Dari ruang tamu, aku bisa melihat bayangan Syuja yang duduk di salah satu kursi teras. Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dengan gugup, aku melangkah keluar menemui sosok yang tanpa sadar sudah bisa membuatku kesal seharian ini. Syuja terlihat berbeda, mungkin karena dia tak memakai seragam sekolah. Dia datang mengenakan jins berwarna gelap dan kaos hitam yang ditumpuk dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah-hitam, lengan kemejanya digulung sampai sebatas siku, rambutnya sedikit acak-acakan. Jaket parka yang pernah kukenakan, diletakkannya di lengan kursi. Saat melihatku, Syuja hanya menatapku sebentar lalu kepalanya tertunduk sambil memainkan jari-jarinya. "Ada apa?" tanyaku masih dalam posisi berdiri, aku mencoba mengatur detak jantungku sendiri yang masih tak karuan

