Di ruang tamu Nita sudah bersiap-siap untuk
pulang. Begitu Fendy muncul, dia langsung
berpamitan dengan Yeti. Yeti mengantar Nita
sampai naik ke dalam mobil. Lalu Fendy menghidup
kan mesin mobil itu dan meluncurkannya pergi.
"Apa maksudmu memberi tahu tempat
tinggal Dewi?" tanya Fendy dingin.
"Karena mbak Yeti mengkhawatirkan
kepergian mas Fendy. Aku kasihan melihat mbak
Yeti yang senantiasa gelisah dan cemas."
"Tapi aku benar-benar tidak suka dengan cara mu yang mau ikut campur urusan rumah
tanggaku."
Fendy meluncurkan mobilnya dengan
kencang. Di setiap tikungan ban mobilnya
berdenyit.Tubuh Nita jadi terombang-ambing,
seperti naik kapal laut yang diterjang ombak besar. Nita pun berpegangan kuat-kuat agar tubuhnya tidak
terombang-ambing. Nita tahu kalau Fendy sedang
melampiaskan kemarahannya.
"Mas Fendy marah ya sama Nita?"
Laki-laki itu tidak menyahut. Malah semakin
menancap gas. Membuat Nita jadi ketakutan.
"Mas Fendy! Mas Fendy!" teriak gadis itu.
"Biarlah Nita turun di sini saja. Mas Fendy tidak usah
mengantar Nita sampai di rumah."
Fendy tetap bungkam. Nita jadi tambah ngeri
naik di dalam mobil yang kecepatannya luar biasa
itu.
"Mas Fendy membenci Nita sekarang ya?"
suara gadis itu gemetar. Wajahnya nampak pucat.
"Seharusnya kau bisa mengerti kehidupan
yang kualami. Dan aku paling benci dengan caramu itu!" kata Fendy sengit.
"Maafkanlah Nita, Mas. Nita tak ingin di
dalam hubungan kita akan hadir wanita lain. Wanita
yang merupakan saingan buat Nita."
"Jadi kau bermaksud memonopoli aku?"
"Bukankah selama ini di antara kita telah
terjalin hubungan cinta kasih. Mas?"
"Jalinan hubungan kita hanya saling membutuh kan. Kau jangan salah mengerti, Nita.Begitu juga hubunganku dengan gadis-gadis
lainnya."
Mobil itu membelok di bilangan Kebayoran.
Lalu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup
mewah. Sesaat Nita menatap lelaki yang duduk di
belakang stir itu. Tak ada senyum. Tak ada
keramahan. Yang ada sikap dingin lelaki itu. Tak
acuh. Nita hanya bisa menarik napas berat.
"Kapan mas Fendy punya waktu mengajak
Nita lagi?" tanya Nita dengan suara lunak. Sambil
membuka pintu mobil.
"Kapan-kapan," sahut Fendy tak bersemangat. Malas untuk bertatapan dengan gadis itu.
"Terima kasih ya. Mas. Jangan marah lho,"
Nita melangkah turun dan menghempaskan pintu mobil.
Brengsek! Rutuk Fendy dalam hati. Dia
langsung tancap gas. Mobilnya meluncur bagai anak panah lepas dari busurnya. Sungguh tak diduga kalau gadis itu sampai mengadu kepada istrinya.
Sampai bisa mempengaruhi Yeti yang selama
menjadi istrinya tak pernah mencari ke manapun
dia pergi.
Kalau akan terjadi begini, untuk apa mengajak nya pergi mencari tempat tinggal Dewi.
Nita adik kandung istrinya ini yang selalu dianggap bagai seorang sahabat, seorang
teman yang setia dan selingkuhannya ternyata mengkhianatinya.
Fendy
jadi timbul rasa tidak menyukai gadis itu.
Mendongkol hatinya.
Dan rasa mendongkol itu masih dibawa
sampai di rumah. Semacam gumpalan duri yang
mengganjal ditekuk hatinya. Sehingga tatapan
matanya begitu dingin.
Namun Yeti menyambutnya
dengan senyuman. Perempuan itu mengikuti
suaminya masuk ke dalam kamar.
Fendy melempar kunci kontak mobil ke meja.
Lalu dia merebahkan diri di atas tempat tidur. Yeti
duduk di pinggir tempat tidur sambil mengamati
wajah suaminya. Yang diamati menatap langit-langit kamar. Tak acuh. Kendati perempuan itu
tetap nampak tenang. Sabar. Setia menunggu
senyuman dari suaminya.
"Mama minta papa jangan salah mengerti.Mama tidak punya maksud membikin malu papa di
hadapan Dewi," kata Yeti lunak. Hati-hati sekali agar
jangan sampai suaminya tersinggung.
"Aah, kau pasti sudah ngomong yang tidak-tidak sama Dewi. Karena kau sudah kena pengaruh
omongan Nita." Fendy nampak emosi.
"Mama tidak ngomong yang tidak-tidak sama
Dewi. Dan mama tidak mengaku sebagai istri papa.
Percayalah, Pa. Yang mama tanyakan, apakah papa
kemarin datang menemui Dewi. Dewi bilang,
memang kemarin papa ke sana cuma sebentar. Lalu
papa pergi ke Puncak bersama teman."
"Mama belum tahu siapa sebenarnya Dewi.
Hidupnya terombang-ambing tidak menentu. Aku
kasihan padanya," ujar Fendy sembari menarik
napas panjang.
"Maka untuk itu, janganlah mama
menambah beban penderitaannya dengan
menaruh prasangka yang tidak-tidak."
"Pernahkah mama melarang papa bergaul
intim dengan perempuan manapun? Tidak pernahkan, Pa?Berarti mama tidak punya prasangka yang tidak-tidak terhadap papa ataupun perempuan lainnya. Apalagi terhadap Dewi yang
mama terkesan akan sikapnya. Ramah dan
mengajak persaudaraan. Padahal mama baru
ketemu sekali itu."
Wajah Fendy yang dingin dan tak acuh
berubah cerah. Lalu dia memandang wajah istrinya.
Sungguh tak patut memperlakukan istrinya dengan
sikap dingin dan tak acuh. Kemudian dia bangun
dan merengkuh bahu Yeti. Yeti menyandarkan
kepalanya di d**a suaminya.
"Maafkan papa, Ma. Papa mudah terpancing
emosi." kata Fendy sembari membelai rambut
istrinya.
Ucapan dan belaian tangannya membuat
perempuan itu terenyuh. Setetes air mata jatuh
perlahan di pipi perempuan itu.
"Kalau memang papa menaruh hati pada
Dewi, mama ikhlas. Nampaknya Dewi bisa di ajak
berteman dengan mama."
"Ma, jangan berkata begitu dulu. Papa
menemui Dewi karena orang tuanya minta tolong
agar papa menjenguknya. Apa benar Dewi ada di
situ dan bagaimana keadaannya. Ternyata dia baik- baik. Cuma itu, Ma."
Sebenarnya perasaan Fendy
berontak. Berontak lantaran dia berdusta.
Suara sandal menapak. Ria muncul di pintu
kamar sembari merengek.
"Mama... Ria mau tidur," kata anak itu
mendekati ibunya. Mengusap-usap matanya.
"Sini, sini mama kelonin," ujar Yeti. Lalu
di tidur kan anak itu di atas tempat tidur.
Yeti tidur di samping anaknya. Sedang Fendy
beranjak pergi dari kamar itu.
Di ruang tengah yang hening dan sepi, Fendy
menghentakkan pantatnya di kursi. Dia
mengedarkan pandang, tak nampak Dino. Anak itu
pasti sudah tidur di kamarnya.
Pandangan Fendy
singgah di gorden jendela. Belum ditutup.
Maka dia bangkit dan menghampiri jendela
itu. Semua gorden ditutup nya. Pintu rumah
dikuncinya rapat-rapat. Lalu dia kembali duduk di
tempatnya semula.
Mulai mengenang lembaran
baru yang dialami bersama Dewi. Dari sejak
pertama kenal sampai pertemuannya kemarin
dengan perempuan itu