Utan Kayu

899 Kata
Dino dan Ria berhambur ke arahnya sambil berjingkrak-jingkrak. "Mama pulang. Mama pulang." teriak kedua anak itu. Keduanya bergayut di lengan Yeti. Mengikuti langkah mamanya masuk ke dalam rumah. Di kursi panjang Yeti menghenyakkan pantatnya. Kedua anaknya duduk di sisi kiri dan kanan. Perempuan itu nampak termenung. "Kok papa belum pulang ya, Ma?" kata Dino. "Ke mana sih?" "Papamu sedang ada urusan ke luar kota," kata Yeti dengan perasaan resah. "Baru dua hari papa pulang dari Surabaya sudah pergi ke luar kota," keluh Dino kesal. Anak itu seperti tahu apa yang sedang dirasakan oleh mamanya. Dino memang cerdik. Seringkali memprotes papanya kalau tidak pulang. Yeti berusaha tersenyum. Padahal hatinya perih. "Papa banyak urusan, sayang." Yeti membelai rambut Dino penuh kasih sayang. "Yuk, sekarang kita tidur." Yeti berdiri dan menggandeng kedua anaknya masuk ke dalam kamar. Dino dan Ria selalu menurut perintah mamanya. Kebiasaan yang diajarkan oleh Yeti setiap siang kedua anaknya harus tidur.Dan apa pun yang dilakukan ayahnya di luar rumah, kedua anaknya itu tidak boleh tahu. Angin yang berhembus semilir menerobos masuk ke kamar. Melalui jendela yang terpentang. Yeti membelai rambut kedua anaknya silih bergantian. Hembusan angin dan belaian itu dapat menidurkan Dino dan Ria. Setelah kedua anaknya tertidur nyenyak, Yeti melangkah turun perlahan dari tempat tidur. Apakah wajahku sudah tidak menarik lagi? Pertanyaan itu tercetus dalam hatinya ketika memperhatikan di pantulan cermin. Dan benarkah apa yang dikatakan Nita, bahwa mas Fendy menaruh hati pada Dewi? Kalau memang benar, pastilah gadis yang bernama Dewi itu kecantikannya melebihi diriku. Atau lantaran dalam dua tahun terakhir ini mas Fendy merasa terombang-ambing oleh kenyataan yang kualami? Mungkin bisa juga begitu. Jadi patutkah aku menyalahkan mas Fendy? Tidak. Aku tidak boleh menyalahkannya. Semua itu lantaran diriku yang menjadi penyebabnya. Perih hatinya. Sembilan tahun waktu yang tidak sedikit membina biduk rumah tangganya. Dalam cinta dan kasih sayang telah melahirkan dua orang anak. Dino yang kini berusia delapan tahun dan Ria genap enam tahun sebulan yang lewat. Mereka adalah bentuk titisan cinta dan kasih sayang dari buah perkawinan. Tapi kenapa? Kenapa di tengah-tengah perjalanan hidup rumah tangga kami diancam kehancuran? Aku tak lagi mampu memberikan kebahagiaan terhadap suamiku? Kenapa? Kenapa? Oh, Tuhan. Berikanlah ketabahan pada diriku. Betapa akan datangnya nestapa dan kepahitan sekalipun, jadikanlah hambamu ini sebagai seorang istri yang bijaksana. Rela menerima kenyataan yang memerihkan itu. Setetes air mata jatuh membasahi pipi. Lalu segera diusapnya. Untuk apa menangis? Air mata tak akan bisa merubah kenyataan. Lebih baik pasrah. Apa pun yang akan terjadi harus diterimanya dengan hati rela. *** Senja perlahan digeser datangnya malam. Namun Yeti yang sejak sore tadi tidak bergeser dari tempat duduknya, selesai mandi dan berdandan dia duduk di kursi tamu. Menunggu Nita datang. Sementara