Senin pagi. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan sebelum melangkah masuk ke kelas. Syuja sudah duduk di bangkunya, seperti kebiasaannya selama ini, dia tengkurap dengan wajah menghadap ke jendela. Dengan ragu aku melangkah ke bangkuku. "Pagi, Yang!" sapa Luthfi, aku tersenyum kikuk. Teman-temannya secara bergantian menyapaku juga. Padahal aku harap Luthfi tak akan menyapa, biar Syuja tak sampai terbangun. Begitu sampai di tempatku, hanya sebagian dari sisi wajahnya yang bisa kulihat. Masih ada sisa lebam bekas perkelahian. Aku menaruh tas pelan dan duduk yang kucoba tak mengeluarkan sedikitpun suara. Aku benar-benar berharap dia tak akan terbangun. Tapi tepat saat aku meliriknya, Syuja justru membuka mata dan pandangan kami langsung bertemu. Selama beberapa deti

