"Papa mana, Ma?" tanya Dino.
"Papa tidak ada. Menurut tante Dewi,
papamu pergi ke Puncak."
Kedua anak itu jadi kecewa. Namun rasa
kecewa itu segera sirna ketika melihat di depan
rumah nampak ada mobil ayahnya.
"Itu mobil papa, Ma."
"Ya. Berarti papamu sudah pulang."
Taxi itu berhenti di depan pagar halaman
rumah. Bergegas Yeti turun. Disusul kedua anaknya yang sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan
ayahnya.
Kedua anak kecil itu terlebih dulu berlari
masuk ke dalam rumah. Yeti membayar ongkos
taxi. Nita ikut turun dari taxi itu. Lalu keduanya
berjalan masuk ke dalam rumah.
"Duduklah dulu, Nita." Yeti meneruskan langkahnya menuju ke kamar tidur.
Fendy nampak sedang bergurau dengan Dino
dan Ria di atas tempat tidur. Yeti menghampiri suaminya dan duduk di pinggir tempat tidur
sembari senyum-senyum.
"Ada tamu dari Surabaya mencarimu. Mas."
Fendy jadi terperangah mendengar ucapan
Yeti. Senda gurau dengan kedua anaknya langsung
terhenti.
"Siapa? Siapa tamu itu?" tanya Fendy dengan
gugup. Dia bergegas bangun dari tempat tidur.
"Lihatlah sendiri di ruang tamu." Yeti
senyum- senyum menggoda.
Dengan tergesa Fendy menuju ke ruang
tamu. Diikuti Yeti dan kedua anaknya. Jantungnya
berdebar-debar lantaran punya dugaan yang
datang adalah Dewi.
Namun begitu dilihatnya yang
duduk di kursi tamu adalah Nita, debaran
jantungnya jadi reda. Malah dia kelihatan lesu.
Tumbuh perasaan curiga terhadap Nita. Fendy lalu
duduk di kursi. Yeti ikut duduk di sebelahnya.
"Kalian barusan dari mana heh?" tanya Fendy
dengan nada curiga.
"Mencari mas Fendy," sahut Yeti. Nita
mengisap rokoknya dengan tenang.
"Mencariku ke mana?"
"Ya tentunya ke rumah kenalan mas Fendy."
"Siapa? Siapa?" desak Fendy dengan mata
blingsatan.
Kalau sampai Yeti mencarinya ke rumah
Dewi, celaka! Bakal ketahuan.
"Orangnya cantik sekali. Mas Fendy merasa
punya kenalan seorang perempuan yang wajahnya
mirip Meriam Bellina tidak?"
"Iya, tapi siapa namanya?"
Yeti tersenyum. Nita dan Yeti saling bertukar
senyum menggoda Fendy. Menyebabkan Fendy jadi
tambah curiga dan penasaran.
"Tinggalnya di Utan Kayu. Dia belum lama
datang dari Surabaya."
Fendy termangu. Tak salah lagi yang
dimaksud Yeti adalah Dewi.
Sialan! Pasti Nita yang memberi tahu tempat tinggalnya Dewi. Dan dari mana Yeti bisa tahu kalau bukan Nita yang memberi
tahu.
"Kau barusan menemui Dewi?" tanya Fendy
dengan raut wajah tak senang.
"Ya."
"Apa katanya?"
"Dia bilang mas Fendy kemarin sore datang
menjenguknya sebentar. Lalu pergi ke Puncak
bersama temannya. Dia tak bisa menuruti ajakan
mas Fendy ke Puncak karena ada keperluan lain.Cuma itu yang dikatakan."
Fendy menghela napas lega. Untung dia
sudah keburu pulang setelah mengantar Dewi
sampai di rumahnya. Kalau tidak pasti akan
ketahuan belangnya. Dan ternyata Dewi pintar
memberi alasan yang tepat.
"Untuk apa kau ke sana?"
"Mencari mas Fendy. Aku khawatir karena
sewaktu kau pergi dalam keadaan tubuh yang
kurang sehat. Takut kalau sampai terjadi apa- apa
pada dirimu."
"Ah!" desah Fendy merasa tak senang. Lalu
dia meninggalkan tempat duduknya dengan
perasaan kesal. Yeti jadi bingung.
"Sebaiknya aku pulang saja, Mbak."
"Tunggu sebentar Nita. Biar nanti mas Fendy
yang mengantarmu pulang."
"Tidak usah merepotkan mas Fendy, Mbak."
"Tak apa-apa, tenang saja. Tunggu sebentar
ya?" Yeti berjalan masuk ke kamar. Dijumpai
suaminya yang berbaring di atas tempat tidur.
"Pa, papa marah ya sama mama?" tanya Yeti
lunak.
Fendy melirik istrinya yang duduk di sisinya.
Sorot matanya menyimpan rasa kesal.
"Sejak mulai kapan mama berani kelayapan
mencari papa?" sahut Fendy yang nadanya
mencemooh. Tak senang dengan apa yang
dilakukan istrinya.
"Mama sampai mencari papa karena resah
dan cemas. Kemarin sore papa pergi dalam keadaan
sakit. Mama khawatir kalau sampai terjadi apa-apa
pada diri papa," kata Yeti lembut sembari
mengusap-usap lengan suaminya.
"Apa bukan karena dipengaruhi Nita?"
Yeti menggeleng. Sepasang matanya yang
bening merupakan pancaran beningnya hati
perempuan itu. Kelembutannya adalah belaian
kasih sayang seorang istri yang berhati mulia dan
sabar.
"Pa, antarkan dulu Nita pulang. Mau kan?"
"Suruh saja dia pulang sendiri. Kenapa musti
diantar?"
"Jangan begitu, Pa. Tolonglah antarkan dia
pulang."
Fendy mendesah kesal. Namun dengan rasa berat hati dan bermalas-malasan, terpaksa Fendy
menuruti permintaan istrinya. Dia beranjak turun
dari tempat tidur. Lalu mengambil kunci kontak
mobil di atas meja.
"Papa pergi dulu," pamit Fendy dengan muka
cemberut.
"Hati-hati ya, Pa."
Fendy berjalan ke luar dari kamar dan diikuti
istrinya. Di ruang tengah Dino dan Ria sedang
menyaksikan acara televisi.
"Papa mau ke mana lagi?" tegur Dino.
"Mau mengantar tante Nita pulang," sahut Yeti.
"Lama nggak?"
"Sebentar."