Dewi bersama Resti turun dari mobil. Seorang laki-laki berambut gondrong melongok keluar dari pintu rumah. Lantas lelaki itu tanpa
keramahan menyambut kedatangan Dewi dan
Resti.
"Mas David, apa kabar?" tegur Dewi.
"Baik. Duduklah," sahut lelaki itu tak acuh.
Dewi dan Resti duduk di kursi rotan. Keadaan
rumah itu masih seperti dulu. Banyak patung-
patung yang beraneka macam. Tempatnya berantakan. Kanvas dan cat berserakan di ruang tamu itu. Ada sebuah lukisan foto perempuan yang nampaknya belum selesai dilukis.
David menyulut sebatang rokok. Lelaki itu
nampaknya enggan bersitatap dengan Dewi. Lebih senang mengamati lukisannya yang belum selesai.
"Mas David tidak senang aku datang ke mari ya?" tanya Dewi sambil memperhatikan lelaki itu
Wajahnya memang ganteng. Karena kegantengan itulah Dewi tertarik pada lelaki itu. Lalu menikah.
"Mau apa kau ke mari? Mau menyakiti perasaanku lagi?"
"Jangan berkata begitu, Mas. Tentunya kau tahu aku ini siapa?"
"Ya aku tahu kau itu siapa. Perempuan yang gila kemewahan dan hanya suka menuruti kemauan
hatimu sendiri." kata lelaki itu seperti menyimpan dendam. Sorot matanya berkilat-kilat.
"Bukan itu yang kumaksudkan. Aku kan masih berstatus istrimu," balas Dewi lunak.
Sebab dia tahu kalau ucapan lelaki itu dibalas dengan keras, maka pertengkaran akan timbul.
"Sejak kau tinggalkan rumah ini, aku sudah tidak menganggapmu sebagai istriku lagi."
Seperti ditampar muka Dewi dengan ucapan
lelaki itu. Sedari pertama dia lunak, tapi sekarang jadi berubah sengit. Emosi kemarahannya meluap.
"Kalau kau tidak lagi menganggapku sebagai
istri, ceraikan aku secara resmi!" kata Dewi lantang.
"Aku datang ke mari memang sengaja berniat minta keputusan perceraian. Aku mau menikah dengan laki-laki lain. Laki-laki yang hidupnya serba kecukupan, tahu?!"
David tersenyum sinis.
"Aku percaya. Percaya kalau kau bisa mendapatkan lelaki yang melebihi hidupku.
Melebihi segala-galanya dariku. Tapi ingat, selama kau belum bisa membuang kebiasaan burukmu, hidup cuma bersenang-senang, membanding-bandingkan lelaki satu dengan lelaki lainnya, hidupmu tidak akan bisa tentram dan bahagia. Karena kau terlalu membanggakan kecantikanmu."
"Sudah, sudah! Jangan ungkit-ungkit masa lalu. Sekarang buatkan surat pernyataan, bahwa kau mau menceraikan aku. Biar nanti urusan
perceraiannya di pengadilan agama Surabaya bisa kuselesaikan sendiri. Karena aku tahu, kau tak mungkin mau pulang ke Surabaya cuma karena urusan begini !"
Resti diam seperti patung. Tak berani ikut campur membuka suara.
"Okey, okey. Kau boleh datang lagi ke mari
seminggu lagi untuk mengambil surat pernyataan itu," kata David sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Sekarang aku mau pergi."
"Ke mana?"
"Ke Jakarta."
David menyambar ranselnya yang sudah dipersiapkan di atas meja. Lalu tali ransel itu digayutkan ke pundaknya. Dewi dan Resti berdiri bersama.
"Dewi juga tinggal di Jakarta sekarang," kata Dewi memberi tahu.
"Aku tidak mau tahu kau tinggal di mana
sekarang."
David melangkah ke pintu. Nampaknya tak ingin lebih lama ngobrol dengan perempuan itu.
Cepat pergi, itu lebih baik. Dari pada rasa sakit
mengoyak dalam hatinya lagi.
Dewi bergegas melangkah ke luar. Betapa kesal dalam hatinya menghadapi sikap David yang
begitu. Sikap yang bagai menghadapi anjing
kurapan. Tanpa permisi lagi, Dewi melangkah ke
mobil diikuti Resti. David buru-buru mengunci pintu rumahnya.
Lelaki itu melangkah pergi tanpa menoleh ke arah Dewi yang duduk di dalam mobil. Mobil itu
meluncur meninggalkan tempat itu.
Seonggok rasa kesal dan jengkel menguasai perasaan Dewi. Belum jua mau hilang ketika sampai di tempat kostnya.
Dan belum lama dia melepaskan lelah di atas
tempat tidur sudah kedatangan tamu. Minah
memberi tahu kalau Fendy datang. Maka dia
menemui lelaki itu di ruang tamu.
Fendy mengamati wajah Dewi yang murung.
Tidak nampak ceria seperti hari-hari yang lalu.
"Kemarin malam aku sudah menerima suratmu," kata Fendy.
Dewi tak bereaksi.
"Apa benar kalau hari ini kau mau pulang ke
Surabaya?"
"Darimana kau tahu?"
"Yeti yang bilang."
"Dia istrimu bukan?"
Fendy mengangguk.
"Semula aku sudah menduga dia adalah istrimu. Tapi dia mengatakan adikmu. Bagaimana dia bisa datang ke mari mencarimu?" kata Dewi memperlihatkan rasa tak senang.
"Waktu pertama aku mencari alamat tempat ini bersama Nita. Rupanya Nita memberi tahu pada
istriku."
"Siapa Nita itu?"
"Adik iparku."
"Adik ipar atau pacarmu?"
"Dua-duanya."
"Dasar kegatelan, adik ipar di cicip juga, huh"
"Ala, sudahlah".
"Lantas bagaimana tanggapan istrimu terhadapku?"
"Biasa-biasa saja. Dia bilang kau orangnya
ramah dan baik."
Dewi tersenyum hambar.
"Dia tidak menaruh prasangka buruk padaku?"
"Tidak. Malah dia ingin ketemu kau."
"Untuk apa?"
"Bicara dari hati ke hati."
"Apa yang mau dibicarakan?"
"Mengenai hubungan kita."
Dahi perempuan itu berkerut. Matanya tersorot penuh tanda tanya.
"Hubungan kita? Mas Fendy sudah menceritakan pada mbak Yeti?"
"Tidak. Aku tidak menceritakan apa-apa padanya. Tapi naluri wanitanya sudah dapat me-
rasakan sesuatu dalam diriku. Aku menaruh hati
padamu."
Perempuan itu menarik napas panjang.
Binar-binar di matanya tersimpan kebimbangan.
Namun terlihat juga keangkuhannya.
"Jangan. Jangan ceritakan apa-apa padanya. Aku tak mau dia tahu hubungan kita selama ini. Dan mungkin untuk seterusnya tak usah diberi tahu."
"Tapi dia menaruh respek terhadap hubungan kita. Dia merelakan aku hidup bersamamu."
Merelakan? Ah, agaknya terlalu aneh kalau seorang istri merelakan suaminya menikah lagi.
Perempuan mana yang bisa begitu? Secuil rasa
berat pasti ada. Suami adalah belahan jiwa.
Mungkinkah serela itu diserahkan pada perempuan lain? pikir Dewi sembari tersenyum hambar.
"Aku tidak sepenuhnya percaya kalau mbak Yeti merelakan mas Fendy hidup bersama denganku," kata Dewi.
"Itu terserah tanggapanmu. Barangkali kalau kau sudah semakin intim bergaul dengan Yeti akan
tahu isi hatinya. Dia seorang istri yang jujur. Apa
yang dikatakan setulus hatinya."
"Aku tidak ingin menghancurkan perasaan mbak Yeti. Karena aku pernah merasakan betapa
sakitnya hati ini, ketika mengetahui suamiku berpacaran dengan perempuan lain. Apalagi sampai mau nikah lagi. Makanya aku kemarin bilang, bahwa hari ini aku akan pulang ke Surabaya. Supaya dia tidak selalu mencurigai aku menjalin hubungan dengan mas Fendy. Aku khawatir setiap kali mas Fendy pergi, dugaan mbak Yeti selalu pergi bersamaku. Aku tidak mau begitu."
Fendy merenungi ucapan perempuan itu. Benar juga. Tapi Yeti selama membina rumah tangga dengannya, perempuan itu memang lain
dibandingkan dengan perempuan manapun. Entah itu lantaran dia tak mampu lagi membahagiakan hidupku atau terlalu percaya padaku? Memang, rasa saling percaya adalah kunci ketentraman hidup berumah tangga. Namun kalau orang yang dipercayai seperti aku dan ternyata mengkhianatinya, mendustainya, apakah hal ini tidak terlalu kejam?
