Sandiwara Fendy

907 Kata
Di ruang tamu Nita sudah bersiap-siap untuk pulang. Begitu Fendy muncul, dia langsung berpamitan dengan Yeti. Yeti mengantar Nita sampai naik ke dalam mobil. Lalu Fendy menghidup kan mesin mobil itu dan meluncurkannya pergi. "Apa maksudmu memberi tahu tempat tinggal Dewi?" tanya Fendy dingin. "Karena mbak Yeti mengkhawatirkan kepergian mas Fendy. Aku kasihan melihat mbak Yeti yang senantiasa gelisah dan cemas." "Tapi aku benar-benar tidak suka dengan cara mu yang mau ikut campur urusan rumah tanggaku." Fendy meluncurkan mobilnya dengan kencang. Di setiap tikungan ban mobilnya berdenyit.Tubuh Nita jadi terombang-ambing, seperti naik kapal laut yang diterjang ombak besar. Nita pun berpegangan kuat-kuat agar tubuhnya tidak terombang-ambing. Nita tahu kalau Fendy sedang melampiaskan kemarahannya. "Mas Fendy marah ya sama Nita?" Laki-laki itu tidak menyahut. Malah semakin menancap gas. Membuat Nita jadi ketakutan. "Mas Fendy! Mas Fendy!" teriak gadis itu. "Biarlah Nita turun di sini saja. Mas Fendy tidak usah mengantar Nita sampai di rumah." Fendy tetap bungkam. Nita jadi tambah ngeri naik di dalam mobil yang kecepatannya luar biasa itu. "Mas Fendy membenci Nita sekarang ya?" suara gadis itu gemetar. Wajahnya nampak pucat. "Seharusnya kau bisa mengerti kehidupan yang kualami. Dan aku paling benci dengan caramu itu!" kata Fendy sengit. "Maafkanlah Nita, Mas. Nita tak ingin di dalam hubungan kita akan hadir wanita lain. Wanita yang merupakan saingan buat Nita." "Jadi kau bermaksud memonopoli aku?" "Bukankah selama ini di antara kita telah terjalin hubungan cinta kasih. Mas?" "Jalinan hubungan kita hanya saling membutuh kan. Kau jangan salah mengerti, Nita.Begitu juga hubunganku dengan gadis-gadis lainnya." Mobil itu membelok di bilangan Kebayoran. Lalu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Sesaat Nita menatap lelaki yang duduk di belakang stir itu. Tak ada senyum. Tak ada keramahan. Yang ada sikap dingin lelaki itu. Tak acuh. Nita hanya bisa menarik napas berat. "Kapan mas Fendy punya waktu mengajak Nita lagi?" tanya Nita dengan suara lunak. Sambil membuka pintu mobil. "Kapan-kapan," sahut Fendy tak bersemangat. Malas untuk bertatapan dengan gadis itu. "Terima kasih ya. Mas. Jangan marah lho," Nita melangkah turun dan menghempaskan pintu mobil. Brengsek! Rutuk Fendy dalam hati. Dia langsung tancap gas. Mobilnya meluncur bagai anak panah lepas dari busurnya. Sungguh tak diduga kalau gadis itu sampai mengadu kepada istrinya. Sampai bisa mempengaruhi Yeti yang selama menjadi istrinya tak pernah mencari ke manapun dia pergi. Kalau akan terjadi begini, untuk apa mengajak nya pergi mencari tempat tinggal Dewi. Nita adik kandung istrinya ini yang selalu dianggap bagai seorang sahabat, seorang teman yang setia dan selingkuhannya ternyata mengkhianatinya. Fendy jadi timbul rasa tidak menyukai gadis itu. Mendongkol hatinya. Dan rasa mendongkol itu masih dibawa sampai di rumah. Semacam gumpalan duri yang mengganjal ditekuk hatinya. Sehingga tatapan matanya begitu dingin. Namun Yeti menyambutnya dengan senyuman. Perempuan itu mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. Fendy