Dino dan Ria berhambur ke
arahnya sambil berjingkrak-jingkrak.
"Mama pulang. Mama pulang." teriak kedua
anak itu. Keduanya bergayut di lengan Yeti.
Mengikuti langkah mamanya masuk ke dalam
rumah.
Di kursi panjang Yeti menghenyakkan
pantatnya. Kedua anaknya duduk di sisi kiri dan
kanan. Perempuan itu nampak termenung.
"Kok papa belum pulang ya, Ma?" kata Dino.
"Ke mana sih?"
"Papamu sedang ada urusan ke luar kota,"
kata Yeti dengan perasaan resah.
"Baru dua hari papa pulang dari Surabaya
sudah pergi ke luar kota," keluh Dino kesal. Anak itu seperti tahu apa yang sedang dirasakan oleh
mamanya. Dino memang cerdik. Seringkali
memprotes papanya kalau tidak pulang.
Yeti berusaha tersenyum. Padahal hatinya
perih.
"Papa banyak urusan, sayang." Yeti
membelai rambut Dino penuh kasih sayang.
"Yuk,
sekarang kita tidur."
Yeti berdiri dan menggandeng kedua
anaknya masuk ke dalam kamar. Dino dan Ria selalu
menurut perintah mamanya. Kebiasaan yang
diajarkan oleh Yeti setiap siang kedua anaknya
harus tidur.Dan apa pun yang dilakukan ayahnya di
luar rumah, kedua anaknya itu tidak boleh tahu.
Angin yang berhembus semilir menerobos masuk ke kamar. Melalui jendela yang terpentang.
Yeti membelai rambut kedua anaknya silih
bergantian. Hembusan angin dan belaian itu dapat
menidurkan Dino dan Ria. Setelah kedua anaknya
tertidur nyenyak, Yeti melangkah turun perlahan
dari tempat tidur.
Apakah wajahku sudah tidak menarik lagi?
Pertanyaan itu tercetus dalam hatinya ketika
memperhatikan di pantulan cermin. Dan benarkah
apa yang dikatakan Nita, bahwa mas Fendy
menaruh hati pada Dewi? Kalau memang benar,
pastilah gadis yang bernama Dewi itu
kecantikannya melebihi diriku. Atau lantaran dalam
dua tahun terakhir ini mas Fendy merasa
terombang-ambing oleh kenyataan yang kualami?
Mungkin bisa juga begitu. Jadi patutkah aku
menyalahkan mas Fendy? Tidak. Aku tidak boleh
menyalahkannya. Semua itu lantaran diriku yang
menjadi penyebabnya.
Perih hatinya. Sembilan tahun waktu yang
tidak sedikit membina biduk rumah tangganya.
Dalam cinta dan kasih sayang telah melahirkan dua
orang anak. Dino yang kini berusia delapan tahun
dan Ria genap enam tahun sebulan yang lewat.
Mereka adalah bentuk titisan cinta dan kasih sayang
dari buah perkawinan.
Tapi kenapa? Kenapa di tengah-tengah
perjalanan hidup rumah tangga kami diancam
kehancuran? Aku tak lagi mampu memberikan
kebahagiaan terhadap suamiku? Kenapa? Kenapa?
Oh, Tuhan. Berikanlah ketabahan pada diriku.
Betapa akan datangnya nestapa dan kepahitan
sekalipun, jadikanlah hambamu ini sebagai seorang
istri yang bijaksana. Rela menerima kenyataan yang
memerihkan itu.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi. Lalu
segera diusapnya. Untuk apa menangis? Air mata
tak akan bisa merubah kenyataan. Lebih baik
pasrah. Apa pun yang akan terjadi harus
diterimanya dengan hati rela.
***
Senja perlahan digeser datangnya malam.
Namun Yeti yang sejak sore tadi tidak bergeser dari
tempat duduknya, selesai mandi dan berdandan dia
duduk di kursi tamu. Menunggu Nita datang.
Sementara kedua anaknya sedang bermain di
lantai. Dino bermain mobil-mobilan, Ria bermain
boneka yang bisa berjalan sambil menyanyi.
