Aku dan Farah berdiri di belakang dinding pembatas rooftop yang menghadap ke lapangan saat jam istirahat. Seperti biasa, lapangan sepak bola tampak ramai. Sedangkan lapangan basket dalam kondisi sebaliknya. Ketidakhadiran Syuja dan teman-temannya bukan hanya terasa saat di kelas, tapi juga di lapangan basket saat jam istirahat. "Aku pikir, lebih baik kamu bicara secepatnya sama Syuja," saran Farah sambil menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga. "Kenapa?" "Syuja ... gimana aku deskripsiin dia ya??" Farah seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri, "mmm ... dia tipe orang yang nggak suka bertele-tele sebenernya, dan biarin suatu masalah berlarut-larut terlalu lama." Aku menyimak Farah. Dalam hati, aku setuju dengan penilaiannya. "Kalau kamu terlalu lama nyelesaiin masalah sama

