“Kamu sebenarnya memikirkan apa, sih, Dil?” “Hah? Aku? Bukan apa-apa.” “Hah? Aku? Bukan apa-apa,” kata Diva menirukan ucapanku. “Jawaban macam apa itu. Jelas-jelas kamu sedang memikirkan sesuatu. Kamu masih berpikir kalau Arvino itu saudara tiri kamu?” “Kamu juga bakal mikir begitu kalau dengar perkataan Ayah.” “Memang ayahmu bilang apa?” Kata-kata Ayah kemarin mengacaukan pikiranku. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk menghubungi Ibu. Tapi, aku terlalu khawatir kalau Ibu merasa didesak. Masalahnya, aku kenal dengan Arvino dan ingin tahu kisah pria itu. Sepanjang malam, aku terus memikirkan bagaimana cara mengatakan hal ini pada Ibu. Baiklah. Aku mengaku kalau cerita kali ini sangat menarik perhatian. Kalian juga akan merasa penasaran kalau berada di posisiku, bukan? Apa ya