kedua anaknya sedang bermain di lantai. Dino bermain mobil-mobilan, Ria bermain boneka yang bisa berjalan sambil menyanyi. Mereka nampak gembira. Tidak seperti hati mamanya yang sedang rusuh, menunggu suaminya yang belum jua pulang. "Dino, Ria, kemarilah nak." Kedua anak itu menghentikan permainannya, lalu menghampiri mamanya. "Ada apa, Ma?" "Dino dan Ria ikut mama yuk," ajak Yeti. "Ke mana, Ma?" "Ke rumah teman papa." "Ya, Ma. Kalau nanti Dino ketemu papa, akan Dino seret papa supaya cepat pulang," ancam Dino. "Jangan begitu. Itu tidak baik," kata Yeti sembari mengelus-elus rambut Dino. "Habisnya papa kalau main ke rumah temannya tidak mau pulang," gerutu Dino yang nampak kesal. "Biar nanti Ria mau cubit papa!" celetuk Ria ikut-ikutan kesal. "Kalian tidak boleh begitu ya? Harus yang sopan terhadap papa." "Biarin!" "Kalau begitu mama tidak mau mengajak kalian." "Ya deh." Di luar ada sebuah taxi yang berhenti. Yeti melongok melalui pintu dan ternyata yang datang adalah Nita. "Tante Nita datang, Dino." Dino dan Ria berlari menyongsong kedatangan Nita. Taxi itu berhenti menunggu di luar pagar halaman rumah. Lalu Nita bersama Dino dan Ria berjalan menuju ke teras. "Mama ada di rumah?" tanya Nita. "Ada. Ayo masuk tante." Di ruang tamu Yeti menyambutnya. "Jadi kita pergi, Mbak?" Yeti mengangguk. "Aku ajak Dino dan Ria. Kasihan kalau ditinggal di rumah," kata Yeti. Lantas dia memanggil pembantu rumahnya. Ginah menghampiri dengan terbungkuk- bungkuk. "Aku dan anak-anak mau pergi. Mbok. Jaga rumah baik-baik ya?" "Ya, nyonya." Dengan taxi mereka menuju ke Utan Kayu. Dari bergeraknya taxi yang meluncur, rasa bimbang dan ragu di hati Yeti meroyak lagi. Sebab baru pertama kali ini dia mencari suaminya yang tidak pulang semalaman. Ya, baru pertama kalinya dilakukan hal itu. Padahal dia sering ditinggal pergi oleh suaminya berbulan-bulan lamanya, tapi tetap tenang dan biasa-biasa saja. Bergaul intim dengan artis- artis cantik tak pernah punya prasangka apa- apa. Karena dia tahu memang itu dunianya. Namun yang kali ini, wah, perasaan Yeti digeluti keresahan. Atau mungkin lantaran dorongan Nita hingga menyebabkan perasaannya jadi tumbuh prasangka? Dan sekaligus ingin membuktikan kebenaran ucapan Nita. "Kalau sudah sampai di sana apa yang musti aku lakukan, Nita?" "Ya tentunya Mbak tanya pada penghuni rumah itu." "Apa aku musti bilang istrinya?" "Sebaiknya jangan. Bilang saja kalau Mbak ini adiknya mas Fendy. Jadi dengan gampang Mbak bisa memancing pembicaraannya." Yeti menarik napas berat. Seberat rasanya untuk melakukan hal itu. "Pertama Mbak cari dulu gadis yang berasal dari Surabaya. Jangan sebut dulu nama Dewi. Sebab nanti gadis yang Mbak cari bisa saja ganti nama. Apalagi kalau dia sudah punya dugaan pada mbak Yeti sebagai istrinya mas Fendy. Wah, bisa berabe usaha kita." Yeti menganggukkan kepala berat. Taxi yang mereka tumpangi berhenti tidak jauh dari rumah yang dituju. Dengan diliputi perasaan ragu dan gundah, Yeti turun dari taxi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN