedung megah yang sangat estetik. Beberapa orang yang datang pun juga mengenakan jas dan gaun yang rapi dan nampak berkelas. Sama seperti yang dipakainya malam ini. Nada kemudian menghela nafas beratnya.
"Apa yang aku lakukan di sini sebenarnya?" gumam Nada pelan berbicara sendiri. "Konyol sekali! Hanya karena anak lima tahun, aku jadi harus melakukan hal-hal seperti ini!" tambahnya.
Tapi karena sudah sampai, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain masuk ke dalam. Nada mulai melangkah menuju ke arah pintu utama yang menjulang tinggi seperti di istana. Begitu sampai di area depan, ia tiba-tiba terhenti.
Ada satu hal yang membuatnya terkejut dan jantungnya jadi berpacu lebih kencang. Saat itu, ia melihat Haikal dan Felisa. Mereka berdua bergandengan tangan dan sedang diwawancarai oleh para wartawan. Sedang Haikal dan Felisa masih belum menyadari kehadiran Nada.
"Anda benar-benar sangat brilian! Rencana pengembangan produk ide Anda sangat sempurna!" puji salah satu wartawan pada Haikal.
"Terima kasih," jawab Haikal.
"Bagaimana inspirasi Anda sehingga berhasil menemukan ide produk Snack kolagen itu?" tanya wartawan yang lain.
"Saya berpikir keras berhari-hari dan mati-matian mengerjakannya semalaman. Syukurlah kalau produknya bisa lolos dan diterima baik oleh para dewan direksi," jawab Haikal.
"Satu tambahan lagi, sekarang di perusahaan papaku sudah mulai memproduksinya," tambah Felisa yang ada di samping Haikal.
Nada tentu bisa mendengar dengan jelas. Kalimat yang dilontarkan Haikal dan Felisa itu membuatnya merasa sangat geram. Nada tidak sadar ia sampai mengepalkan tangan erat-erat mencoba menetralisir amarah dan rasa kecewanya.
"Kalau dilihat-lihat, kalian pasangan yang serasi sekali. Pak Haikal orang yang sangat pintar, sedangkan Nona Felisa putri dari CEO perusahaan yang sedang naik daun. Kalian benar-benar sangat cocok!" Lagi-lagi seorang wartawan terdengar memuji mereka. Haikal dan Felisa pun tersenyum bangga dan terlihat besar kepala.
"Kira-kira kapan kalian akan menikah?" tanya wartawan lagi.
Belum sempat menjawab, tepat saat itu Haikal menoleh ke arah Nada yang ternyata sedang memperhatikan mereka. Membuat Haikal terkejut bukan main. Mendadak, tenggorokannya langsung kering dan lidahnya kaku tidak bisa berbicara.
"Nada?! Kenapa dia bisa ada di sini?! Apa itu benar-benar Nada?! Kenapa dia cantik sekali?!" gumam Haikal dalam hati sambil terus memperhatikan Nada dengan balutan gaun yang terlihat mewah dan mahal.
Felisa jadi menoleh ke arah tatapan mata Haikal. Ia juga terkejut baru menyadari kalau Nada berdiri di sana. Dengan wajah angkuh tidak tahu malu, Felisa merapatkan lingkaran tangannya di lengan Haikal untuk memamerkan hubungannya dengan Haikal.
"Tentu saja kami akan menikah secepatnya," jawab Felisa pada wartawan yang bertanya tadi.
Nada sekali lagi, menghela nafas panjangnya. Ia tidak peduli dan hanya akan mengabaikan kedua orang jahat itu. Ia melanjutkan jalan, melewati Haikal dan Felisa yang sedang dikerumuni oleh para wartawan tadi. Haikal yang melihat Nada saat itu, merasa salah tingkah sendiri dan juga sedikit merasa bersalah. Namun, Felisa segera menarik lengannya lebih kencang untuk menyadarkan Haikal, karena mereka masih berhadapan dengan para wartawan.
Sedangkan Nada yang sudah berada di dalam, terhenti sejenak. Ia menarik nafas panjang untuk mengontrol dirinya. Di belahan sisi lain dalam gedung itu, dari arah yang tidak terlalu jauh, Ardian, Kenzi dan Ivan sudah berada di dalam dan mereka sudah membaur dengan para tamu undangan lainnya.
"Papa, lihat! Kak Nada sudah datang!" ujar Kenzi menggoncang kan tangan Ardian dan menunjuk ke arah Nada.
Ardian dan Ivan pun menoleh ke arah pintu utama tempat Kenzi menunjuk tadi. Satu lemparan tatap ke arah Nada, membuat Ardian terpana seketika. Nada malam ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Hari ini, ia terlihat jauh lebih cantik dan mempesona.
"Wuauw! Jadi itu yang namanya Nada?! Ternyata dia cantik sekali!" seru Ivan tiba-tiba yang mengembalikan fokus Ardian yang sempat tersesat sesaat ketika memperhatikan Nada tadi. "Pantas saja Kenzi suka. Ternyata Kenzi tidak salah memilih calon Mama!" tambahnya.
"Benar, kan Om? Pilihanku memang yang terbaik!" jawab Kenzi. Ivan pun hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala tanda setuju.
"Ar, apa lagi yang kau tunggu?! Cepatlah jemput dia!" pinta Ivan.
"Ayo, Pa!" ajak Kenzi juga.
Ardian pun mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah Nada. Ia menggandeng tangan Kenzi, dan semakin dekat dengan Nada. Nada juga tepat melihat Ardian yang berjalan ke arahnya.
"Kamu sudah datang?" tanya Ardian.
"Halo kak Nada?!" sapa Kenzi kecil. Nada melihat ke arah Kenzi dan tersenyum seadanya.
"Hai, Kenzi," jawab Nada yang terlihat senyumnya dipaksakan. Ardian merasa kalau ekspresi wajah Nada ada yang salah.
"Kamu kenapa? Kenapa kelihatannya kesal begitu?" tanya Ardian.
"Tidak apa-apa," jawab Nada dingin dengan menundukkan pandangan dan masih ber-ekspresi sama.
Ardian dan Kenzi pun saling pandang dan mereka jelas tahu kalau Nada sedang dalam suasana hati yang buruk. Saat itu, Ardian melihat tiba-tiba Haikal dan Felisa juga baru masuk setelah melakukan wawancara. Ardian langsung bisa menyimpulkan alasan Nada cemberut saat datang tadi.
Sedangkan di arah yang berseberangan, Haikal dan Felisa yang saling bergandengan juga melihat ke arah Ardian dan Nada. Membuat Felisa tersenyum menyeringai licik. Felisa pun mengajak Haikal untuk mendekat ke arah mereka. Ardian dan Nada juga menyadarinya.
"Malam, Pak Ardian," sapa Felisa dengan congkak setelah berada di dekat mereka.
"Malam," jawab Ardian datar. Felisa lalu menoleh ke arah Nada dengan tatapan sinis.
"Nada? Kenapa kamu bisa ada di sini? Apa ada yang mengundangmu? Apa kamu tidak salah tempat? Kamu tidak menerobos masuk, kan?" tanya Felisa. Nada semakin emosi mendengarnya.
"Jaga bicaramu! Apa kamu tidak cukup membuat kebohongan publik di depan para wartawan tadi?! Apa kamu ingat? Proposal yang dibuat pacarmu itu adalah buatanku!" balas Nada.
Mendengarnya Felisa pun langsung terhenyak kaget. Ia merasa panik karena ada Ardian di sana. Padahal sebenarnya, Ardian sudah tahu semuanya.
"Jangan macam-macam, ya! Proposal itu memang milik Haikal! Haikal juga sudah memberikan hak cipta pada proposal itu! Iya kan, Sayang?" Felisa jadi lebih menempel pada Haikal. Membuat Nada memutar bola mata karena kesal. Sedang Haikal hanya diam dan tidak tahu harus berkata apa?
"Oooh ... ternyata kamu memang suka barang curian, ya? Termasuk laki-laki tidak berguna ini!" Nada masih terus berusaha tidak mau kalah. Felisa pun jadi terpancing kemarahan juga. Ia juga tidak terima. Lalu ia menoleh ke arah Ardian.
"Oh iya, kenapa kamu mencari pak Ardian? Ah! Aku ingat, kamu pernah ditolak dan diusir oleh pak Ardian, bukan? Jadi, tujuanmu ke sini karena ingin meminta pak Ardian untuk menerimamu lagi, bukan?" tebak Felisa. Nada menggenggam erat karena kesal dan ia siap menjawab.
"Aku—"
"Aku yang mengundangnya!" potong Ardian. Membuat semuanya jadi menoleh ke arah Ardian. "Nada bukan tamu biasa. Malam ini, dia adalah tamu kehormatanku. Aku juga yang menyuruhnya ke sini untuk memohon agar dia bersedia jadi sekretarisku lagi," tambah Ardian.
Tentu saja Felisa dan Haikal terkejut mendengar pernyataan Ardian tersebut. Bahkan Nada sendiri juga keheranan di sana. Ardian lalu menoleh ke arah Nada dan tiba-tiba ia merangkul bahu Nada. Membuat Nada terhenyak kaget. Haikal mengkerutkan kening setengah marah melihat Nada seenaknya dirangkul oleh Ardian.
"Sekaligus, Nada adalah calon istriku!" ungkap Ardian yang membuat semua orang melongo.