“Wah, pengantin baru selalu ingin pulang cepat, ya,” ledek Diva. Aku tersenyum lebar. “Kenapa? Yang belum menikah iri, ya?” “Sekarang bahkan sudah pintar meledek. Perkembangan yang perlu diacungi jempol. Si Arvino itu memang sangat memengaruhimu, kan?” “Suami istri memang saling memengaruhi. Kalau nanti kamu menikah, kamu juga akan tahu maksudku,” ujarku, masih dengan senyum. Memang begitulah kenyataannya. Aku dan Arvino memang saling memengaruhi. Aku yang biasanya tidak terlalu suka pedas, jadi suka pedas, mengikuti Arvino. Begitu juga dengan Arvino yang suka bangun telat. Dia jadi terpengaruh olehku yang bangun lebih awal. Kami bahkan beribadah malam bersama. Arvino mengajakku tinggal di rumahnya yang cukup besar. Aku senang berada di sini. Lingkungannya tidak terlalu ramai, tapi ju

