Bab 9. Kenzi yang Pintar

1178 Kata
Nada melangkah menghentakkan kakinya karena kesal. Ia berjalan keluar meninggalkan gedung megah tempat jamuan acara makan malam itu. Ardian yang sedang menggendong Kenzi, mengikutinya dari belakang. "Mau ke mana kamu?! Acara bahkan belum dimulai!" ujar Ardian yang terus mengikutinya. Nada lalu tiba-tiba berhenti dan langsung berbalik. "Kamu sudah gila, ya?!" seru Nada kelihatan sangat marah sekali. Ardian yang mengikutinya pun juga ikut terhenti. "Bisa-bisanya kamu bilang kalau aku adalah calon istrimu?!" "Apa kamu tidak berterima kasih padaku?" "Apa maksudmu?!" "Aku baru saja menyelamatkanmu! Coba kamu pikir? Apa jadinya harga dirimu di depan pacarmu itu?!" Nada setengah tercekat mendengar ungkapan Ardian. Ia lalu mendesah kasar. "Memangnya siapa yang minta diselamatkan olehmu?! Sudah! Aku sudah cukup stres dengan semua yang berhubungan denganmu! Membuang proposalku ke sampah itu sudah sangat menjengkelkan. Cukup! Sekarang jangan ikuti aku lagi! Jangan pernah ganggu hidupku lagi!" Setelah itu Nada kembali berbalik dan semakin berjalan menjauh. Membuat Ardian jadi bingung sendiri. Kenzi yang sedang digendong Ardian pun juga tidak rela melihat Nada semakin meninggalkannya. "Papa! Jangan biarkan Kak Nada pergi!" seru Kenzi sambil menggoncang-goncangkan bahu Ardian. Ardian pun hanya terdiam dan tidak bisa menjawabnya. Ia tidak tahu harus bagaimana mencegah kepergian Nada? "Papa, jangan diam saja! Ayo cepatlah, Pa! Cepat panggil kak Nada ...!" rengek Kenzi semakin mendesak Ardian supaya membujuk Nada. Ardian pun jadi menoleh ke arah Kenzi dan hanya bisa menghela nafas. "Sudahlah, Kenzi. Biarkan saja dia pergi," kata Ardian. Kenzi langsung mengernyitkan dahi dan berekspresi kesal dan marah. "Papa selalu tidak bisa diandalkan!" olok Kenzi pada Ardian. Membuat Ardian terhenyak dan langsung menautkan kedua alis. "Kamu berani berkata begitu pada Papa?!" "Papa selalu tidak bisa membujuk kak Nada!" keluh Kenzi untuk kedua kalinya. "Biar aku saja!" Kenzi lalu menoleh ke arah Nada. "Mama ...!" panggil Kenzi pada Nada. Ardian yang melihat Kenzi itu tentu saja kaget bukan main. Ia tidak menyangka Kenzi bisa memiliki ide jenius yang cukup mengejutkan seperti itu. Membuatnya tidak jadi marah. Sedangkan Nada, yang bisa langsung mengenali suara Kenzi juga ikut terhenyak dan terhenti sejenak. Ia membalikkan sedikit badannya ke arah Kenzi dan melihat Kenzi heran. "Mama jangan pergi! Jangan tinggalkan aku dan Papa sendirian ...!" kata Kenzi dengan wajah memelas dan juga setengah merengek hampir menangis. Nada yang masih shock pun langsung menganga tidak percaya Kenzi bisa mengatakan hal seperti itu. Sedangkan, orang-orang di sekitar mereka pun jadi langsung melihat Kenzi yang digendong Ardian, dan juga Nada. Mendadak mereka bertiga jadi pusat perhatian. "Mama! Jangan pergi, Ma! Jangan tinggalkan Kenzi sendiri ...!" tambah Kenzi yang kali ini sambil menangis. Nada semakin tercengang lebar mendengarnya. "Lihat, itu! Kasihan sekali anak itu!" "Seharusnya kalau sedang marah, jangan sampai mengorbankan anak juga, ya!" "Aku juga seorang ibu. Kalau aku jadi perempuan itu, aku pasti tidak akan meninggalkan anak!" Suara-suara orang di sekitar yang bisa didengar Nada benar-benar membuat Nada semakin terintimidasi. Nada pun jadi salah tingkah dan serba salah sendiri. Ia juga sangat malu, mendengarnya. "Maaf, kalian salah paham! Dia bukan anakku!" kata Nada mencoba menjelaskan pada orang di sekitarnya. "Ya ampun, Mbak! Marah ya marah saja! Jangan sampai tidak mengakui anak sendiri!" balas salah seorang yang juga ada di sana. Membuat Nada semakin kebingungan dan linglung sendiri. Ardian yang sedang menahan senyum pun akhirnya berjalan mendekati Nada. Rupanya, Kenzi cukup pintar juga. Pikir Ardian. "Maafkan saya. Saya tidak bisa menjaga istri saya sendiri. Maaf sudah membuat keributan di sini," kata Ardian pada beberapa orang yang ada di dekat mereka. Membuat Nada semakin tercekat. "Apa yang kamu katakan?! Kenapa tidak jujur saja!" balas Nada pada Ardian. "Mama ...! Aku ingin dengan Mama malam ini ...!" Kenzi kembali merengek dan membentangkan tangan ingin digendong Nada. Membuat Nada tidak jadi marah dan semakin serba salah. Apa boleh buat? Ia pun jadi pasrah dan hanya bisa mengikuti kejadian di sekitarnya. "Mbak, lain kali kalau sedang bertengkar, tolong pikirkan anak juga," tutur salah satu orang di sana. Nada pun semakin pasrah dan hanya memutar bola mata sembari menghela nafas beratnya. "Kalau begitu, kami pamit dulu!" ujar Ardian pada semua orang. Ia lalu menoleh ke arah Nada dan memegangi pergelangan tangan Nada. "Ayo!" ajak Ardian. Ardian menarik tangan Nada dan berjalan ke arah mobilnya. Nada yang sedang terjebak itu pun jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa diam mengikuti Ardian masuk ke dalam mobilnya. "Kenapa nasibku sial sekali?" gumam Nada pelan berbicara sendiri. *** Haikal dan Felisa yang juga baru selesai acara jamuan makan malam itu, keluar dari gedung. Setelah pertemuannya dengan Ardian tadi, Haikal terus saja melamun dan tidak fokus. Ia terus menerus memikirkan Ardian yang mengakui kalau Nada adalah calon istrinya. Ditambah lagi, Ardian dengan seenaknya merangkul bahu Nada. "Haikal!" panggil Felisa dengan suara kencang. Membuat Haikal langsung terhenyak dan menoleh ke arah Felisa. "I ... iya? Ada apa?" tanya Haikal. Felisa menarik tangan Haikal sambil menghela nafas beratnya. "Kamu mau ke mana?! Kamu melewatkan mobilmu!" kata Felisa. Haikal pun terhenyak dan baru saja kalau ia berjalan sambil melamun dan melewati mobilnya. Haikal pun jadi langsung berbalik dan langsung berjalan mendekati mobilnya. Ia juga membukakan pintu untuk Felisa. "Masuklah," ucap Haikal yang terdengar lemas. Felisa memperhatikan Haikal dan semakin mengkerutkan kening heran. "Kamu kenapa dari tadi kelihatan bingung?! Kamu pasti sedang memikirkan gadis itu, kan?! Kamu sedang memikirkan Nada! Mengaku saja!" ujar Felisa dengan marah. "Tidak, Sayang. Aku hanya merasa aneh, kenapa bisa-bisanya pak Ardian bilang kalau Nada adalah calon istrinya? Padahal mereka saja baru bertemu?" "Itu sama saja kamu sedang memikirkannya! Bilang saja kalau kamu sedang cemburu, kan?! Iya, kan?!" "Tidak, Felisa! Kenapa aku harus cemburu?! Aku hanya—" "Kamu masih mencintai Nada, kan?! Kalau begitu aku akan bilang pada Papaku untuk mencabut gelar manajermu!" kata Felisa yang kembali berjalan ke arah gedung tempat acara tadi. Haikal pun tercekat dan panik. Ia segera menyusul dan menarik tangan Felisa untuk mencegah Felisa pergi meninggalkannya! "Tunggu, Fel! Apa yang kamu lakukan?!" "Tentu saja aku akan bilang pada Papa kalau proposalmu adalah proposal milik Nada!" "Fel! Jangan main-main! Bagaimana denganku?! Apa jadinya aku kalau sampai papamu tahu?! Aku pasti akan dipecat!" "Aku tidak peduli! Salahmu sendiri masih memikirkan Nada!" Haikal yang semakin panik pun tidak punya pilihan lain. Ia segera menarik tangan Felisa dan langsung memeluk Felisa. Ia mendekap erat Felisa supaya Felisa tenang dan mengurungkan niatnya untuk mengatakan pada papanya. "Maaf, maafkan aku," bisik Haikal pada Felisa. "Aku sama sekali tidak memikirkan Nada. Sekarang hanya kamulah satu-satunya kekasihku," lanjutnya. Felisa pun terdiam dalam sekian detik menandakan bahwa ia sudah cukup tenang. Dengan begitu, Haikal melepaskan pelukannya dan ia menatap Felisa. "Aku akan mengantarmu pulang, ya," bujuk Haikal lagi. Felisa yang masih dengan wajah cemberut itu, tidak menjawab. Ia lalu berjalan ke arah mobil Haikal dengan wajah setengah ditekuk. Haikal pun hanya menghela nafas panjangnya. Juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Haikal kemudian segera berjalan menyusul Felisa dan membukakan pintu mobilnya kembali. Felisa masuk dengan wajah cemberut. Haikal berusaha tersenyum dan menutup pintu mobil. Setelah Felisa berada di dalam, Haikal sudah nampak lega. Tapi, sekian detik kemudian ia langsung berwajah murung kembali. "Kenapa pak Ardian bisa mengakui kalau Nada adalah istrinya?!" gumam Haikal dalam hati yang sebenarnya di dalam kepalanya masih penuh memikirkan soal Nada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN