“Kamu sudah siap, kan, Nak?” Tanganku masih sedikit gemetar setelah Ayah mengatakan kalau Arvino sudah menyampaikan niatnya untuk melamarku. Jadi, aku benar-benar akan menikah? Mengapa aku merasa sedikit takut, ya? Aku mungkin akan lebih tenang kalau ada Ibu yang mendampingi Ayah. Tapi, itu sepertinya agak sedikit sulit. Entah bagaimana aku bereaksi pada pertanyaan Ayah. Aku menyukai Arvino dan memang bersedia menikah dengannya. Tapi jika itu dilakukan dalam waktu dekat, apa aku siap? Ada banyak hal yang belum aku kerjakan. Aku belum menyelesaikan kuliah. Aku juga belum pernah bekerja. Bagaimana kalau aku hamil duluan? Ya, Allah. Bagaimana ini? Ayah tampak jelas mengharapkanku mengatakan siap. Lagi pula, Arvino sudah menguasai pikiranku. Kalau terus begini, aku akan terjatuh dalam kuban

