Mataku menatap nanar kejadian yang tengah berlangsung di depanku. Siapa pun, tolong, katakan kalau ini hanya mimpi buruk di siang hari. Mana mungkin ada kebetulan yang sangat menyakitkan begini. Dari sekian banyak orang di dunia, mengapa harus dia yang menjadi ibu Adila. Mengapa? Sekarang, bagaimana bisa aku menatap Adila tanpa mengingat wanita yang menyakiti Mama? Naziha. Aku selalu ingat nama yang disebutkan oleh Mama saat mengenalkan sebagai temannya. Kala itu, aku menyukai sikap baik Tante Naziha. Sebagai seorang wanita, dia sangat cantik dan menyenangkan. Tidak heran kalau pada akhirnya Papa jatuh hati pada Tante Naziha. Apa lagi Mama sudah tiada. Papa seakan lebih bebas memilih. Mulai saat itulah aku membenci sahabat Mama. Aku berpikir kalau Tante Naziha sengaja mendekati Papa. Mun

