"Dino dan Ria ikut mama yuk," ajak Yeti.
"Aku rasa tidak usah mengajak Dino dan Ria. Nanti Mbak bisa ketahuan istri mas Fendy."
"Ah," desah Yeti.
"Biar Dino dan Ria menunggu di mobil bersamaku."
Yeti menghempaskan pintu mobil. Dia mengayunkan langkah dengan gejolak perasaan tak
menentu.
Antara rasa ragu-ragu dan takut. Antara
rasa malu dan bingung. Lantaran apa yang akan
dilakukan ini untuk yang pertama kalinya. Dan
selama menjadi istri Fendy, selalu menjaga agar
suaminya tidak sampai malu di hadapan teman
temannya. Sampai dicari istrinya lantaran tidak
pulang, walau sebenarnya dia punya hak untuk mencari suaminya. Namun di hati kecilnya merasa
begitu berat.
Sepasang kaki Yeti jadi gemetar ketika sampai di depan pintu rumah itu. Kalau saja bukan karena
rasa khawatir akan keselamatan suaminya, tak
mungkin dia mau datang ke rumah itu. Mencari
suaminya. Suaminya yang sewaktu berangkat dari
rumah dalam keadaan sakit. Darah tingginya sedang
kumat.
"Permisi," suara Yeti gemetar.
Dia mengetuk
rumah yang terbuka lebar. Lalu diamatinya kamar-
kamar yang berderet menyerupai losmen saling
berhadapan.
Seorang perempuan muda melongok ke luar
dari kamarnya.
"Selamat malam," sapa Yeti.
"Malam," sahut perempuan itu yang
kemudian menghampiri tamunya.
"Saya ingin ketemu dengan adik yang dari
Surabaya," kata Yeti dengan suara gemetar.
Sepasang kakinya juga gemetar.
"Sayalah orangnya. Anda siapa?"
"Sa... saya adiknya mas Fendy," ucap Yeti tergagap.
Perempuan muda itu berubah ramah sekali.
Lalu memegangi lengan Yeti dan mengajaknya
duduk di kursi tamu.
"Duduklah dulu. Kenalkan namaku Dewi."
kata Dewi mengajak tamunya saling berkenalan.
"Yeti." Mereka bersalaman.
Yeti sesaat memperhatikan perempuan yang
duduk di depannya. O, ini yang namanya Dewi.
Orangnya memang cantik dan ramah.
Punya mata
sayu dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya
mancung seperti hidung yang dimiliki bintang film
Olivia Husay. Lebih mancung bila dibandingkan
dengan hidung Yeti. Bibirnya bagian atas sedikit
tipis dan yang bagian bawah sedikit Tebal.Tapi
serasi dengan bentuk dagunya yang lonjong. Kalau
diperhatikan mirip sekali dengan perempuan barat.
Sepintas mirip dengan Meriam Bellina.
Pokoknya
perempuan itu penuh daya pikat, meskipun pada
malam itu dia tidak berdandan. Rambutnya yang
berombak dikuncir pakai gelang karet. Pakaian yang
dikenakan warnanya sudah agak buram. Kelihatan
lelah sekali.
"Maaf kalau saya mengganggu Dewi," kata
Yeti dengan suara tetap gemetar. Seolah-olah dia
sedang menghadapi monster yang menakutkan.
Sedangkan yang dihadapi selalu tersenyum ramah.
Mengajak bersahabat.
"Ah tidak. Saya sedang tidak ada kesibukan
apa- apa kok."
"Begini," suara Yeti serak. "Apakah Dewi
kenal dengan mas Fendy?"
"Kenal. Saya kenal dengan mas Fendy ketika
shooting film di rumah saya. Memangnya kenapa?"
"Sejak kemarin sore mas Fendy belum
pulang. Sewaktu berangkat dia dalam keadaan
sakit. Apakah mas Fendy kemarin sempat main ke
mari?"
"Kemarin sore mas Fendy memang datang
kemari. Tapi cuma sebentar kok. Dia malah mau
mengajak Dewi ke Puncak, tapi Dewi tak bisa ikut
karena ada urusan lain."
Yeti menarik napas panjang. Dari kamar seberang yang ditempati Dewi bermunculan dua
orang perempuan. Dandanannya begitu menyolok.
Kedua perempuan itu melempar senyum sapa dan
Yeti membalasnya. Lalu kedua perempuan itu saling
berbisik. Kemudian kembali masuk ke kamarnya.
"Cuma itu yang ingin saya tanyakan. Tak lain
karena merasa khawatir kalau sampai terjadi apa-
apa pada diri mas Fendy."
"Saya tahu. Sewaktu mas Fendy shooting film
di rumah saya juga sering kumat penyakitnya.
Malah kedua orang tua saya ikut membantu
membuatkan ramuan daun seledri untuk di minumnya. Kalau kumat kasihan sekali melihatnya."
"Ah, jadi ikut merepotkan orang tua Dewi."
"Biasa kan? Dalam hidup ini saling tolong
menolong."
"Kalau begitu saya permisi Dewi."
"Kok buru-buru, kita ngobrol dulu. Lusa Dewi
akan pulang ke Surabaya, jadi kapan lagi kita punya
kesempatan untuk ngobrol?"
"Ayo, main saja ke rumah," ajak Yeti.
"Lain waktu saja Dewi main ke sana. Mas
Fendy sudah memberi alamatnya kok. Lagi pula mas
Fendy 'kan tidak ada di rumah."
"Sungguh ya, lain waktu main ke sana." Yeti
bangun dari tempat duduknya. Dewi juga demikian.
Lalu keduanya berjalan ke pintu rumah.
"Apa benar mas Fendy sudah punya anak
dua?" tanya Dewi.
"Benar. Dia orangnya jujur dan terus terang."
"Tadi ke mari naik apa?"
"Taxi."
Mereka berjalan sampai di pintu pagar
halaman.
"Sendirian?"
"Tidak. Sama teman. Itu taxinya menunggu di
sana. Yuk, Dewi."
"Mari, mari.Salam ya sama istrinya mas Fendy."
Yeti mengayunkan langkahnya menghampiri
taxi yang sejak tadi menunggu. Perasaannya jadi lega karena apa yang diduga semula, ternyata meleset.
Dewi tidak menampakkan adanya tanda-tanda menaruh hati kepada mas Fendy. Apalagi sampai pergi berdua dengan suaminya. Bahkan
ajakan suaminya ditolak. Kalau memang Dewi
sehati dengan suaminya, tentu ajakan ke Puncak tak
akan ditolaknya.
Jadi sangat tak patut kalau Yeti
menaruh perasaan cemburu pada perempuan itu.
Yeti membuka pintu mobil dan duduk di
sebelah Nita. Lalu dihempaskan pintu mobil itu. Taxi
itu meluncur.
"Ketemu dengan Dewi?" tanya Nita.
Yeti mengangguk.
"Bagaimana orangnya?"
"Cantik sekali. Ramah lagi."
"Pantas saja kalau mas Fendy jatuh cinta."
"Dia tadi bilang selama mas Fendy shooting di
Surabaya sering kumat penyakitnya. Dan orang
tuanya membantu membuatkan ramuan daun
seledri untuk diminum mas Fendy."
"Itu memang satu cara untuk mengambil hati
mas Fendy."
"Ah, biarkan saja. Nampaknya Dewi orang
baik-baik kok."