Kepulangan Fendy

708 Kata
"Papa mana, Ma?" tanya Dino. "Papa tidak ada. Menurut tante Dewi, papamu pergi ke Puncak." Kedua anak itu jadi kecewa. Namun rasa kecewa itu segera sirna ketika melihat di depan rumah nampak ada mobil ayahnya. "Itu mobil papa, Ma." "Ya. Berarti papamu sudah pulang." Taxi itu berhenti di depan pagar halaman rumah. Bergegas Yeti turun. Disusul kedua anaknya yang sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan ayahnya. Kedua anak kecil itu terlebih dulu berlari masuk ke dalam rumah. Yeti membayar ongkos taxi. Nita ikut turun dari taxi itu. Lalu keduanya berjalan masuk ke dalam rumah. "Duduklah dulu, Nita." Yeti meneruskan langkahnya menuju ke kamar tidur. Fendy nampak sedang bergurau dengan Dino dan Ria di atas tempat tidur. Yeti menghampiri suaminya dan duduk di pinggir tempat tidur sembari senyum-senyum. "Ada tamu dari Surabaya mencarimu. Mas." Fendy jadi terperangah mendengar ucapan Yeti. Senda gurau dengan kedua anaknya langsung terhenti. "Siapa? Siapa tamu itu?" tanya Fendy dengan gugup. Dia bergegas bangun dari tempat tidur. "Lihatlah sendiri di ruang tamu." Yeti senyum- senyum menggoda. Dengan tergesa Fendy menuju ke ruang tamu. Diikuti Yeti dan kedua anaknya. Jantungnya berdebar-debar lantaran punya dugaan yang datang adalah Dewi. Namun begitu dilihatnya yang duduk di kursi tamu adalah Nita, debaran jantungnya jadi reda. Malah dia kelihatan lesu. Tumbuh perasaan curiga terhadap Nita. Fendy lalu duduk di kursi. Yeti ikut duduk di sebelahnya. "Kalian barusan dari mana heh?" tanya Fendy dengan nada curiga. "Mencari mas Fendy," sahut Yeti. Nita mengisap rokoknya dengan tenang. "Mencariku ke mana?" "Ya tentunya ke rumah kenalan mas Fendy." "Siapa? Siapa?" desak Fendy dengan mata blingsatan. Kalau sampai Yeti mencarinya ke rumah Dewi, celaka! Bakal ketahuan. "Orangnya cantik sekali. Mas Fendy merasa punya kenalan seorang perempuan yang wajahnya mirip Meriam Bellina tidak?" "Iya, tapi siapa namanya?" Yeti tersenyum. Nita dan Yeti saling bertukar senyum menggoda Fendy. Menyebabkan Fendy jadi tambah curiga dan penasaran. "Tinggalnya di Utan Kayu. Dia belum lama datang dari Surabaya." Fendy termangu. Tak salah lagi yang dimaksud Yeti adalah Dewi. Sialan! Pasti Nita yang memberi tahu tempat tinggalnya Dewi. Dan dari mana Yeti bisa tahu kalau bukan Nita yang memberi tahu. "Kau barusan menemui Dewi?" tanya Fendy dengan raut wajah tak senang. "Ya." "Apa katanya?" "Dia bilang mas Fendy kemarin sore datang menjenguknya sebentar. Lalu pergi ke Puncak bersama temannya. Dia tak bisa menuruti ajakan mas Fendy ke Puncak karena ada keperluan lain.Cuma itu yang dikatakan." Fendy menghela napas lega. Untung dia sudah keburu pulang setelah mengantar Dewi sampai di rumahnya. Kalau tidak pasti akan ketahuan belangnya. Dan ternyata Dewi pintar memberi alasan yang tepat. "Untuk apa kau ke sana?" "Mencari mas Fendy. Aku khawatir karena sewaktu kau pergi dalam keadaan tubuh yang kurang sehat. Takut kalau sampai terjadi apa- apa pada dirimu." "Ah!" desah Fendy merasa tak senang. Lalu dia meninggalkan tempat duduknya dengan perasaan kesal. Yeti jadi bingung. "Sebaiknya aku pulang saja, Mbak." "Tunggu sebentar Nita. Biar nanti mas Fendy yang mengantarmu pulang." "Tidak usah merepotkan mas Fendy, Mbak." "Tak apa-apa, tenang saja. Tunggu sebentar ya?" Yeti berjalan masuk ke kamar. Dijumpai suaminya yang berbaring di atas tempat tidur. "Pa, papa marah ya sama mama?" tanya Yeti lunak. Fendy melirik istrinya yang duduk di sisinya. Sorot matanya menyimpan rasa kesal. "Sejak mulai kapan mama berani kelayapan mencari papa?" sahut Fendy yang nadanya mencemooh. Tak senang dengan apa yang dilakukan istrinya. "Mama sampai mencari papa karena resah dan cemas. Kemarin sore papa pergi dalam keadaan sakit. Mama khawatir kalau sampai terjadi apa-apa pada diri papa," kata Yeti lembut sembari mengusap-usap lengan suaminya. "Apa bukan karena dipengaruhi Nita?" Yeti menggeleng. Sepasang matanya yang bening merupakan pancaran beningnya hati perempuan itu. Kelembutannya adalah belaian kasih sayang seorang istri yang berhati mulia dan sabar. "Pa, antarkan dulu Nita pulang. Mau kan?" "Suruh saja dia pulang sendiri. Kenapa musti diantar?" "Jangan begitu, Pa. Tolonglah antarkan dia pulang." Fendy mendesah kesal. Namun dengan rasa berat hati dan bermalas-malasan, terpaksa Fendy menuruti permintaan istrinya. Dia beranjak turun dari tempat tidur. Lalu mengambil kunci kontak mobil di atas meja. "Papa pergi dulu," pamit Fendy dengan muka cemberut. "Hati-hati ya, Pa." Fendy berjalan ke luar dari kamar dan diikuti istrinya. Di ruang tengah Dino dan Ria sedang menyaksikan acara televisi. "Papa mau ke mana lagi?" tegur Dino. "Mau mengantar tante Nita pulang," sahut Yeti. "Lama nggak?" "Sebentar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN