Keramahan Dewi

825 Kata
"Dino dan Ria ikut mama yuk," ajak Yeti. "Aku rasa tidak usah mengajak Dino dan Ria. Nanti Mbak bisa ketahuan istri mas Fendy." "Ah," desah Yeti. "Biar Dino dan Ria menunggu di mobil bersamaku." Yeti menghempaskan pintu mobil. Dia mengayunkan langkah dengan gejolak perasaan tak menentu. Antara rasa ragu-ragu dan takut. Antara rasa malu dan bingung. Lantaran apa yang akan dilakukan ini untuk yang pertama kalinya. Dan selama menjadi istri Fendy, selalu menjaga agar suaminya tidak sampai malu di hadapan teman temannya. Sampai dicari istrinya lantaran tidak pulang, walau sebenarnya dia punya hak untuk mencari suaminya. Namun di hati kecilnya merasa begitu berat. Sepasang kaki Yeti jadi gemetar ketika sampai di depan pintu rumah itu. Kalau saja bukan karena rasa khawatir akan keselamatan suaminya, tak mungkin dia mau datang ke rumah itu. Mencari suaminya. Suaminya yang sewaktu berangkat dari rumah dalam keadaan sakit. Darah tingginya sedang kumat. "Permisi," suara Yeti gemetar. Dia mengetuk rumah yang terbuka lebar. Lalu diamatinya kamar- kamar yang berderet menyerupai losmen saling berhadapan. Seorang perempuan muda melongok ke luar dari kamarnya. "Selamat malam," sapa Yeti. "Malam," sahut perempuan itu yang kemudian menghampiri tamunya. "Saya ingin ketemu dengan adik yang dari Surabaya," kata Yeti dengan suara gemetar. Sepasang kakinya juga gemetar. "Sayalah orangnya. Anda siapa?" "Sa... saya adiknya mas Fendy," ucap Yeti tergagap. Perempuan muda itu berubah ramah sekali. Lalu memegangi lengan Yeti dan mengajaknya duduk di kursi tamu. "Duduklah dulu. Kenalkan namaku Dewi." kata Dewi mengajak tamunya saling berkenalan. "Yeti." Mereka bersalaman. Yeti sesaat memperhatikan perempuan yang duduk di depannya. O, ini yang namanya Dewi. Orangnya memang cantik dan ramah. Punya mata sayu dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung seperti hidung yang dimiliki bintang film Olivia Husay. Lebih mancung bila dibandingkan dengan hidung Yeti. Bibirnya bagian atas sedikit tipis dan yang bagian bawah sedikit Tebal.Tapi serasi dengan bentuk dagunya yang lonjong. Kalau diperhatikan mirip sekali dengan perempuan barat. Sepintas mirip dengan Meriam Bellina. Pokoknya perempuan itu penuh daya pikat, meskipun pada malam itu dia tidak berdandan. Rambutnya yang berombak dikuncir pakai gelang karet. Pakaian yang dikenakan warnanya sudah agak buram. Kelihatan lelah sekali. "Maaf kalau saya mengganggu Dewi," kata Yeti dengan suara tetap gemetar. Seolah-olah dia sedang menghadapi monster yang menakutkan. Sedangkan yang dihadapi selalu tersenyum ramah. Mengajak bersahabat. "Ah tidak. Saya sedang tidak ada kesibukan apa- apa kok." "Begini," suara Yeti serak. "Apakah Dewi kenal dengan mas Fendy?" "Kenal. Saya kenal dengan mas Fendy ketika shooting film di rumah saya. Memangnya kenapa?" "Sejak kemarin sore mas Fendy belum pulang. Sewaktu berangkat dia dalam keadaan sakit. Apakah mas Fendy kemarin sempat main ke mari?" "Kemarin sore mas Fendy memang datang kemari. Tapi cuma sebentar kok. Dia malah mau mengajak Dewi ke Puncak, tapi Dewi tak bisa ikut karena ada urusan lain." Yeti menarik napas panjang. Dari kamar seberang yang ditempati Dewi bermunculan dua orang perempuan. Dandanannya begitu menyolok. Kedua perempuan itu melempar senyum sapa dan Yeti membalasnya. Lalu kedua perempuan itu saling berbisik. Kemudian kembali masuk ke kamarnya. "Cuma itu yang ingin saya tanyakan. Tak lain karena merasa khawatir kalau sampai terjadi apa- apa pada diri mas Fendy." "Saya tahu. Sewaktu mas Fendy shooting film di rumah saya juga sering kumat penyakitnya. Malah kedua orang tua saya ikut membantu membuatkan ramuan daun seledri untuk di minumnya. Kalau kumat kasihan sekali melihatnya." "Ah, jadi ikut merepotkan orang tua Dewi." "Biasa kan? Dalam hidup ini saling tolong menolong." "Kalau begitu saya permisi Dewi." "Kok buru-buru, kita ngobrol dulu. Lusa Dewi akan pulang ke Surabaya, jadi kapan lagi kita punya kesempatan untuk ngobrol?" "Ayo, main saja ke rumah," ajak Yeti. "Lain waktu saja Dewi main ke sana. Mas Fendy sudah memberi alamatnya kok. Lagi pula mas Fendy 'kan tidak ada di rumah." "Sungguh ya, lain waktu main ke sana." Yeti bangun dari tempat duduknya. Dewi juga demikian. Lalu keduanya berjalan ke pintu rumah. "Apa benar mas Fendy sudah punya anak dua?" tanya Dewi. "Benar. Dia orangnya jujur dan terus terang." "Tadi ke mari naik apa?" "Taxi." Mereka berjalan sampai di pintu pagar halaman. "Sendirian?" "Tidak. Sama teman. Itu taxinya menunggu di sana. Yuk, Dewi." "Mari, mari.Salam ya sama istrinya mas Fendy." Yeti mengayunkan langkahnya menghampiri taxi yang sejak tadi menunggu. Perasaannya jadi lega karena apa yang diduga semula, ternyata meleset. Dewi tidak menampakkan adanya tanda-tanda menaruh hati kepada mas Fendy. Apalagi sampai pergi berdua dengan suaminya. Bahkan ajakan suaminya ditolak. Kalau memang Dewi sehati dengan suaminya, tentu ajakan ke Puncak tak akan ditolaknya. Jadi sangat tak patut kalau Yeti menaruh perasaan cemburu pada perempuan itu. Yeti membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Nita. Lalu dihempaskan pintu mobil itu. Taxi itu meluncur. "Ketemu dengan Dewi?" tanya Nita. Yeti mengangguk. "Bagaimana orangnya?" "Cantik sekali. Ramah lagi." "Pantas saja kalau mas Fendy jatuh cinta." "Dia tadi bilang selama mas Fendy shooting di Surabaya sering kumat penyakitnya. Dan orang tuanya membantu membuatkan ramuan daun seledri untuk diminum mas Fendy." "Itu memang satu cara untuk mengambil hati mas Fendy." "Ah, biarkan saja. Nampaknya Dewi orang baik-baik kok."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN