Minggu pagi, Farah datang main ke rumah. Aku menanyakan tentang pertandingan terakhirnya, dia banyak cerita tentang pertandingan hari itu dengan antusias. "Sebenarnya aku masih pengen main, Kay. Tapi sayangnya pertandingan minggu depan aku sama anak-anak kelas XII udah nggak dapat ijin dari sekolah." Dia tiduran di ranjang dan memainkan rubic sembari bercerita. "Sudah waktunya yang muda-muda juga buat gantiin." "Jangan sok tua deh!" sahut Farah sambil melemparkan bantal ke arahku, aku tertawa menangkapnya. "Emang dasarnya kalau di sekolah kita udah masuk daftar sesepuh kan?" candaku. "Dih, aku sih ogah dibilang sesepuh!" "Kamu nolak juga, tetep aja faktanya kamu ada dalam daftar itu!" Farah bergerak seolah hendak melemparkan rubic padaku, melihat ekspresi sebalnya, lagi-lagi aku d

