"Jangan berkata begitu mama." Fendy mendekap erat tubuh istrinya.
Di mata perempuan itu merembes air bening.
Sebening hatinya.
"Habis mama harus berkata apa, Pa? Mama
benar-benar ingin melihat hidup papa bahagia. Bagi mama asalkan papa bisa hidup bahagia, mama turut bahagia juga. Jangan terlalu memikirkan keadaan mama yang begini. Karena mama sendiri tak bersedia menjalani operasi. Mama takut, Pa."
Meledaklah tangis perempuan itu. Fendy membelai rambutnya.
"Papa tahu. Papa tak mau memaksa mama
untuk menjalani operasi. Tapi papa juga tidak mau meninggalkan mama walau dalam keadaan apa pun. Tiada yang dapat memisahkan kita selain Tuhan. Hentikanlah tangismu, sayang."
-----
Cahaya matahari menerangi kamar tidur yang dihuni Dewi dan Resti. Pagi itu, tidak seperti
biasanya Dewi sudah bangun. Semalam pikirannya sangat kalut. Dia tak masuk kerja. Namun di dalam kamar, dia tak dapat tidur sampai Resti dan Tika pulang dari night club.
Di luar kamar, penghuni tempat kost itu mulai
ramai. Ada yang bercanda. Ada yang berjalan
mondar-mandir. Tempat kost itu dihuni berbagai
ragam manusia. Ada karyawati perusahaan,
perawat, capster sampai hostes night club. Tapi
semua penghuni di tempat kost itu perempuan.
Jumlah seluruhnya ada dua puluh orang. Wah kalau semuanya sedang kumpul, ramainya seperti pasar.
Apalagi kalau ada tamu lelaki senantiasa jadi pusat perhatian. Dan untunglah mereka selama ini belum pernah melihat Fendy datang ke situ. Kalau saja mereka tahu, pasti jadi tontonan dan pergunjingan.
Dewi memperhatikan Resti yang masih tertidur nyenyak. Tak sampai hati dia membangunkan perempuan itu. Meskipun semalam Resti bersedia mengantar Dewi pergi ke Krawang pagi ini.
Resti menarik napas panjang. Tubuhnya mengeliat. Maka Dewi segera membangunkan
perempuan itu.
"Resti, Resti, bangun."
"Aaaah," perempuan itu mendesah sambil
melikukkan pinggangnya. Kelopak matanya
terbuka, ia berkata;
"Jam berapa sekarang?"
"Jam delapan. Kau jadi mengantarkan aku tidak?"
Resti mengusap-usap matanya.
"Ya, ya, ya."
"Yuk, kita cepat-cepat mandi. Nanti kita bisa
kesiangan sampai di sana."
Dengan bermalas-malasan Resti bangun. Tubuhnya nampak letih dan lesu lantaran semalam pulang dari bekerja dini hari. Dewi terlebih dulu pergi ke kamar mandi, sedangkan Resti masih duduk bermalas-malasan di pinggir tempat tidur.
Matanya masih kelihatan mengantuk. Waktu
menunggu giliran Dewi selesai mandi, dia kembali berbaring.
"Ayo cepat mandi," kata Dewi ketika masuk ke kamar itu.
Resti bangun. Lalu dia ke luar dari kamar dan
menuju ke kamar mandi. Dewi mengenakan celana jeans dan kaos merah. Di depan cermin dia menyisir rambutnya yang kusut.
Aku harus bisa mendapatkan kepastian pada
hari ini juga, tekad Dewi. Aku tak ingin terus
terombang-ambing begini. Kalau memang statusku janda harus secara resmi diselesaikan.
Perempuan manapun tak akan mau mengalami nasib seperti aku.
Resti masuk ke kamar dengan tubuh menggigil.
"Aku tak berani mandi, takut masuk angin," ujar perempuan itu.
"Jadi?"
"Ya cuma cuci muka saja."
"Kalau misalnya nanti aku tidak ketemu David
di rumahnya, kita temui dia di kantornya ya?"
"Boleh saja. Lalu kita ke sana mau naik apa?"
"Kan ada mobil Dedy. Kita sewa mobilnya hari ini."
"Kamu yang mau nyetir?" tanya Resti sambil
mengenakan pakaian.
"Sewa sekalian dengan sopirnya."
"Wah borongan."
"Tika sering begitu kok sama Dedy."
"Ya, sudah."
Dewi bangkit karena sudah selesai berdandan. Giliran Resti yang berdandan di depan kaca.Dewi ke luar kamar memanggil Minah yang sehari-harinya membantu penghuni tempat kost
itu. Minah ke luar dari dapur dan menghampiri
Dewi.
"Ada apa, non?"
"Nanti siang kalau ada tamu yang bernama Fendy mencari saya, tolong beri tahu suruh
menunggu. Bilang sama dia, saya pergi ke rumah tante ya?"
"Baik, Non."
Minah kembali ke dapur. Resti yang sudah
selesai berdandan telah siap untuk pergi. Lalu
mereka berdua menemui Dedy yang tinggal di
sebelah tempat kost itu. Kebetulan pagi itu Dedy
juga sudah siap untuk mengoperasikan mobilnya jadi taxi gelap.
"Dedy, antarkan kita yuk?" kata Dewi.
"Ke mana?" "Ke Krawang."
"Boleh, boleh. Nampaknya ada bisnis ya?"
"Ah, cuma ke rumah tante."
"Silakan." Dedy membukakan pintu mobil.
Dewi dan Resti duduk di jok belakang. Lalu Dedy
duduk di belakang stir. Dia menghidupkan mesin
mobil.
"Untung saja aku belum berangkat." lanjut
Dedy sambil meluncurkan mobilnya.
"Semalam aku lupa memberi tahu kamu kalau pagi ini aku ada urusan penting." sahut Dewi.
Mobil itu meluncur cepat di jalan Bypas. Sinar
matahari pagi terasa hangat menyentuh kulit Dewi.
Pada pagi seperti ini, kendaraan memadati jalan
raya. Namun Dedy yang begitu lincah mengendarai mobilnya paling pintar mengambil jalan pintas yang tidak macet.
Cuma satu jam perjalanan itu ditempuh.Di kota Krawang sudah dihafal betul oleh Dewi jalan
menuju ke rumah David. Sebab hampir setahun dia pernah tinggal di kota itu.
Menjalani hidup yang serba kesulitan bersama David. Malah dia pernah menjadi buruh di sebuah pabrik tekstil di perbatasan kota Krawang. Untuk membantu David yang pada saat itu masih nganggur. Pahit sekali keadaannya kala itu.
Pekerjaan David sebagai seniman pembuat patung dan relief sukar sekali dipastikan memperoleh order. Memang, sekali dapat order lumayan penghasilannya, tapi hanya bisa untuk membiayai hidup selama tiga bulan. Itupun harus irit. Menjalani hidup dengan penghasilan yang tidak menentu.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah kontrakan. Rumah yang sederhana itu pernah ditempati Dewi bersama David dulu. Dan
rumah itu sudah ditinggalkannya enam bulan yang lalu. Dia merasa tak tahan hidup bersama lelaki itu.
Sudah hidup serba kekurangan, lelaki itu adatnya
keras sekali. Sering menampar Dewi bila punya
kesalahan. Padahal dia sudah bersusah payah ikut membantu mencari nafkah bekerja di pabrik tekstil.