Kejam? Benarkah aku kejam? Dan lelaki
manakah yang hidupnya selalu jujur dan polos
terhadap istrinya? Aku rasa di mana pun lelaki itu sama saja. Mungkin termasuk diriku. Seringkah mendustai istri hanya sekedar mencari kepuasan diri di luar rumah. Itulah yang dinamakan liku-liku laki-laki. Jadi bagaimana dengan pendapat Dewi?
Kurasa itu ada baiknya agar Yeti tidak menilainya sebagai perusak rumah tangga orang lain. Perusak kebahagiaan.
"Kalau hal itu memang kau anggap baik. aku
setuju saja."
"Kurasa itu memang baik. Jika ingin mendapatkan ikan di kolam, jangan dibikin keruh dulu airnya," ujar Dewi sembari tersenyum.
"Aiii, tepat betul istilah itu."
"Setuju?"
"Setuju."
"Nah, sekarang mas Fendy pulanglah kerumah."
Fendy terbengong. "Mengusirku ya?"
"Bukan. Aku khawatir mbak Yeti akan menyusulmu ke mari."
"Ah, itu tidak mungkin."
"Mungkin saja, karena mbak Yeti tahu mas Fendy ada di sini sekarang. Setulus apa yang
diucapkan dengan bibir, hati seorang wanita
sangatlah peka. Jadi aku belum mempercayai
sepenuhnya kerelaan mbak Yeti mengizinkan mas Fendy menempuh hidup bersama denganku. Karena aku juga seorang perempuan. Pernah membina hidup berumah tangga. Pernah
mengalami hal seperti Ini."
Fendy jadi bimbang. Ketegangan dalam diri membuat mukanya berkeringat dingin. Lelaki itu
kalau tegang dan terlalu banyak berpikir pasti
berkeringat. Apalagi kalau sedang dilanda gelisah.
"Dan aku harapkan mas Fendy juga harus bisa
menjaga agar mbak Yeti jangan sampai datang lagi ke mari. Aku malu dengan teman-teman yang tinggal di sini. Apa kata mereka? Pasti akan mengejek dan mencemooh. Seperti waktu mbak Yeti pulang dari sini, aku jadi malu dan korban perasaan."
"Aku tahu, aku tahu."
"Nah, mas Fendy sekarang pulanglah dulu ya?"
Dengan berat hati lelaki itu mengangguk.
"Kapan mas Fendy mau datang ke mari lagi?"
"Besok malam."
Dewi tersenyum. Matanya berseri-seri.
"Jangan bohong ya? Besok malam Dewi mbolos kerja dan kita pergi. Okey?"
Fendy mengangguk. Keduanya lalu berdiri.
Sebelum Fendy berlalu, Dewi sempat mencium
kedua pipi lelaki itu. Perasaan Fendy jadi berbunga.
Maka dia meninggalkan tempat itu dengan
merekuh lagi harapan. Harapan yang diduga akan hancur, ternyata tetap kembali utuh dan berseri.
Dewi masuk ke kamarnya. Resti yang sedang
membaca novel sambil berbaring di atas tempat
tidur menatapnya.
"Mas Fendy sudah pulang?" tanya Resti.
"Ya."
"Kenapa buru-buru."
"Aku yang menyuruhnya pulang. Soalnya sore ini pak Narto mau datang menjemputku. Aku takut kalau bentrok dengan mas Fendy," kata Dewi
sambil tertawa renyah.
"Memangnya ada janji sama pak Narto mau ke mana?"
"Dia mau menjemputku ke tempat les dansa."
"Nanti malam kamu tidak masuk kerja?"
"Masuk dong. Masak mau mbolos terus," kata Dewi sambil berbaring di sisi Resti.
"Kamu sih enak karena banyak tamu yang
menyukaimu di night club. Sampai-sampai seorang bintang film populer mengejarmu. Jatuh cinta padamu."
"Barangkali inilah saatnya aku bisa membalas
sakit hatiku kepada lelaki. Selagi aku dapat
kesempatan akan kukuras habis kantong- kantong mereka," ujar Dewi sambil tertawa.
"Tapi kalau dapat jangan lupa bagi-bagi aku ya?"
Keduanya tertawa gembira.