Mereka nampak gembira. Tidak seperti hati
mamanya yang sedang rusuh, menunggu suaminya
yang belum jua pulang.
"Dino, Ria, kemarilah nak."
Kedua anak itu menghentikan permainannya, lalu menghampiri mamanya.
"Ada apa, Ma?"
"Dino dan Ria ikut mama yuk," ajak Yeti.
"Ke mana, Ma?"
"Ke rumah teman papa."
"Ya, Ma. Kalau nanti Dino ketemu papa, akan Dino seret papa supaya cepat pulang," ancam Dino.
"Jangan begitu. Itu tidak baik," kata Yeti
sembari mengelus-elus rambut Dino.
"Habisnya papa kalau main ke rumah
temannya tidak mau pulang," gerutu Dino yang
nampak kesal.
"Biar nanti Ria mau cubit papa!" celetuk Ria ikut-ikutan kesal.
"Kalian tidak boleh begitu ya? Harus yang
sopan terhadap papa."
"Biarin!"
"Kalau begitu mama tidak mau mengajak kalian."
"Ya deh."
Di luar ada sebuah taxi yang berhenti. Yeti
melongok melalui pintu dan ternyata yang datang
adalah Nita.
"Tante Nita datang, Dino." Dino dan Ria
berlari menyongsong kedatangan Nita. Taxi itu berhenti menunggu di luar pagar halaman rumah.
Lalu Nita bersama Dino dan Ria berjalan menuju ke
teras.
"Mama ada di rumah?" tanya Nita.
"Ada. Ayo masuk tante."
Di ruang tamu Yeti menyambutnya.
"Jadi kita pergi, Mbak?"
Yeti mengangguk.
"Aku ajak Dino dan Ria. Kasihan kalau
ditinggal di rumah," kata Yeti. Lantas dia memanggil
pembantu rumahnya.
Ginah menghampiri dengan terbungkuk- bungkuk.
"Aku dan anak-anak mau pergi. Mbok. Jaga
rumah baik-baik ya?"
"Ya, nyonya."
Dengan taxi mereka menuju ke Utan Kayu.
Dari bergeraknya taxi yang meluncur, rasa bimbang
dan ragu di hati Yeti meroyak lagi. Sebab baru
pertama kali ini dia mencari suaminya yang tidak
pulang semalaman.
Ya, baru pertama kalinya
dilakukan hal itu. Padahal dia sering ditinggal pergi
oleh suaminya berbulan-bulan lamanya, tapi tetap
tenang dan biasa-biasa saja. Bergaul intim dengan
artis- artis cantik tak pernah punya prasangka apa- apa. Karena dia tahu memang itu dunianya.
Namun
yang kali ini, wah, perasaan Yeti digeluti keresahan.
Atau mungkin lantaran dorongan Nita hingga
menyebabkan perasaannya jadi tumbuh
prasangka? Dan sekaligus ingin membuktikan
kebenaran ucapan Nita.
"Kalau sudah sampai di sana apa yang musti
aku lakukan, Nita?"
"Ya tentunya Mbak tanya pada penghuni
rumah itu."
"Apa aku musti bilang istrinya?"
"Sebaiknya jangan. Bilang saja kalau Mbak ini
adiknya mas Fendy. Jadi dengan gampang Mbak
bisa memancing pembicaraannya."
Yeti menarik napas berat. Seberat rasanya
untuk melakukan hal itu.
"Pertama Mbak cari dulu gadis yang berasal
dari Surabaya. Jangan sebut dulu nama Dewi. Sebab
nanti gadis yang Mbak cari bisa saja ganti nama.
Apalagi kalau dia sudah punya dugaan pada mbak
Yeti sebagai istrinya mas Fendy. Wah, bisa berabe
usaha kita."
Yeti menganggukkan kepala berat. Taxi yang
mereka tumpangi berhenti tidak jauh dari rumah
yang dituju. Dengan diliputi perasaan ragu dan
gundah, Yeti turun dari taxi itu.