“Loe enggak pengin bulan madu, Bos?” tanya Danu. “Bukannya enggak mau, tapi enggak bisa. Kita sedang sibuk menyiapkan produk pakan dan Adila masih harus ujian. Mungkin kami akan pergi lain kali.” “Gue masih belum percaya loe sama Adila sudah menikah. Rasanya kayak mimpi.” “Jangankan loe. Gue saja belum percaya kalau Adila sekarang istri gue. Bidadari gue.” “Lebay loe. Kayak Adila yang paling cantik saja.” “Loe juga sering bilang kalau istri loe cewek yang paling cantik,” cibirku. “Ternyata kita sama saja, ya,” ujar Danu, lalu tertawa. Pada kenyataannya, aku memang belum bisa memercayai kenyataan kalau Adila sudah menjadi istriku. Semuanya berjalan dengan cepat dan nyaris tanpa hambatan. Aku senang pernikahanku dan Adila lancar sampai akhir. Tentu saja aku juga mengucapkan ijab kabul
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


