Aku masih memakai jaket Syuja di dalam bus, bahkan hoodie yang menutup kepala juga tak kuturunkan. Jam di pergelangan tanganku jarumnya sudah menunjuk angka 6, langit sudah mulai gelap dan hujan masih turun rintik-rintik. "Mau dijemput di halte, Dek?" tanya Ibu ketika kami bicara di telepon. "Nggak usah, Bu. Palingan nanti udah reda pas nyampe halte," tolakku. Aku tak tega kalau Ibu harus keluar untuk menjemputku di tengah kondisi hujan. Tapi rupanya hujan tak juga menunjukkan tanda akan reda ketika bus yang aku naiki sudah mendekati halte tempat aku turun. Menghela nafas pasrah, sepertinya aku harus berjalan menembus hujan kalau tak ingin kemalaman dan membuat ibu cemas. Netraku menatap lengan yang tertutup oleh jaket milik Syuja. "Yang ini baru, belum ada yang pakai kecuali aku."

