Mataku masih mengawasi Adila yang menyilangkan tangan di d**a sambil menyandarkan tubuh di rak salah satu buku. Tangan kananku mencengkeram erat sebuah buku yang sudah ingin k****a sejak lama. Lalu, aku beralih menatap antrean yang masih mengular. Kapan hal ini akan berakhir? Sikap ini memang terlihat seperti pengecut tingkat dewa. Ke mana keberanianku selama ini pergi? Padahal Adila tidak tahu apa-apa. Setidaknya itulah yang aku yakini. Kalau dia tahu aku adalah anak dari pria yang dinikahi ibunya, apa dia masih diam begitu? Meski terdengar terlalu percaya diri, aku tadi bisa melihat kalau Adila ingin menyapaku. Sayang, aku sudah syok sebelum bisa memikirkan apa pun. Parahnya lagi, aku berlari secepat kilat agar Adila tidak melihatku. Aku akan bersyukur kalau dia menganggap tidak meliha