melempar kunci kontak mobil ke meja. Lalu dia merebahkan diri di atas tempat tidur. Yeti duduk di pinggir tempat tidur sambil mengamati wajah suaminya. Yang diamati menatap langit-langit kamar. Tak acuh. Kendati perempuan itu tetap nampak tenang. Sabar. Setia menunggu senyuman dari suaminya. "Mama minta papa jangan salah mengerti.Mama tidak punya maksud membikin malu papa di hadapan Dewi," kata Yeti lunak. Hati-hati sekali agar jangan sampai suaminya tersinggung. "Aah, kau pasti sudah ngomong yang tidak-tidak sama Dewi. Karena kau sudah kena pengaruh omongan Nita." Fendy nampak emosi. "Mama tidak ngomong yang tidak-tidak sama Dewi. Dan mama tidak mengaku sebagai istri papa. Percayalah, Pa. Yang mama tanyakan, apakah papa kemarin datang menemui Dewi. Dewi bilang, memang kemarin papa ke sana cuma sebentar. Lalu papa pergi ke Puncak bersama teman." "Mama belum tahu siapa sebenarnya Dewi. Hidupnya terombang-ambing tidak menentu. Aku kasihan padanya," ujar Fendy sembari menarik napas panjang. "Maka untuk itu, janganlah mama menambah beban penderitaannya dengan menaruh prasangka yang tidak-tidak." "Pernahkah mama melarang papa bergaul intim dengan perempuan manapun? Tidak pernahkan, Pa?Berarti mama tidak punya prasangka yang tidak-tidak terhadap papa ataupun perempuan lainnya. Apalagi terhadap Dewi yang mama terkesan akan sikapnya. Ramah dan mengajak persaudaraan. Padahal mama baru ketemu sekali itu." Wajah Fendy yang dingin dan tak acuh berubah cerah. Lalu dia memandang wajah istrinya. Sungguh tak patut memperlakukan istrinya dengan sikap dingin dan tak acuh. Kemudian dia bangun dan merengkuh bahu Yeti. Yeti menyandarkan kepalanya di d**a suaminya. "Maafkan papa, Ma. Papa mudah terpancing emosi." kata Fendy sembari membelai rambut istrinya. Ucapan dan belaian tangannya membuat perempuan itu terenyuh. Setetes air mata jatuh perlahan di pipi perempuan itu. "Kalau memang papa menaruh hati pada Dewi, mama ikhlas. Nampaknya Dewi bisa di ajak berteman dengan mama." "Ma, jangan berkata begitu dulu. Papa menemui Dewi karena orang tuanya minta tolong agar papa menjenguknya. Apa benar Dewi ada di situ dan bagaimana keadaannya. Ternyata dia baik- baik. Cuma itu, Ma." Sebenarnya perasaan Fendy berontak. Berontak lantaran dia berdusta. Suara sandal menapak. Ria muncul di pintu kamar sembari merengek. "Mama... Ria mau tidur," kata anak itu mendekati ibunya. Mengusap-usap matanya. "Sini, sini mama kelonin," ujar Yeti. Lalu di tidur kan anak itu di atas tempat tidur. Yeti tidur di samping anaknya. Sedang Fendy beranjak pergi dari kamar itu. Di ruang tengah yang hening dan sepi, Fendy menghentakkan pantatnya di kursi. Dia mengedarkan pandang, tak nampak Dino. Anak itu pasti sudah tidur di kamarnya. Pandangan Fendy singgah di gorden jendela. Belum ditutup. Maka dia bangkit dan menghampiri jendela itu. Semua gorden ditutup nya. Pintu rumah dikuncinya rapat-rapat. Lalu dia kembali duduk di tempatnya semula. Mulai mengenang lembaran baru yang dialami bersama Dewi. Dari sejak pertama kenal sampai pertemuannya kemarin dengan perempuan itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN