32. Adila

2312 Kata

Jantungku masih belum bisa berdetak dengan normal sejak melangkah keluar rumah. Memikirkan akan bertemu dengan orang yang telah lama kunanti, membuat berdebar-debar. Seperti apakah wajah Ibu? Apakah sama dengan bayanganku selama ini? Aku sangat menanti hari pertemuan kami. Rupa Ibu sudah aku ukir dalam hati. Setiap hari, aku memandang foto Ibu yang lusuh. Hampir sembilan belas tahun berlalu, Ibu pasti sudah banyak berubah. Aku mulai membayangkan bagaimana wajah Ibu sekarang dan itu membuatku tersenyum sendiri. Beruntung jalanan sedang sepi, jadi tidak akan ada yang meledekku. Wajar bukan kalau aku antusias begini. Orang yang telah lama dinanti, akhirnya muncul di hadapan kita. Rasanya setiap kalimat yang diucapkan untuk bersyukur tidak akan cukup. Aku rela membalas dengan apa pun kebahag

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN