34. Adila

1871 Kata

“Jadi, kamu bakal tinggal sama ibumu?” “Bukan tinggal sama Ibu, Va. Aku cuma pengin lihat kehidupan Ibu sebentar. Lagian aku pergi tiga atau empat hari.” “Kapan pergi?” “Rencananya akhir bulan. Paling tiga atau empat hari di sana. Aku enggak bisa lama-lama di sana, kasihan Ayah kalau aku tinggal kelamaan. Kamu mau ikut?” “Kenapa aku harus ikut?” “Ya, biar aku enggak kesepian. Ibu, kan, enggak punya anak.” Ada rasa perih memikirkan kenyataan kalau Ibu tidak bisa dianugerahi anak lagi. Rahim Ibu harus diangkat karena pernah mengalami keguguran dan pendarahan hebat. Bertahun-tahun Ibu hidup kesepian dan berusaha mencariku. Perlu usaha keras untuk menemukanku di sini. Beruntung Ibu punya suami hebat yang bisa membantunya. Omong-omong soal suami Ibu, namanya adalah Om Kalvin. Dia pengusa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN